Loading...

KONSEP DASAR DAN PENERAPAN PHT PADI SAWAH DI TINGKAT PETANI

KONSEP DASAR DAN PENERAPAN PHT PADI SAWAH DI TINGKAT PETANI
Salah satu permasalahan usahatani padi adalah gangguan Organisme PenggangguTanaman (OPT) yang dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil bahkan sampai menyebabkan kegagalan panen. Dalam pengendalian OPT, pemerintah sudah mengintroduksikan teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan carapengendalian OPT yang benar berwawasan lingkungan. PHT memiliki beberapa prinsip yang khas, yaitu: (a). Sasaran PHT bukan eradikasi atau pemusnahan hama tetapi pembatasan atau pengendalian populasi hama sehingga tidak merugikan. (b). PHT merupakan pendekatan holistic maka penerapannya harus mengikutsertakan berbagai disiplin ilmu dan sector pembangunan sehingga diperoleh rekomendasi yang optimal. (c). PHT selalumempertimbangkan dinamika ekosistem danvariasi keadaan sosial masyarakat maka rekomendasi PHT untuk pengendalian hamatertentu juga akan sangat bervariasi dan lentur. (d). PHT lebih mendahulukan proses pengendalian yang berjalan secara alami (non-pestisida), yaitu teknik bercocok tanam dan pemanfaatan musuh alami seperti parasit, predator, dan patogen hama. Penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana dan hanya dilakukan apabila pengendalian lainnya masih tidak mampu menurunkan populasi hama. (e). Program pemantauan atau pengamatan biologis dan lingkugan sangat mutlak dalam PHT karena melalui pemantauan petani dapat mengetahui keadaan agro-ekosistem sawah pada suatu saat dan tempat tertentu,menganalisis untuk memilih tindakan pengelolaan tanaman yang benar. Konsep Dasar Pengendalian Hama Terpadu tersebut terdiri dari 5 Konsep Antara Lain: 1. Teknologi budidaya yang benar. Komponen teknologi budidaya yang benar pada dasarnya bisa mengacu pada komponen teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi 2. Pemanfaatan musuh alami (biologicalcontrols). Musuh alami berimplikasi terhadap peningkatan efisiensi produksi akibat penurunan biaya pemakaian pestisida an-organik yang sekaligus meminimalkan terjadinya pencemaran terhadap produk maupun lingkungan. Pengendalian secara mekanik dan fisis. Cara mekanis dilakukan denganmenggunakan berbagai alat danfisis melalui pemanfaatan factorfisis seperti suhu panas atau dingin,suara,kelembaban dan lain-lain. 4. Penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati tidak langsung membunuh hama tetapi sebagai upaya mengusir hama dari tanaman,mengurangi nafsu makan dan diharapkan berlanjut dengan kematian 5. Penggunaan pestisida an-organik secara bijaksana. Petani diperbolehkanmenggunakan pestisida an-organikapabila sebelumnya sudah melaksanakanusaha pencegahan tetapi belummemberikan hasil optimal dan populasihamamasih di tingkat ambang ekonomis. Introduksi teknologi PHT dimulai dengan melakukan pelatihan petugas untuk diteruskan ke petani dengan nama Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Pelatihan SL-PHT pada dasarnya mencakup empat prinsip, yaitu Petanimampu untuk mengusahakan budidayatanaman sehat Pelestarian dan pemanfaatan musuh alami Pengamatansawah secara berkala Petani mampumenjadi manager dalam usaha tani Keragaan adopsi komponen teknologi PTT Padi dan permasalahan yang dihadapi petani dalam penerapan PHTsebagai berikut.: Komponen teknologi budidaya sehat. Adapun komponen teknologi lain yang relatif sulit diterapkan adalah: Penanaman bibitmuda (<21 hari) dan penanaman bibit satu hingga tiga batang per rumpun Pengairan secara efektif dan efisien(intermiten) paling sulit diterapkan karena umumnya sawah tadah hujan. Di beberapa lokasi petani masih kesulitanmenerapkan sistem tanam jajar legowodengan alasan belum terbiasa dan membutuhkan biaya tanam lebih banyak. Pemanfaatan musuh alami. Selama ini, petani padi relatif masih kurang memanfaatkan keberadaan musuh alami, apalagi melakukan upaya pelestarian, Penggunaan pestisida nabati. Petani pada umumnya kurang tertarik menggunakan jenis pestisida nabati dikarenakan pestisida nabatitidak bereaksi cepat membunuh hamasehingga petani lebih memilih pestisidakimia. Pengamatan populasi hama danpenetapan ambang ekonomis. Dikarenakan berbagai alasan, petani merasakan berat melakukan pengamatan OPT sesuai panduan, pengamatan dilakukan dengan cara melihat pertanaman padi di pematang melihat adanya gejala serangan. Selain itu, tingkat ambang ekonomis tidak. Ditulis oleh Riko (penyuluh PNS) Sumber : Yusuf, A., Akmal, & D. Harmowo. 2011. Teknologi Budidaya Padi Sawah Mendukung SL-PTT Di Sumatera Utara. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Sumatera Utara