Loading...

KONSTRUKSI FEROSEMEN DI SALURAN IRIGASI TERSIER

KONSTRUKSI FEROSEMEN DI SALURAN IRIGASI TERSIER
Peranan Saluran Irigasi dalam menyalurkan air irigasi sangat menentukan, sehingga kerusakan saluran akan sangat berdampak terhadap penyediaan air irigasi di lapangan. Untuk saluran irigasi primer dan sekunder yang merupakan tanggung jawab pemerintah, baik pembangunan maupun pemeliharaannya biasanya sudah cukup baik dan berfungsi. Namun demikian untuk saluran irigasi tersier yang menyalurkan air langsung ke petakan, jarak sekian meter dari pintu sadap sepenuhnya merupakan tanggung jawab petani pemakai air yang terhimpun dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Berdasarkan pengalaman perbaikan saluran irigasi tersier secara manual untuk lokasi tertentu, khususnya untuk saluran terjal dan debit air tinggi keadaan saluran sering rusak apabila tidak dilapisi semen . Sementara itu apabila seluruh jaringan dilapisi semen tentunya membutuhkan biaya yang mahal sekalipun pemeliharaan relatif kecil. Untuk mengurangi biaya, mempercepat dan mempermudah pelaksanaan dilapangan, salah satu teknologi pelapisan jaringan adalah melalui ferosemen. Dengan teknologi ini pelapisan secara petakan , sehingga apabila ada yang pecah cukup diganti per petakan yang mempermudah pemeliharaan.Berikut disampaikan teknologi ferosemen sebagai berikut : Ferosemen adalah beton tipis (3-4) cm, dengan tulangan besi ? 6,00 mm, yang dilapisi kawat anyam atau jala sebagai tulangan susut, yang terbuat dari campuran pasir ? 2,50 mm, semen dan air, dengan atau tanpa bahan tambah dan membentuk masa padat. Keuntungan menggunakan ferosemen diantaranya : efisien dalam pengerjaan, efisien dalam kehilangan air, efisien dalam pengoperasian dan perawatan.Berikut ini persyaratan teknis dalam teknologi ferosemen: Bahan yang digunakan diantaranya: (1) Semen Portland biasa (tipe I) atau yang lain jika diperlukan sifat – sifat khusus untuk mengatasi keadaan sekelilingnya. (2) Agregat Halus (Pasir) dengan kriteria: bahan ini harus menempati (70 – 95) % dari volume mortar; bebas dari kandungan organic, garam (laboratorium); kekekalan agregat (soundness) ? 0,5 % (laboratorium); bebas dari kandungan lumpur, ? 1,00 %; gradasi baik (well graded sand); Maksimum ukuran butiran (diameter) ? 5,00 mm (laboratorium). (3) Air harus bersih/ bebas dari pencemaran bahan kimia, limbah industry, kandungan organik, kandungan garam, kandungan lumpur dan bahan lain yang dapat mempengaruhi daya ikat mortar terhadap tulangan dan kuat tekanan air harus tersedia cukup serta ditampung pada suatu tempat yang bersih dan terlindung dari pencemaran bahan – bahan lain.Kerangka Tulangan atau Baja tulangan berfungsi sebagai rangka untuk memperoleh bentuk yang diinginkan dan sebagai tempat untuk memasang kawat anyam/ jala. Bukan berfungsi sebagai tulangan struktur. Kawat Anyam/ Jala dengan kriteria: Ukuran, bentuk, kekuatan, kekakuan, cara membuat dan galvanisir, akan sangat mempengaruhi sifat dan kekuatan ferosemen yang akan dibentuk; Ferosemen menggunakan kawat jala sebagai penahan mortar pada saat masih basah dan penahan beban tarik setelah kering; Kawat, dianyam/las, Ø ? 1/6 in (1,5 mm); Lebar bukaan (10 – 25 ) mm; Kawat anyam harus baik, mudah dibentuk dan mudah dicari dipasaranPerbandingan Campuran yaitu Perbandingan adukan ferosemen yang dinyatakan dalam perbandingan berat: (1) Rasio semen – Pasir (dalam berat) = 1 : 2 dan (2) Rasio Air – Semen (dalam berat) = 35 % sampai dengan 50 %.Diharapkan dengan Konstruksi Ferosemen ini sekalipun relatif sulit dan mahal, tetapi hasil yang didapat lebih permanen dan tahan lama, serta mudah dan murah dalam pemeliharaan. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : ali_bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, 2012, Konstruksi Ferosemen di Saluran Irigasi Tersier, kementerian pertanian RI.