Dalam upaya mengoperasionalkan konsep diversifikasi konsumsi pangan, FAO Regional Office for Asia and the Pasific (RAPA) pada tahun 1989 mengadakan pertemuan dengan para ahli pangan dan gizi di Bangkok, dan merumuskan komposisi pangan ideal yang terdiri dari 57 – 68 % karbohidrat, 10 – 13 % protein, dan 20 – 30 % lemak. Rumusan ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk energi dari sembilan kelompok pangan yang dikenal dengan istilah Pola Pangan Harapan (PPH). Pola konsumsi pangan di Indonesia masih belum sesuai dengan pola pangan ideal yang tertuang dalam PPH. Konsumsi kelompok padi-padian (beras, jagung dan terigu) masih dominan, baik di kota maupun di desa.Dalam konsep PPH, setiap kelompok pangan dalam bentuk energi mempunyai pembobot yang berbeda tergantung kepada peranan masing-masing kelompok pangan terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia. Sebagai contoh, pembobot pada kelompok padi-padian, umbi-umbian dan gula hanya 0,5 karena pangan tersebut hanya sebagai sumber energi untuk pertumbuhan manusia. Sebaliknya, pangan hewani dan kacang-kacangan sebagai sumber protein yang berfungsi sebagai pertumbuhan dan perkembangan manusia mempunyai pembobot 2, dan sayuran dan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral, serat, dan lain-lain mempunyai pembobot 5. Dengan mengkalikan proporsi energi dengan masing-masing pembobotnya, maka dalam konsep PPH akan diperoleh skor sebesar 100. Pola Konsumsi Pangan Masyarakat IndonesiaPada umumnya pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih lebih rendah dari yang dianjurkan, sehingga skor PPH belum mencapai 100, kecuali kelompok padi-padian (beras, jagung, terigu). Kelompok padi-padian masih mendominasi pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia, baik di kota maupun di desa. Pangsa konsumsi pangan sumber lemak dan minyak, serta gula sudah berlebih, sehingga perlu diwaspadai karena dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan tubuh, terutama berupa penyakit degeneratif, seperti tekanan darah tinggi, jantung dan diabetes. Sementara itu, pangsa konsumsi energi dari umbi-umbian masih sekitar setengah dari yang dianjurkan, padahal di Indonesia tersedia berbagai jenis umbi-umbian dengan harga yang relatif murah. Demikian pula pangsa konsumsi pangan hewani dan kacang-kacangan sebagai sumber protein; serta sayuran dan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan mineral, serat, dan lain-lain, masih lebih rendah dari yang dianjurkan Tingkat konsumsi sayurData Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2009 menunjukkan bahwa dibandingkan dengan negara-negara Asia lain, masyarakat Jepang menduduki posisi tertinggi dalam konsumsi buah dan sayur, yaitu 150 kilogram per kapita per tahun, sedangkan masyarakat Indonesia pada tahun 2009 hanya mengonsumsi sayuran sebesar 40,09 kg per kapita per tahun. Walaupun tingkat konsumsi sayuran ini sudah meningkat dibandingkan dengan data tahun 2006, yaitu sebesar 34,15 kg/kapita/tahun (data Susenas), namun tingkat kosumsi ini masih berada dibawah standar FAO untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, yaitu minimal 65 kg/kapita/tahun. Untuk itu sosialisasi akan manfaat dan nilai gizi sayuran perlu lebih digalakkan lagi, serta diintegrasikan dengan kampanye penyadaran masyarakat untuk mengonsumsi berbagai jenis sayuran dalam menu makan sehari-hari secara teratur, hingga mencapai minimal 200 gram per orang per hari. Tingkat konsumsi buah dan sayurKonsumsi buah masyarakat Indonesia pada tahun 2009 hanya sebesar sebesar 32,59 kilogram per kapita per tahun. Pangsa konsumsi ini masih lebih rendah dari rekomendasi Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebanyak 73 kilogram per kapita per tahun. Tingkat konsumsi berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih berkisar 2,5 porsi per orang hari, sementara WHO menganjurkan agar setiap orang mengonsumsi buah dan sayur sebanyak 400 gram per hari yang setara dengan 2 – 4 porsi buah dan 3 – 5 porsi sayur. Menurut Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof.Dr.Ir Tien R Muchtadi, rekomendasi WHO ini sangat beralasan, mengingat kekurangan asupan buah dan sayur dapat meningkatkan resiko kematian akibat kanker saluran cerna sebesar 14 %, resiko kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 11 %, dan resiko kematian akibat stroke sebesar 9%. Kontribusi Sayuran dalam Membentuk Pola Konsumsi Pangan Sayuran dan buah-buahan memberi kontribusi dalam membentuk pola konsumsi pangan melalui kandungannya yang kaya akan vitamin, mineral, serat, enzim pencernaan, dan air yang diperlukan oleh tubuh manusia serta tidak terdapat pada suplemen atau produk makanan lain. Walaupun hanya diperlukan tubuh dalam jumlah yang sedikit, namun kontribusi sayuran dan buah-buahan dalam memenuhi kebutuhan akan vitamin dan mineral sebagai zat pengatur dan pelindung sangat penting untuk mendorong pertumbuhan sel-sel tubuh serta menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh. Serat pada sayuran dan buah-buahan yang tidak bisa dicerna tubuh memberi efek laksatif atau membantu aktivitas kerja usus sehingga memperlancar pembuangan faeces. Banyak fungsi sayuran yang tidak dapat digantikan oleh bahan pangan lain, terutama fungsi antioksidan, serat dan berbagai senyawa karotenoid, likopen, dan sebagainya. Berbagai jenis sayuran merupakan sumber vitamin, khususnya Vitamin C atau asam askorbat; karoten (pro-vitamin A); berbagai Vitamin B, khususnya asam folat; dan mineral, khususnya Kalsium (Ca) dan zat besi (Fe). Berikut ini diberikan beberapa contoh kandungan vitamin pada sayuran, antara lain:1. Kangkung: Vitamin A, zat besi, protein (nabati) ,Kalsium;2. Kacang panjang: Vitamin B, Vitamin C, Kalsium, protein (nabati), Fosfor;3. Brokoli: Vitamin A B dan C, Kalsium, Fosfor dan zat besi;4. Terung: Fosfor; K5. Kubis: Vitamin C, Fosfor dan zat besi. Ditinjau dari segi kesehatan preventif, menu makanan yang kaya akan sayuran dapat mengurangi resiko tejadinya kanker paru-paru, penyakit pembuluh koroner dan diabetes, serta berfungsi dalam perawatan ginjal dan syaraf penderita diabetes. Senyawa likopen yang terdapat pada tomat dan sayuran lain juga bersifat anti oksidan yang dapat mencegah terjadinya kanker jaringan epithel. Kandungan karotenoid pada sayuran, yaitu senyawa isoprenoid yang bersifat "sangat tidak jenuh", berkemampuan tinggi untuk menangkap radikal bebas pencetus timbulnya kanker. Selain itu, beberapa studi juga menunjukkan bahwa konsumsi sayuran secara teratur dapat memperpanjang usia dan mencegah proses degeneratif organ penting tubuh, termasuk otak.Kontribusi Buah dalam Membentuk Pola Konsumsi Pangan Beberapa jenis buah-buahan merupakan sumber vitamin, antara lain:1. Vitamin C: jeruk, jambu biji, mangga, markisa, nenas, papaya, sirsak, belimbing, jambu biji;2. Vitamin A: apel, alpukat, pisang, pepaya, jeruk, semangka, belimbing, jambu biji, mangga, markisa, nenas;3. Vitamin B: alpukat, nenas, jeruk, jambui biji, mangga, sirsak; 4. Vitamin E: alpukat;5. Mineral: anggur, apel, alpukat, belimbing, jeruk, delima, jambu biji, mangga, manggis, markisa, nenas, pisang, papaya, semangka, sirsak.Selain itu, asupan sayur dan buah-buahan dalam pola konsumsi pangan keluarga sehari-hari juga bermanfaat bagi kesehatan manusia dalam fungsinya sebagai obat. Untuk itu, diharapkan masyarakat Indonesia terdorong untuk terus meningkatkan asupan sayuran dan buah-buahan dalam pola konsumsi pangan sehari-hari sampai sesuai dengan rekomendasi FAO dan WHO, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (Penulis: Ir. Diana Prasastyawati, M.Si, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, alamat e-mail: dianapras@gmail.com)Sumber informasi:1. Anonymous, 2010. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 -2014: Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura. 2. Anonymous, 2006. Buku Tahunan Hortikultura Seri Tanaman Sayuran. Jakarta: Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura.3. Anonymous, 2009. Budidaya Sayuran di Pekarangan. Jakarta: Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura.4. F.Rahardi, Rony Palungkum dan Asiani Budiarti. 2006. Agribisnis Tanaman Sayur. Jakarta: Penebar Swadaya.