Loading...

KONVERSI "HUTAN MANGGIS" MENJADI KEBUN MANGGIS

KONVERSI "HUTAN MANGGIS" MENJADI KEBUN MANGGIS
Manggis termasuk salah satu komoditas utama hortikultura. Manggis merupakan primadona ekspor buah nasional dan penghasil devisa terbesar dari ekspor buah segar. Pasar dunia untuk manggis masih sangat terbuka, sehingga potensi peningkatan ekspor manggis masih sangat besar. Sasaran produksi manggis di tingkat nasional dari tahun 2010 - 2014 terus mengalami peningkatan, yaitu mulai dari 84,538 ton (2010), menjadi 97,487 ton (2011), 102,361 ton (2012), 107,409 ton (2013) dan 113,096 dengan wilayah produksi utama di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Jawa Tengah. Data BPS yang diolah oleh Direktorat Jenderal Hortikultura menunjukkan bahwa produksi manggis pada tahun 2012 mencapai 190.287 ton, dari 1.785.009 pohon tanaman hasil, dengan rata-rata hasil 106,61 kg/ha. Namun demikian, pada umumnya manggis masih dibudidayakan secara belum intensif atau dihasilkan dari "hutan manggis", yang antara lain dicirikan dari tidak teraturnya jarak tanam, terlalu dekatnya jarak antarpohon manggis atau jarak antara pohon manggis dengan tanaman lain, serta tidak adanya pemeliharaan. Selain itu dalam "hutan manggis" seringkali tanaman manggis dijumpai di pinggir lereng dengan akar terbuka yang mengindikasikan terjadinya tingkat erosi yang tinggi. Hal ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan manggis, yang selanjutnya berdampak terhadap rendahnya produktivitas (hanya sekitar 40 – 60 % dari potensi produksi) dan mutu buah. Mengingat peluang peningkatan produksi produktivitas dan mutu buah manggis masih terbuka, maka diperlukan upaya perbaikan manajemen penanganan pra panen, budidaya sampai dengan pascapanen, yang dilakukan sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) berbasis Good Agriculture Practices (GAP) untuk dapat menghasilkan hasil buah yang optimal. Dengan menerapkan budidaya tanaman manggis sesuai dengan SOP berbasis GAP tersebut, maka petani dan pelaku usaha buncis dapat mengimbangi tuntutan konsumen terhadap produk hortikultura kini tidak hanya terhadap rasa, namun juga terhadap penampilan fisik seperti keseragaman ukuran, warna dan bentuk; kemulusan kulit buah; kematangan yang seragam; kemasan; harga yang sepadan dan terjangkau; daging buah yang baik; serta aspek keamanan produk untuk dikonsumsi, dan kelestarian lingkungan. Langkah-langkah konversi "hutan manggis" menjadi kebun manggisDibandingkan dengan "hutan manggis", kebun manggis memiliki ciri-ciri: jarak tanam lebih teratur; ada teras di areal berlereng untuk mengurangi erosi; tanaman manggis lebih sehat; produktivitas dan mutu produk lebih baik. Untuk menciptakan kebun manggis, meningkat diperlukan langkah-langkah perbaikan sebagai berikut:1. Pengaturan jarak tanam, dilakukan dengan menandai tanaman yang tidak produktif atau tidak sehat yang akan ditebang, lalu melakukan penebangan sekaligus pemotongan ranting tanaman agar intensitas cahaya matahari dapat masuk secara optimal, serta memindahkan tanaman yang masih kecil ke lahan lain;2. Pemindahan tanaman yang masih kecil, dilakukan dengan cara menggali tanah di seputar pohon dengan hati-hati, sehingga sesedikit mungkin merusak perakaran manggis, lalu membungkus akar manggis beserta tanah di sekitar perakaran dengan karung. Selanjutnya cabut tanaman yang sudah digali dan pindahkan ke lubang tanam di lahan lain yang sudah disiapkan sebelumnya; 3. Pembuatan teras di areal berlereng, dengan cara membersihkan areal dari tunggul-tunggul kayu dan akar, lalu membuat lubang galian tanah di sekeliling pohon sedalam 50 - 80 cm untuk pemupukan. Kemudian angkat tanah ke atas teras sampai batas pinggir kanopi, sehingga menutup minimal setengah luasan kanopi pohon manggis yang diteras. Selanjutnya lakukan pengerasan tanah pada teras buatan, serta buat penahan tanah pada sisi bedeng lahan yang diteras. Bekas galian tanah dapat dimanfaatkan untuk menjaga drainase, menghindari erosi dan sebagai tempat untuk memasukkan serasah daun dan pupuk kandang. Upaya lain untuk mencegah atau mengurangi laju erosi tanah disarankan untuk memberikan jerami dan menanam tanaman penutup tanah di sekitar tanaman manggis. Lebih baik gunakan tanaman penutup tanah dari jenis kacang-kacangan yang dapat meningkatkan kesuburan (nitrogen) tanah ;4. Perbaikan kesehatan lahan, dengan cara melakukan pemupukan organik (pupuk kandang) dan anorganik (urea, KCl, TSP) untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara, serta pengapuran untuk meningkatkan pH tanah dan ketersediaan unsur hara;5. Pemangkasan, dilakukan terhadap tunas air, cabang yang tidak produktif, cabang yang kering/mati, cabang yang mengarah ke dalam dan cabang yang terserang penyakit, dengan cara memangkas ranting yang ada dalam tajuk sampai lapisan ke sembilan dari pangkal cabang utama (pemangkasan dilakukan setelah panen);6. Panen, dilakukan secara manual (dengan tangan) atau bila pohon sudah tinggi dengan cara memanjat atau dengan bantuan galah berkeranjang. Pemanenan dilakukan secara hati-hati agar kelopak buah atau sepal tetap utuh dan kerusakan buah dapat diminimalkan;7. Pengangkutan hasil panen, dilakukan dengan cara hati-hati untuk menghindari kerusakan buah akibat benturan selama proses pengangkutan ke tempat pengumpulan (packing house) untuk mendapat perlakukan pascapanen;8. Pasca panen, meliputi pembersihan kotoran pada buah yang dipanen, sortasi, pengkelasan (grading), dan pengepakan guna memperoleh buah yang seragam, baik dalam ukuran, warna, maupun tingkat kematangannya.Penulis; Diana Prasastyawati/Penyuluh Pertanian Pusat.Sumber informasi:1. Anonim. 2010. Standar Operasional Prosedur (SOP) Buncis. Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian2. Anonim. 2010. Konversi "Hutan Manggis" Menjadi Kebun Manggis. Pusat Kajian Buah Tropika, LPPM - Institut Pertanian Bogor3. Anonim. 2011. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 - 2014, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian