Loading...

Koro Pedang Potensial sebagai Bahan Baku Tempe

Koro Pedang Potensial sebagai Bahan Baku Tempe
Hampir 80% kedelai di Indonesia digunakan untuk industri tempe dantahu. Industri dua bahan pangan sumber protein ini telah menjadisumber pencaharian penting bagi masyarakat Indonesia.Oleh karenaitu, sangat beralasan apabila pemerintah memberikan perhatianbesar terhadap kedelai. Upaya yang tidak kalah pentingnya ialahmemberdayakan kacang-kacangan selain kedelai sebagai bahan bakutempe, seperti koro pedang (Canavalia ensiformis). Koro pedang adalah salah satu dari sekian aneka jenis kacang yang potensinya luarbiasa untuk "mendampingi" kedelai. Tanamannya tergolong perdu dengan batang bercabangpendek dan lebat.Tinggi tanaman mampu mencapai 1 m. Bunga majemuk berada pada bukucabang, berwarna kuning.Tanamanmulai berbunga pada umur2-3 bulan.Bunga akhirnya berkembangmenjadi 1-3 polongbesar per tangkai. Panjang polong30 cm dan lebar 3,5 cm. Polongmuda berwarna hijau dan setelahtua menjadi kuning jerami. Bijiberwarna putih dan dapat dipanenterus-menerus mulai umur 4-6bulan.Beberapa jenis yangberumur dalam memerlukan waktulebih lama (9-12 bulan) untukdapat dipanen.Koro pedang mampu tumbuhpada lahan marginal.Perakaranyang cukup dalam merupakansalah satu bentuk adaptasi tanamanuntuk bertahan di lahan kering.Dengan demikian, budi daya koropedang tidak bersaing dengantanaman lain seperti kedelai untukmemperebutkan lahan subur.Kadar protein koro pedangtergolong tinggi, lebih dari 27%.Seperti kedelai dan kacangkacanganpada umumnya, koropedang juga mengandung zatantigizi. Namun, zat tersebuthampir pasti dapat dihilangkanselama proses pengolahan. Salahsatu zat antigizi yang sempatdikhawatirkan dan terdapat didalam biji koro pedang adalahlektin Concanavalin A (Con A)yang sifatnya tahan panas danmemiliki aktivitas hemaglutinasi.Namun, penelitian terbaru diBalitbangtan (BB Pascapanen)membuktikan bahwa aktivitashemaglutinasi protein tersebutdapat dihilangkan secarasempurna melalui perendamanyang diikuti dengan pemanasantinggi maupun fermentasi. Dalam beberapa tahun terakhir,para peneliti mulai mengeksplorasikandungan danmanfaat komponen bioaktif dalambiji koro pedang.Koro pedangdilaporkan merupakan sumbersenyawa fenolik dan flavonoid,yang keduanya memiliki aktivitasantioksidan sebagai penangkalradikal bebas. Con A di satu sisimemang merupakan zat antigizi,namun Con A juga memilikimanfaat luas. Con A dilaporkansebagai molekul antiviral dan iunomodulator untuk terapikanker. Tim peneliti Balitbangtanberhasil mengungkap bahwatempe koro pedang mengandungpeptida aktif yang mampu menghambataktivitas angiotensinconverting enzyme, suatu enzimyang bertanggung jawab terhadappeningkatan tekanan darah.Aktivitas penghambatannya jauhlebih baik dibanding peptide serupa dari tempe kedelai. Tempe Koro Pedang; Proses pembuatan tempe kedelaipada dasarnya dapat diadopsiuntuk produksi tempe koropedang. Kulit ari yang tebal danukuran biji yang besar (2-3 kali bijikedelai) merupakan hal pertamayang harus disiasati agar perajinbersedia memanfaatkan koropedang sebagai bahan bakutempe. Balitbangtan melalui BBPascapanen telah menyediakanteknologi untuk mengupas danmencacah biji koro pedang.Pencacahan ini penting agarpermukaan biji cukup luas untukpertumbuhan ragi tempe. Koropedang cacah dapat disediakanoleh kelompok tani dan diperjualbelikansehingga perajin tempedapat langsung memprosesnya.Melalui cara ini, petani dapatmenikmati nilai tambah koropedang. Secara teoritis, harga korocacah siap proses bisa bersaingdengan kedelai.Tempe koro pedang berbedasifatnya dengan tempe kedelai.Tempe koro pedang tidak tahanlama, namun hal ini dapat diatasidengan mendistribusikan produkdalam bentuk tempe potong dalamkemasan. Seperti halnya tempedan tahu kedelai, aneka produkturunan dapat dihasilkan daritempe dan tahu koro pedang. Pengembangan Koro Pedang; Untuk meningkatkan produksikedelai, pemerintah memberikanbantuan kepada petani berupasarana produksi seperti benihmaupun pupuk. Bantuan serupamestinya juga diberikan kepadapetani yang memproduksi koropedang dan perajin tempe koropedang. Bantuan yang dibutuhkandi antaranya mesin pengupasdan pencacah koro pedang sertabimbingan teknis proses produksi.Sudah bukan rahasia lagi produksitempe umumnya dilakukan olehperajin dengan menggunakanperalatan seadanya. Bantuanperalatan ini mungkin bisa menjadisalah satu insentif bagi perajin yangbersedia memproduksi tempeberbahan baku koro pedang.Dari sisi konsumsi, masyarakatjuga harus dibiasakan menerimatempe koro pedang sebagai produkbaru, bukan untuk dibandingkandengan tempe kedelai. Untukkepentingkan tersebut, tempekoro pedang diperkenalkandengan nama Valia. Masyarakatperlu diedukasi agar memahamipentingnya memberdayakan danbangga dengan tempe koro pedang.Penelitian untuk mengungkapberbagai keunggulan koropedang perlu diintensifkan.Haltersebut bukan untuk menyaingiisoflavon kedelai, namun untukmelengkapinya. Melalui upaya ini,koro pedang mampu mendampingikedelai dalam mencukupikebutuhan pangan masyarakatIndonesia . Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Tim Peneliti Koro Pedang, WARTA, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, Vol 37 No 1.tahun 2015