Loading...

Kotoran Sapi yang Kini Jadi Biogas

Kotoran Sapi yang Kini Jadi Biogas
Kotoran Sapi yang Kini Jadi Biogas ADMIN PONOROGO – Rumah yang dahulunya penuh kotoran sapi bertebaran di tiap sudut, sekarang kotoran itu menjadi berkah untuk kami," kata Subari, warga Kelurahan Patihan Wetan,Kec. Babadan, Kab Ponorogo. Subari adalah peternak sapi yang dipercaya sebagai Ketua Kelompok Peternak "Nggayuh Rejeki".Mengubah kotoran sapi menjadi berkah merupakan impian bagi puluhan kepala keluarga yang tinggal di kawasan tersebut. "Kami awalnya kerap malu dan bingung dengan banyaknya kotoran sapi di tempat kami ini, karena di lingkungan perkotaan jarang yang memelihara ternak. Peternak ini sudah lama memelihara ternak mulai dari kakek, anak sampai sekarang.maklum penduduk di sini yang memelihara sapi hanya sendiri kalau ada tamu datang kami malu banyak kotoran sapi," lanjut Subari.Subario mengisahkan, sekitar dua tahun lalu, di tengah kekhawatiran masyarakat dengan banyaknya kotoran sapi di kampung dan kebanyakan di buang ke sawah, maka dengan bantuan coordinator penyuluh Pertanian Kec. Babadan membantu mengajuan proposal pembuatan biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi. "Programnya dari kantor lingkungan Hidup, difasilitasi oleh BPP Babadan," jelas Subari.Setahun sudah proposal mengendap di Kantor KLH , dengan Kedatangan tim survey dari KLH dalam rangka memberikan penjelasan dan letak biogas yang akan dikerjakan. Sedangan sapi yang dipelihara ada 5 ekor dan ini merupakan persyaratan pokok dalam penentuan jadi dan tidaknya proses pembuatan biogas di laksanakan.Sejak bergulirnya bantuan tersebut hingga kini, warga di kawasan ini kata Subari tak lagi bergantung pada gas elpiji dan kayu bakar. "Biasanya warga menggunakan kayu bakar atau elpiji, sekarang tak pernah lagi, cukup dengan biogas," ungkap Subari sambil menghidupkan kompor gasnya. Selain dimanfaatkan untuk menyalakan kompor, biogas juga dimanfaatkan untuk 2 orang KK yang berdekatan Cara kerja Subari mengajak ke belakang rumahnya untuk memperlihatkan peralatan yang ia miliki. Terdapat satu fiber berukuran besar, diapit dua bak semen berukurang 0,5 meter X 1 meter. Satu bak digunakan untuk memasukkan kotoran sapi ke dalam fiber sembari di siram air dan diputar-putar agar kohe bisa hancur, dan kotak semen terakhir merupakan tempat pembuangan saat kotoran sapi telah digunakan.Sementara fiber berguna untuk mengendapkan kotoran sapi menjadi gas. "Kotoran sapi yang biasa menumpuk setiap pagi di kandang, dibuat bak penampungan yang posisinya lebih rendah dari kandang sapi. Jadi, pagi hari saya tinggal semprot saja selang air ke lantai kandang sapi, kotoran pun berpindah ke bak penampungan," kata dia.Untuk satu gerobak sorong kotoran sapi dibutuhkan sekitar 100 liter air, setelah ditampung di bak penampungan kotoran tersebut diaduk menggunakan kayu dan didiamkan sekitar dua jam. Setelah itu, kotoran sapi akan berpindah ke tabung fiber dan menjadi gas. Gas pun dipakai untuk menyalakan api di kompor."Selama satu bulan membutuhkan 500 kilogram kotoran sapi, alat biogas ( Biodegister ) di sini artinya membutuhkan delapan ton kotoran sapi, jadi wajar kotoran sapi sekarang sulit dicari di daerah sini," kata Subari tertawa.Menurut dia, empat kubik kotoran sapi bisa digunakan selama empat jam pemasakan. Gas dari kotoran itu akan semakin baik saat musim panas, matahari mempercepat proses pembuatan gas."Jadi langkah yang dilakukan Pemerintah dengan masyarakat memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas adalah bentuk mitigasi perubahan iklim, yang artinya tindakan aktif untuk mencegah, memperlambat terjadinya perubahan iklim, pemanasan global dan mengurangi dampak perubahan iklim, pemanasan global," ungkap Joesoef Soegiarto,SP selaku Koordinator PP . "Program ini dilakukan memang sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber metan menjadi biogas, program semacam itu akan terus ditingkatkan, namun masyarakat diharapkan dapat pula merawat dan mengembangkan peralatan dan pengetahuan yang telah diberikan itu," ditulis : Joesoef /admin