Loading...

Kulit Limau Kuit pengendali wereng hijau pada padi

Kulit Limau Kuit pengendali wereng hijau pada padi

Wereng hijau (Nephotettix virescens) adalah hama utama padi yang menghisap cairan tanaman dan menjadi vektor utama penyakit tungro (virus RTBV dan RTSV). Serangan ini dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Pestisida kimia sintetik sering digunakan, tetapi menimbulkan resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan residu berbahaya.

Kulit limau kuit (Citrus amblycarpa) kaya akan senyawa metabolit sekunder seperti minyak atsiri (limonene, citronellal), flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin. Senyawa ini berpotensi sebagai insektisida nabati (racun perut, repelen, dan penghambat pernapasan/pertumbuhan serangga). Meskipun penelitian terkini lebih banyak pada daun limau kuit (efektivitas mortalitas hingga 82,5% tunggal atau 97,5% campur dengan daun gelinggang/Cassia alata), kulit buah memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dan telah terbukti efektif sebagai larvasida/repelen terhadap serangga lain seperti wereng hijau. 

Petani telah melakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida kimia secara berlebihan.  Berbagai dampak negatif dari penggunaan insektisida kimia menjadi bahan pertimbangan untuk menemukan alternatif pengendalian lain.  Penggunaan insektisida nabati yang berasal dari berbagai tanaman yang mudah ditemukan menjadi pilihan untuk mengurangi penggunaan insektisida kimia.

Kulit limau kuit (Citrus amblycarpa) mengandung senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai bioinsektisida, antara lain:

·  Flavonoid dan Tanin: Bersifat antifeedant, menghambat sistem pencernaan serangga dengan mengikat protein dan mengganggu enzim protease. Hal ini menyebabkan serangga kekurangan nutrisi dan akhirnya mati (Harborne, 1987).

·     Saponin: Bersifat racun kontak dan lambung; mampu menurunkan tegangan permukaan membran sel serangga sehingga dinding sel rusak dan terjadi dehidrasi (Prijono, 1999).

·  Minyak atsiri (limonene, citronellal): Bersifat neurotoksik, mengganggu sistem saraf serangga dengan menghambat asetilkolinesterase, menyebabkan hipereksitasi, kejang, dan kelumpuhan (Isman, 2000). Inilah yang menyebabkan gejala gerakan tidak beraturan dan kejang pada wereng hijau.

Kombinasi senyawa-senyawa tersebut bekerja secara sinergis sehingga meskipun konsentrasi tidak terlalu tinggi (LC₅₀ = 7,82%), ekstrak daun limau kuit tetap menunjukkan toksisitas yang signifikan.  

Pembuatan ekstrak pestisida nabati dari kulit limau kuit

Bahan yang diperlukan untuk pembuatan ekstra pestisida nabati kulit limau kuit antara lain :

1.     Kulit limau kuit segar: 500-1000 gram (dari 10-20 buah, gunakan kulit yang tebal dan harum).

2.     Air (aquadest atau air bersih): 1-2 liter untuk ekstraksi awal.

3.     Pelarut tambahan opsional: Ethanol 70% atau minyak sayur (untuk ekstrak lebih kuat, tapi air lebih aman & murah).

4.     Perekat/penyebar (adjuvant): Sabun cuci piring cair atau deterjen netral 5-10 ml per liter (membantu menempel di daun & kutikula wereng).

5.     Opsional: Campur dengan daun gelinggang (100-200g) atau bawang putih (50g) untuk sinergi.

Peralatan yang diperlukan antara lain : blender atau penumbuk, kain saring/kertas saring, botol semprot (sprayer), ember/wadah fermentasi, sarung tangan & masker.

Metode pembuatan ekstrak yang sederhana untuk petani :

1.    Persiapan Bahan: Cuci bersih kulit limau kuit, iris tipis-tipis atau parut untuk memperluas permukaan. Jemur sebentar (1-2 jam) agar tidak terlalu basah, tapi jangan kering total.

2.    Masukkan 500g kulit ke blender, tambah 1 liter air.

3.    Blender halus, saring ampasnya. Peras ampas untuk ambil cairan maksimal.

4.    Diamkan larutan 24-48 jam di tempat teduh (fermentasi ringan meningkatkan aktivitas senyawa). Atau rebus kulit dalam 1 liter air selama 15-30 menit, dinginkan, dan saring.

5.    Untuk ekstrak lebih kuat: Rendam dalam ethanol 70% (jika tersedia) selama 3-7 hari, lalu evaporasi sebagian.

6.    Formulasi Siap Pakai: Campur ekstrak pekat dengan air bersih perbandingan 1:10 hingga 1:20 (misal 100 ml ekstrak + 1-2 liter air).

7.    Tambahkan 5-10 ml sabun cair per liter larutan, kocok hingga rata.

8.    Fermentasi: Tambah molase/gula merah sedikit untuk fermentasi 3-7 hari (seperti pestisida nabati bawang putih).

Aplikasi dilakukan pada sore hari (setelah pukul 15.00) saat wereng aktif dan suhu tidak terlalu tinggi. Ulangi setiap 5-7 hari atau saat populasi meningkat.  Semprot merata pada pangkal daun, pelepah, dan batang (tempat wereng berkumpul). Gunakan 10-20 ml per rumpun/sungkup uji.  Dosis Lapangan: 200-500 liter larutan/ha tergantung kerapatan tanaman.

Disusun oleh : SALIMENI S.,S.P.,M.P/Penyuluh Pertanian Madya