Loading...

Kunjungan Ke Pengolahan Gula Siwalan Di Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep

Kunjungan Ke Pengolahan Gula Siwalan Di Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep
Longos, Gapura (11/09/2020). Gula siwalan merupakan salah satu produk olahan perkebunan andalan di Kabupaten Sumenep. Beberapa wilayah kecamatan baik daratan maupun kepulauan memproduksi gula ini, diantaranya Kecamatan Gapura, Batuputih, Dungkek, Gili Genting dan lainnya, sehingga produk ini mendapatkan perhatian dari Dinas terkait untuk pengembangannya. Seperti halnya hari ini, dua kelompok tani di Desa Longos, Kecamatan Gapura mendapatkan kunjungan dari Bidang Bina Usaha, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, didampingi oleh Petugas Penyuluh Lapangan. Kunjungan diawali di Kelompok Tani Citra Sejati , Dusun Kotte dan dilanjutkan ke Kelompok Tani Nyek-Konyek Gunung, dusun Polay. Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi terkait proses produksi dan menginventarisir permasalahan di dalam kegiatan produksi dan pemasaran. Produksi gula siwalan di Desa Longos dilakukan sepanjang tahun. Saat musim kemarau adalah saat dimana kualitas air sadapan berada dalam kondisi yang terbaik karena tidak tercampur dengan air hujan. Pada musim inilah kualitas gula siwalan yang dihasilkan memiliki mutu baik. Kisaran harga gula siwalan di musim ini yaitu Rp 13.500,- hingga Rp 14.000,- per kilo di tingkat produsen. Sebaliknya, saat musim penghujan kualitas gula menurun bahkan beberapa produsen tidak berproduksi karena keterbatasan dari air sadapan baik kualitas maupun kuantitas. Harga pada musim ini umumnya lebih tinggi, yaitu sekitar Rp 16.000,- hingga Rp 17.000,- per kilo. Salah satu trik untuk mengatasi kelangkaan produksi gula saat musim penghujan adalah dengan mengolah kembali gula hasil produksi musim kemarau dan mencampurnya dengan bahan pemanis lainnya seperti gula pasir atau gula kelapa. Perbandingan bahan yang digunakan umumnya adalah 10 : 4, artinya 10 kilo gula siwalan dicampur dengan 4 kilo gula pasir atau gula kelapa. Secara umum, proses produksi gula siwalan di kedua kelompok tani tersebut tergolong aman karena tidak menggunakan tambahan bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Pengawetan air sadapan masih dilakukan secara tradisional menggunakan pengawet alami dari kulit pohon mente atau pohon jaran. Perebusannya pun, masih menggunakan tumang dan kayu bakar sehingga kekhasan aroma dari gula siwalan masih terjaga. Gula siwalan dikemas dalam cetakan yang ramah lingkungan terbuat dari daun lontar. Rata-rata produksi harian gula siwalan yaitu 5 kg per produsen, bahkan dalam sebulan mampu mencapai kapasitas 210 kg per produsen. Dengan kapasitas tersebut, petani bisa mendapatkan penghasilan lebih dari 2 juta setiap bulannya. Tentunya nilai ini cukup potensial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari produsen gula siwalan dan keluarganya. Selama ini, tidak ditemukan kendala khusus dalam pemasaran karena dilokasi produksi sudah ada beberapa pengepul yang siap menampung produk gula siwalan. Dibalik suka cita produsen gula siwalan, muncul fenomena baru yaitu berkurangnya tenaga kerja karena factor usia dan urbanisasi. Beberapa tenaga kerja pemanen air sadapan beralih pekerjaan dan beraktivitas di kota-kota besar. Generasi muda pun enggan berprofesi sebagai pemanjat pohon siwalan, sehingga produsen gula siwalan perlahan-lahan gulung tikar. Pembinaan secara massive oleh Dinas terkait diharapkan memberikan angin segar bagi para produsen gula siwalan. Selain itu, diharapkan mampu memotivasi generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian salah satu kearifan local, khususnya di kabupaten Sumenep. DELLY HOS KAPILA, SP PENYULUH PERTANIAN KECAMATAN GAPURA