Jaman kejayaan dalam swa sembada pangan khususnya beras di Indonesia telah terjadi pada Tahun 1984 telah redup seiring dengan tingkat pertambahan penduduk yang cukup tinggi. Namun beberapa tahun kemudian swa sembada pangan ini goyah dan menjadikan Indonesia kembali mengimpor beras hampir setiap tahun. Upaya pemerintah dalam mencukupi kebutuhan pangan masyarakat khususnya beras tidak pernah berhenti dan pada tahun 2004 produksi padi Indonesia kembali surplus beras. Produksi dan kebutuhan beras di Indonesia selalu berfluktuasi seiring dengan meningkatna penduduk, hal ini mengakibatkan cadangan pangan kita semakin berkurang. Upaya untuk berswa sembada pangan ini hampir selalu dikumandangkan seiring dengan pergantian pemerintahan. Pada pemerintahan Presiden Joko Widodo ini kumandang tersebut lebih digemakan kembali dan menargetkan swa sembada pangan khususnya padi, jagung dan kedele ini dapat tercapai selama 3 (tiga) tahun kedepan. Program ini sering disebut juga sebagai program PAJALE atau PAJEKA. Dimana produksi beras ditargetkan meningkat hampir 30 %. Sebagai tindak lanjut dari program tersebut pada Hari Rabu Tanggal 11 Maret 2015 bertempat di Kelompoktani Sri Jaya I Desa Sukamelang Kecamatan Kroya Kabupaten Indramayu, Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Andi Amran Sulaeman beserta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophana melakukan panen perdana. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat Provinsi Jawa Barat yang sekaligus mengadakan Rembug KTNA.Kegiatan panen perdana ini dihadiri oleh Para petinggi yang berkiprah di sektor pertanian diantaranya Ketua Komisi IV DPR Bapak Oo Sutisna, Direktur Rehabilitasi Irigasi Kementerian Pudan Direktur BUMN lingkup pertanian.Ketua Kelmpok KTNA Jawa Barat H. Rali mengemukakan bahwa lokasi panen ini adalah sawah tadah hujan dan pada Bulan Maret 2015 ini akan panen padi sawah seluas 500 ha. Ini merupakan barometer peningkatan produksi padi, sawah tadah hujan saja sudah mampu panen lebih awal dibandingkan sawah irigasi teknis. Berdasarkan hasil ubinan dengan 3 sample yang telah dilakukan pada hari sebelumnya tercatat masing-masing sebesar 7, 13 kg, 6, 13 kg dan 5, 80 kg sehingga rata-ratanya sebesar 6,12 kg. Apabila dikonversian produksi per hektar mencapai 9,79 ton GKP atau 8,42 ton GKG. Pada Bukan Maret akan panen seluas 37.000 ha yang meliputi Kecamatan Kroya, Terisi, Haurgeulis, Gantar dan Cukedung. Provinsi Jawa Barat pada tahun ini ditargetkan tanaman padi seluas 1.187.327 ha dengan produktivitas 7, 2 ton per hektar atau naik sebesar 2 juta ton dari tahun sebelumnya. Bupati Indramayu Hj. Anna Sophana dalam sambutannya mengemukakan bahwa Kabupaten Indramayu telah mempunyai Perda No 16 Tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan Pangan Berkesinambungan. Perda ini untuk memproteksi lahan sawah produktif agar tetap dipertahankan sebagai lahan sawah dan tidak beralih fungsi. Keseriusan pengurus kelompoktani dalam mengelola sawah tadah hujan dan cuaca yang mendukung mengakibatkan petani dapat memanen padinya dengan baik. Luas areal yang akan dipanen pada bulan ini di Desa Sukamelang mencapai 591 ha. PadaTahun 2015 Kabupaten Indramayu diproyeksikan produksi padi sebesar 1.700.000 ton GKP, dengan luas areal sawah 116.000 ha dan dalam setahun dapat 2 kali tanam Insya Allah Kabupaten Indramayu mampu mencapainya.Sebagai gambaran produksi padi rata-rata dalam setahun mencapai 1.600.000 ton gabah atau setara 1.200.000 ton beras. Sedangkan kebutuhan masyarakat Indramayu dalam setahun mencapai 250.000 ton beras, kemudian BULOG dalam setahunnya mampu membeli beras sebanyak 125.000 ton. Sehingga Kabupaten Indramayu surplus beras. Konstribusi beras Indramayu ke tingkat Jawa Barat mencapai 15 % dan tingkat nasional 5 %, sehingga Indramayu dikenal sebagai lumbung pangan di Jawa Barat dan Nasional yang mendukung ketahanan pangan.Namun dibalik keberhasilan tersebut masih banyak keprihatinan yang dirasakan masyarakat petani kami antara lain : jaringan irigasi sekunder dam tersier yang sudah lama tidak diperbaiki, tingginya sedimentasi di bendung pedati dan Cipancuh, Cilalanang yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas daya tampung. Padahal waduk tersebut dapat mengairi 6.500 ha. Oleh karena itu mohon perhatian pemerintah pusat untuk segera menormalisasi kembali. Begitu juga dengan proteksi terhadap petani masih lemah sehingga mohon agar ada asuransi bagi kegiatan usahataninya agar petani tetap bersemangat dalam mengelola usahanya. Seperti yang pernah disampaikan Gubernur bahwa Waduk Gede akan dioperasionalkan pada Tahun 2015 oleh karena itu mohon segera tuntaskan sehingga masyarakat petani kami di Indramayu Timurseluas 90.000 ha dapat memanfaatkan irigasi tersebut. Selain itu alokasi pupuk berdasarkan RDKK sebanyak 82.570 ton dan baru tersalurkan 76.000 ton, oleh karena itu sisapupuk yang ada agar segera disalurkan. Demikian pula dalam rangka mengurangi tingkat kehilangan hasil maka powe threser perlu diadakan serta dalam rangka mengangkat harga gabah pada saat panen raya BUMDES mohon difasilitasi permodalannya karena akan melakukan pembelian gabah dengan sistim resi gudang.Sementara itu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, bahwa kita berada pada osisi sebentarlagi swa sembada pangan. Keberpihakan Mentan kepada petani sangan jelas dengan memberikan bantuan traktor sebanyak 2.500 unit untuk Jawa Barat dan dari provinsi sebanyak 1.500 unit sehingga bantuan traktor ada sebanyak 4.000 unit untuk kelompoktani. Begitu juga dengan dana DAK Jawa Barat pada Tahun 2013 sebesar Rp. 25 M, Tahun 2014 turun menjadi Rp. 23 M dan dengan dukungan Mentan DAK Jawa Barat Tahun 2015 mencapai Rp. 292 M. Begitu juga dengan DAK Kabupaten / kota mengalami kenaikan dan semuanya ditujukan untuk kepentingan petani dan pembangunan pertanian. Melihat pertanaman dan dari hasil evaluasi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menoak untuk import beras, kita mampu berswa semabada beras. Beberapa permasalahan yang seringmunculdan dikeluhkan petani diantaranya masalah pupuk. Subsidi pupuk yang seharusnya dinikmati petani malah yang meninkmati pihak lain. Petani membeli dengan harga umum bukan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Bahkan tidak jarang pupuk subsidi dibawa lari ke perkebunan besar, membeli dengan harga subsidi tapi menjualnya dengan harga tinggi. Oleh karena itu Gubernur mengemukakan pendapat apakah tidak sebaiknya subsidi ke etani di akhir (gabah) membeli gabah dengan harga tinggi dan menjual beras nya murah sehingga petani teruntungkan begitu juga dengan konsumen yang lain. Sehingga dengan demikian petani betul-betul menikmati subsidi yang diberikan pemerintah. Subsidi seperti ini sudah banyak diberlakukan di negara-negara tetangga kita.Kawasan Jabar Utara (Pantura) luas arealnya mencapai 80 % namun indek pertanamannya baru mencapai 1.8. Hal ini dikarenakan jaringan irigasi yang ada sudah banyak yang rusak. Berbeda dengan kawasan Jabar Selatan luas arealnya 20 % namun indeks pertanamannya mencpai 2,8. Apabila irigasi diperbaiki sama saja dngan mengintensifkan panen. Dalam rangka meningkatkan produksi padi melalui tanam jajar legowo pemerintah provinsi Jawa Barat menyediakan dana Rp. 10 M untuk pengembangan jajar legowo.Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaeman dalam pengarahannya, mengingat pada waktu yang lalu sering terlambat dalam pengadaan benih, pupuk dan alsintan yang diperuntukan bagi petani, maka perlu ada perubahan regulasi sehingga tidak menghambat kegiatan budidaya padi. Keterlambatan dalam penggunaan pupuk selama seminggu dapat menurunkan produksi sebesar 1 ton per hektar. Dalam sekala nasional dengan luas 13 juta ha, maka penurunan produksi mencapai 5 juta ton. Untuk itu dalam pengadaan sarana produksi tidak lagi ditenderkan. Dalam membangun pertanian menuju swa sembada pangan yang berkelanjutan terdapat 5 pilar sukses yaitu benih yang bermutu, pempukan yang tepat waktu, irigasi yang lancar, dan penyuluh pertanian. Konsisi irigasi yang ada secara nasional 53 % nya kurang baik dan sudah lebih dari 30 tahun tidak diperbaiki. Oleh karena itu keberadaan irigasi sangat penting dan harus diperbaiki. Kabupaten Indramayu memperoleh alokasi perbaikan irigasi seluas 5.000 ha dan dana nya telah masuk rekening dan harus selesai pada bulan Juni 2015. Untuk mendukung dan mewujudkan ketahanan pangan maka dalam APBNP kementan merevisi anggaran dimana dari anggaran yang kurang produktif seperti perjalanan dinas, penginapan hotel dan lainnya dialokasikan untuk pembengunan yang produktif seperti rehabilitasi jaringan irigasi, pupuk dan benih. Anggaran pertanian saat ini mencapai Rp. 22 T dan menjadi 3 besar semua itu demi petani dan pembangunan pertanian.Berdasarkan pemantauan harga gabah di 7 provinsiternyata harga gabah di tingkat petani berkisar antara Rp. 4.000,- sd Rp. 4.500,-, sehingga kalau dijadikan beras dijual dengan kisaran Rp. 7.000,-/kg dengan rendemen 65 % - 70 %. Oleh karena nya kalau harga beras mencapai Rp. 12.000,- / kg yang salah adalah masalah distribusinya.Apabila Jawa Barat pada Bulan Maretakan panen 500.000 ha dengan produksi 8 ton maka akan dihasilkan bagah sebesar 4 juta ton atau 3 juta ton beras sehngga mampu mengkaver kebutuhan Indonesia selama 1,5 bulan.Kita harus bangkit mengejar ketertinggalan, tantangan di depan sudah menunggu. MEA bulan Oktober akan diberlakukan, kita harus waspada terhadap serangan komoditaas pertanian dari luar. Kita harus mampu bersaing sehingga kita mampu mengekspor hasil-hasil pertanian. Sudah waktunya Indonesia menggetarkan dunia dengan berasnya, untuk itu mari kita bersama-sama bekerja keras demi terwujudnya petani yang sejahtera dan ketahanan pangan yang kuat. (Edi Harnadi – Penyuluh Pertanian Madya Kabupaten Indramayu)