Loading...

KURSUS TANI KE 3 SEKOLAH LAPANG TEMATIK PADI RAMAH LINGKUNGAN TEKNIK PENGHITUNGAN INTENSITAS DAN AMBANG BATAS SERANGAN OPT DALAM MENENTUKAN UPAYA PENGENDALIAN PREPENTIF

KURSUS TANI KE 3 SEKOLAH LAPANG TEMATIK PADI RAMAH LINGKUNGAN TEKNIK PENGHITUNGAN INTENSITAS DAN AMBANG BATAS SERANGAN OPT DALAM MENENTUKAN UPAYA PENGENDALIAN PREPENTIF

KURSUS TANI KE 3 SEKOLAH LAPANG TEMATIK PADI RAMAH LINGKUNGAN

TEKNIK PENGHITUNGAN INTENSITAS DAN AMBANG BATAS SERANGAN OPT DALAM MENENTUKAN UPAYA PENGENDALIAN PREPENTIF

 

Garut_Caringin_Cybex :  Kursus Tani adalah kegiatan pendidikan nonformal yang ditujukan bagi petani atau calon petani untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam bidang pertanian tertentu, baik teknis budidaya maupun manajemen usaha tani.

Kursus tani kegiatan Sekolah Lapang Tematik Padi Ramah Lingkungan BPP Kecamatan Caringin di laksanakan sebanyak 3 kali yaitu satu kali pada bulan Agustus dan dua kali pada bulan Desember. Kursus tani yang dilaksanakan pada tanggal 02 Desember 2025 merupakan kursus tani ke 3 dan terakhir pada kegiatan SL ini. Materi yang diberikan adalah Teknik penghitungan intensitas dan ambang batas serangan OPT dalam menentukan upaya pengendalian prepentif  Oleh Opik Taupik selaku  Petugas POPT Kecamatan Caringin serta Praktek Pengamatan OPT ke lahan Demplot Kelp. Harapan Jaya

OPT adalah semua organisme yang dapat menurunkan produksi, kualitas hasil, dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. OPT pada padi terdiri atas hama, penyakit, dan gulma.

Untuk mengetahui adanya OPT di lahan sawah yaitu dengan melakukan pengamatan keliling secara countinue, dengan hasil pengamatan ini maka dapat dilihat tingkat/intensitas serangan dan ambang batas sehingga dapat diambil keputusan untuk melakukan pengendalian secara prefentif

      Adapun Tujuan dari pengamatan keliling adalah

·         Mendeteksi dini hama & penyakit di tepi dan lahan inti.

·         Menentukan lokasi dan intensitas serangan untuk pengambilan keputusan (AP/AE).

·         Menilai keberadaan musuh alami dan kondisi tanaman.

Sedangkan waktu pelaksanaan pengamatan keliling dilakukan beberapa kali    yaitu :

·            Setiap 3–7 hari pada musim kritis (stadia vegetatif & generatif).

·            Pada awal musim tanam dan bila ada tanda serangan: setiap 2–3 hari.

·            Setelah tindakan pengendalian: pantau 2–3 hari dan 7–10 hari setelahnya untuk mengevaluasi efek.

Untuk pengambilan sample OPT dapat dilakukan di beberapa titik dimana setiap  titik dperiksa 5–10 rumpun / 10 tiller (atau 10 sapuan jala/serokan untuk serangga terbang). Contoh paket standar: Setelah OPT di temukan selanjutnya di hitung Intensitas serangan OPT dan ambang batasnya dengan menggunakan rumus sebagai berikut : 

1.           Intensitas Serangan Berdasarkan Persentase Tanaman Terserang, digunakan untuk OPT yang menyerang tanaman secara merata (misalnya penggerek batang, wereng, tikus).

Rumus:

Intensitas Serangan Serangan (%) =          Jumlah tanaman terserang  X 100%

               Jumlah tanaman diamati

Contoh:

  • Tanaman diamati = 100 rumpun   

Maka intensitas terserang = 15/100 x 100% = 15%

 

2.          Intensitas Serangan Berdasarkan Tingkat Kerusakan, Digunakan bila serangan tidak seragam dan memiliki tingkatan kerusakan (misalnya penyakit daun).

Rumus :  I = ∑(n×v) x 100%

                       Z×N 

Keterangan:

·            n = jumlah tanaman pada setiap kategori kerusakan

·            v = nilai skor kerusakan

·            Z = skor kerusakan tertinggi

·            N = jumlah tanaman diamati

 

Untuk penentuan Penentuan Ambang Batas Serangan OPT (Padi Sawah), terdapat kriterianya, yaitu seperti berikut

OPT

Ambang Batas

Wereng batang coklat

≥ 5–10 ekor/rumpun (fase vegetatif)

Penggerek batang

≥ 10% sundep / ≥ 5% beluk

Tikus

≥ 5% tanaman rusak

Walang sangit

≥ 1–2 ekor per m²

Penyakit blas

≥ 5% intensitas serangan

Keong mas

≥ 1–2 ekor/m² (tanaman muda)

Ambang batas tersebut dapat berbeda tergantung umur tanaman, varietas, dan kondisi agroekosistem. Pengendalian dilakukan sebelum OPT mencapai ambang batas, dengan menekan peluang berkembangnya OPT. Adapun bentuk Pengendalian Preventif yang dapat dilakukan yaitu dengan cara :

1.          Pengamatan rutin (pengamatan keliling) yang dilakukan 1 minggu sekali atau lebih intensif saat fase rawan.

2.          Tanam serempak dapat memutus siklus hidup OPT.

3.          Memilih varietas padi tahan OPT karena dapat mengurangi intensitas serangan sejak awal.

4.          Melaksanakan pemupukan berimbang (6T) sehingga tanaman lebih sehat dan tahan serangan.

5.          Melakukan pengelolaan air dan sanitasi lahan dapat mengurangi habitat OPT.

6.          Melestarikan musuh alami dapat menghindari penggunaan pestisida berlebihan.

Setelah pemberian materi dilanjutkan dengan pengamatan langsung ke lahan demplot. Disini para peserta di bagi 5 kelompok, dimana masing-masing kelompok mengamati dan mencatat segala macam OPT yang terdapat di lahan sawah.

Setelah diamati secara bersama-sama, dan dilakukan perhitungan dengan rumus yang telah dijelaskan maka dapat dilihat hasil sebagai berikut :

-             Intensitas serangan Blast : 1,55%

-             Ambang batas WBC : 10 ekor/rumpun

-             Ditemukan musuh alami berupa:

        Capung : 1 ekor/rumpun

        Laba-laba : 1 ekor per/rumpun

Dari hasil tersebut maka  rekomendasi tindakan yang diambil adalah perlu dilakukan pengendalian segera baik pada Blas mapun WBC