Loading...

KUTU BULU PUTIH PADA TANAMAN TEBU

KUTU BULU PUTIH PADA TANAMAN TEBU
a. Daerah sebaran ; Kutu bulu putih dapat dijumpai hampir di seluruh daerah pertanaman tebu Indonesia. Kutu bulu putih terdapat sepanjang tahun. Pada pertengahan musim hujan popu!asinya menurun. Pada perkebunan tebu di Jawa Barat kutu ini sudah tampak mulai bulan Juli. Sedangkan di Jawa Timur umumnya baru terlihat pada bulan September atau Oktober. Intensitas serangan di luar Jawa seringkali lebih tinggi. Kutu hidup berkelompok di bawah permukaan daun dan menghisap cairannya. Pada setaip kelompok dijumpai tiga bentuk, yaitu kutu (nympha) terdiri dari beberapa instar, serangga dewasa (imago) yang bersayap, dan serangga dewasa yang tidak bersayap (Djoenadi Samoedi, 1993).b. Gejala serangan dan kerugian ; Kutu menyerang helaian daun bagian bawah, dan merupakan koloni kutu berwarna putih berada di Kanan dan kiri ibu tulang daun. Permukaan helai daun sebelah atas tertutup lapisan jamur seperti jelaga (hitam). Pada serangan yang berat daun akan menjadi kuning kemudian mengering. Serangan kutu bulu putih pada tanaman tebu muda yang perakarannya belum kuat, dapat menghambat pertumbuhan, bahkan pada serangan yang berat tanaman dapat mati. Pada tanaman tebu yang telah memiliki perakaran yang kuat, biasanya dapat menyembuhkan diri dengan membentuk daun-daun muda baru yang bebas dari serangan. Kerugian akibat serangan kutu bulu putih di pertanaman tebu dapat mencapai lebih kurang 2,6 ton/ha, dan menyebabkan penurunan rendemen dari 12 persen menjadi 8 persen, suatu nilai yang cukup besar.c. Cara pengendalian ; Pengendalian kutu bulu putih disesuaikan dengan perkembangannya. Terdapat tiga cara pengendalian yaitu (i) Mekanis, (ii) bioiogis, dan (iii) kimiawi. Pengendalian secara biologis dianggap satu-satunya yang paling efisien. Sedangkan pengendalian secara mekanis dan kimiawi dapat digunakan apabila tingkat populasi kutu-kutu yang terparasit rendah, yaitu berada 20 persen. Penentuan persentase kutu-kutu yang terparasit akan dijelaskan kemudian bersamaan dengan uraian mengenai pengendalian secara biologis.(i) Pengendalian secara mekanis ; Cara ini cukup efektif bila dilakukan pada awalserangan sewaktu populasi kutu masih sedikit, dan persentase parasit rendah (0 - 20 %), serta tanaman masih belum tinggi. Daun-daun yang terserang dipotong, dimasukkan kedalam kantong plastik dan dibawa ke luar untuk kemudian dibakar. Dapat pula dilakukan dengan mengulas daun yang terserang dengan kain basah atau tanah. Dalam pemotongan daun dan pengulasan diusahakan jangan sampai ada kutu yang masih tertinggal (Irawan, 1989; Djoenadi Samoedi, 1993).(ii) Pengendalian secara biologis ; Pengendaliannya dilakukan dengan pelepasankerawai yang berisi parasit kutu, yaitu Encarsia flavoscutellum Zehntner. Parasit ini meletakkan telur-telurnya di dalam badan kutu muda. Dalam setiap kutu terdapat 6 - 10 parasit yang berkembang sekitar 8 - 10 hari. Penentuan kutu yang terparasit dikerjakan dengan memasukkan kuru-kutu tersebut ke dalam larutan benzol khloral hidrat kemudian dididihkan. Selanjutnya dibilas dengan alkohol 70% tiga kali sampai kutu tampak transparan (tembus pandang), sehingga parasit yang ada di dalam badan kutu dapat dengan mudah terlihat dengan mikroskop binokuler. Setiap parasit betina marnpu bertelur lebihkurang 100 butir. Umumnya perkembang biakan parasit lebih cepat dari pada kutu bulu putih. Cara pengendaliannya dibedakan bergantungpada persen kutu yang terparasit, yaitu sebagai berikut:(I) Bila persenkutu terparasit lebih dari 40 % ; tidak diperlukan pengendalian lagi, karena jumlah tersebut sudah mencukupi untuk mengendalikan kutu bulu putih.(2) Bila persen kutu yang terparasit berada antara 20-40% kelompok kutu baru dikendalikan secara mekanis atau kimiawi. Sedang kelompok yang lama dibiarkan.(3) Jika persen kutu terparasit sekitar 0-20 % ; mulai dilakukan pengendalian mekanis atau kimiawi pada semua kelompok. Kemudian dilakukan pelepasan (infeksi) dengan mengambil daun tebu yang terserang kutu bulu putih yang persen kutu terparasitnya lebih dari 40 % digunakan sebagai kerawai. Kerawai itu lalu ditempelkan pada tanaman yang kutu terparasitnya kurang dari 20 % tersebut. Encarsiaflavoscutellum ini merupakan parasit yang paling penting yang telah digunakan secara luas di antara parasit-parasit yang dijumpai menyerang kutu bulu putih.(iii) Pengendalian secara kimiawi ; Dilaksanakan dengan penyemprotan insektisida,umumnya digunakan insektisida sistemik. Penggunaan insektisida dimaksudkan untuk menekan populasi secara drastis, terutarna pada tingkat parasitisasi oleh Encarsiajlavoscutellum yang rendah. Penyemprotan sebaiknya diarahkan pada permukaan daun sebelah bawah dan daun daun pucuk. Insektisida yang sering digunakan antara lain adalah Anthio 33 EC(I,5 -2 cc/l), Perfekthion 20 EC (1,5 - 2 cc/l), Azodrin 15 WSC (3 cc/l), Dimecron 50 SCW(3 cc/l), dan Supracide 40 EC (2 - 2,5 cc/l) yang merupakan insektisida penetrasi dan kontak (Irawan, 1989;Djoenadi Sarnoedi, 1993). Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.