Loading...

LALAT BUAH

LALAT BUAH
PENDAHULUAN Latar Belakang Lalat buah merupakan salah satu hama yang sangat ganas pada tanaman hortikultura di dunia. Lebih dari seratus jenis tanaman hortikultura diduga menjadi sasaran serangannya. Pada populasi yang tinggi, intensitas serangannya dapat mencapai 100%. Oleh karena itu, hama ini telah menarik perhatian seluruh dunia untuk melaksanakan upaya pengendalian secara terprogram. Program pengendalian itu memerlukan waktu lebih dari lima tahun, bahkan puluhan tahun. Di Indonesia pada saat ini dilaporkan ada 66 spesies lalat buah. Di antaranya spesies itu, yang dikenal sangat merusak adalah Bactrocera spp., yang sasaran utama serangannya antara lain: belimbing manis, jambu air, jambu biji (jambu bangkok), mangga, nangka, semangka, melon dan cabai. Sifat khas lalat buah adalah hanya dapat bertelur di dalam buah. Larva (belatung) yang menetas dari telur tersebut akan merusak daging buah, sehingga buah menjadi busuk dan gugur. Konsumen sering kecewa karena buah mangga yang dibelinya mengandung belatung atau busuk. Hal ini dapat menurunkan daya saing komoditas hortikultura Indonesia di pasar global; bahkan ekspor buah mangga Indonesia pernah ditolak negara tujuan dengan alasan mengandung lalat buah. Upaya pengendalian lalat buah telah banyak dilakukan oleh petani, tetapi hasilnya belum memuaskan. Cara pengendalian yang sederhana yang lazim dilakukan oleh petani adalah pembungkusan buah, tetapi upaya ini masih terbatas pada buah-buahan tertentu seperti belimbing manis, jambu biji, nangka, dan cempedak. Untuk pohon buah yang tinggi dan berbuah lebat,misalnya mangga, cara pembungkusan buah ini sulit dilakukan. Kehilangan hasil akibat serangan lalat buah di Indonesia cukup besar. Hal ini disebabkan karena stadia yang merusak adalah larva yang menyerang langsung pada buah tanaman. Pengendalian yang telah dilakukan adalah pemandulan jantan, kimiawi dan memakai perangkap dengan menggunakan atraktan/penarik. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah lalat buah adalah untuk mengetahui morfologi/ bioekologi, gejala serangan dan pengendaliannya. LALAT BUAH DAN PENGENDALIANNYA Seranggapun ternyata memilih bagian tanaman yang paling cocok untuk meletakkan telur-telurnya. Penelitian ini menunjukkan bagaimana lalat buah Bactrocera dorsalis betina meletakkan telur-telurnya lebih banyak di bagian “atas” buah mangga (di dekat tangkai buah), dibandingkan di bagian tengah (pinggang) buah, dan pucuk bawah buah. Dari segi fisiologi buah, hasil tersebut menunjukkan bahwa sang induk memilih bagian buah yang paling masak dan tingkat kekerasannya juga paling rendah dibandingkan dua bagian yang lain, sehingga bisa ditembus oleh ovipositor untuk meletakkan telurnya. Gejala serangan Buah yang terserang ditandai oleh lubang titik hitam pada bagian pangkalnya, tempat serangga dewasa memasukkan telur. Umumnya telur diletakkan pada buah yang agak tersembunyi dan tidak terkena sinar matahari langsung, pada buah yang agak lunak dengan permukaan agak kasar. Larva membuat saluran di dalam buah dengan memakan daging buah serta menghisap cairan buah dan dapat menyebabkan terjadi infeksi oleh OPT lain, buah menjadi busuk dan biasanya jatuh ke tanah sebelum larva berubah menjadi pupa. Tanaman inang lain Semua tanaman buah-buahan dan sayuran buah antara lain mangga, kopi, pisang, jambu, cengkeh, belimbing, sawo, jeruk, ketimun, dan nangka. Pengendalian Kultur teknis Penggunaan varietas tahan seperti varietas Hot Pepper 002 dan Tuban (Moekasan, 2006) Pencacahan (pembongkaran) tanah di sekitar tanaman agar kepompong yang berada di dalam tanah terkena sinar matahari, terganggu hidupnya dan akhirnya mati. Tumpang sari tanaman cabai dengan kubis atau tomat dapat menekan populasi lalat buah dan pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat Fisik/mekanis Sanitasi kebun bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat buah, sehingga perkembangan lalat buah dapat ditekan. Buah yang jatuh dikumpulkan kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dikubur, atau mengumpulkan buah yang busuk yang terinfestasi lalat buah ke dalam tong sampah yang ditutup dengan kain kasa dengan tujuan agar parasitoid lalat buah dapat keluar melalui lubang kain kasa, sedangkan larva lalat buah tidak berkembang menjadi imago. Penggunaan perangkap beratraktan yang terbuat dari plastik/botol air mineral yang sudah dipasangi atraktan seperti Metil eugenol (ME), Cue lure, minyak Melaleuca brachteata (MMB) atau minyak selasih dan dapat dicampur dengan pestisida yang diteteskan pada kapas (± 16 buah/ha). Perangkap dipasang pada cabang pohon setinggi 2 – 3 m dari permukaan tanah atau pada ketinggian tajuk terendah dari tanaman di mana perangkap dipasang. Setiap 2 minggu atraktan diganti Pengasapan dengan cara membakar seresah/jerami untuk mengusir lalat buah yang datang ke pertanaman. Pengasapan efektif dilakukan selama 3 hari dan jika dilakukan selama 13 jam terus menerus dapat membunuh lalat buah. Pemungutan buah terserang (sebaiknya ketika masih menggantung di tanaman) dan memusnahkan dengan cara dibakar. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dengan menggunakan zat penarik atau atraktan metil eugenol yang diteteskan pada kapas dalam perangkap ternyata memberikan hasil yang baik sebagai atraktan terhadap lalat buah jantan. Cara ini efektif dalam mengurangi populasi serta membatasi masuk dan berkembangnya lalat buah dalam suatu areal. Namun atraktan sintetik tersebut hanya mampu menarik lalat buah jantan, karena bersifat paraferomon (seks feromon) yaitu senyawa yang aromanya sama dengan feromon yang dihasilkan oleh serangga betina sehingga menarik jantan untuk datang, sementara penyebab kerusakan pada buah adalah lalat buah betina yang meletakkan telur pada buah dengan cara menusuk atau melukai permukaan buah dengan ovipositornya. Salah satu bahan nabati yang bersifat atraktan terhadap lalat buah adalah sereh wangi (Andropogonnardus). Hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Hasanuddin Makassar, menunjukkan bahwa minyak sereh bersifat atraktan terhadap lalat buah baik jantan maupun betina. Konsentrasi 20-50% dari minyak sereh efektif menarik lalat buah jantan maupun betina di laboratorium dan di lapangan. Pada pengujian lapangan, minyak sereh yang diaplikasikan dalam bentuk cairan, yang diteteskan pada kapas yang dilekatkan dalam perangkap cukup efektif dalam menarik lalat buah. Namun, aplikasi cairan ini ternyata tidak mematikan lalat buah sehingga dalam perangkap masih perlu ditambahkan larutan deterjen dan masa pendedahannya hanya efektif hingga hari ke-4. Biologi Pemanfaatan musuh alami seperti parasitoid dari famili Braconidae (Biosteres sp., Opius sp.), Aceratoneuromyia indica. Kelompok predator yang menjadi musuh alami lalat buah seperti dari famili Formicidae (semut), Solenopsisgeminate, Arachnidae (laba-laba), Staphylinidae (kumbang), Demaptera (cocopet), Chrysoperta carnea, dan patogen serangga Bacillus thuringiensis. Kimiawi Penggunaan pestisida kimia sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, misalnya yang berbahan aktif profenofos, deltametrin, beta siflutrin, dan imidakloprid SUMBER PUSTAKA http://berkebun-yuuk.blogspot.com/2008/02/perangkap-lalat-buah.html http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_c http://majalahserangga.wordpress.com/2012/12/04/lalat-buah-ternyata-menyukai-bagian-atas-buah-untuk-meletakkan-telur-telurnya. http://smallcrab.com/others/35-lain-lain/413-mengatasi-lalat-buah-dengan-minyak-sereh-wangi http://bp3.blogspot.com/_9IyFhx4UvZA/R7jfG4gCiMI/AAAAAAAAAPk/dFezS1YJuZ4/s1600-h/perangkap.JPG (gambar) Susetya P. N. , 2001, Hama Lalat Buah dan Pengendaliannya. Kanisius. Yogyakarta. Disusun kembali oleh : Hasan Ashari, S.ST, BPP Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat