Langkah aplikasi budidaya padi organik dengan Pola HCS antara lain pemilihan benih, persemaian benih padi organik Pola HCS, pengolahan lahan untuk menanam padi organik, proses penanaman padi organik Pola HCS, pemupukan, sistem pengaturan air tanaman padi organik, dan pengendalian hama dan penyakit tanaman padi organik pola HCS. Langkah pemilihan benih telah ditulis dengan judul Seleksi Atau Pemilihan Benih pada Budidaya Padi Organik dengan Pola HCS. Berikut ini akan dijelaskan langkah selanjutnya seperti dibawah ini.1. Cara Persemaian Benih Padi Organik Pola HCSa) Pembuatan bedengan Bedengan tersebut disemprot larutan SOT memakai dosis : 4 – 8 tutup botol SOT dilarutkan dalam 15 liter air. Pastikan bahwa bedengan pada kondisi kering dan tidak tergenang air.b) Memagari atau menutup sekeliling bedengan dengan plastik atau anyaman bambo.c) Tebarkan benih secara merata dan biarkan selama 14 harid) Cabut benih dan ikat, kemudian masukkan ke dalam larutan SOT dalam bak atau genangan air yang sudah mengandung SOT, dan biarkan akarnya menyerap larutan SOT. Tujuannya adalah agar benih padi tidak mengalami stress dan pada saat mulai ditanam dapat langsung tumbuh hidup.2. Pengolahan Lahan Untuk Menanam Padi Organika) Bila sawah bekas panen banyak terdapat jerami, jangan dibuang atau dibakar. Ratakan jerami tersebut dan bila perlu semprot dengan probiotik agar cepat hancur. Baru kemudian sawah diolah;b) Bajak sawah seperti yang biasa dilakukan, kemudian semprot dengan menggunakan PHEFOC dengan dosis : 8 tutup botol dilarutkan dalam 14 liter air. Kemudian genangi sawah dengan air selama 14 haric) Sebelum dibajak/digaru (untuk pengolahan tanah step terakhir) taburkan BOKASHI HCS secara merata ke seluruh permukaan sawah dengan aturan : 8 kwintal Bokashi HCS/Ha. Biasanya kalau menggunakan Bokashi non-HCS menggunakan 2 ton/Ha. d) Sehari sebelum penanaman benih, lahan sawah disiram dengan SOT (dosis 8 tutup SOT dalam 15 liter air). Untuk memperlancar sirkulasi air, buatlah saluran air dengan jarak 3 meter di tepi kanan dan kiri dengan kedalaman 20-30 cm3. Proses Penanaman Padi Organik Pola HCSa) Padi ditanam dengan cara akar semai dibenamkan ke dalam tanah sampai kedalaman 2-3 cm dengan posisi akar horizontal seperti huruf 'L', hal ini bertujuan untuk memperbanyak peranakan, mempercepat pertumbuhan dan perkembangan akar.b) Sistem penanaman yang disarankan adalah dengan sistem Jajar Legowo dengan rumus :3 : 1 (25_25_25_40)cm ; 4 : 1 (25_25_25_25_40)cm ; 5 : 1 (25_25_25_25_25_40)cm. Sistem tanam seperti menjaga persaingan mendapatkan energi dari sinar matahari, oksigen dan nutrisi dari tanah. 4. Cara Pemupukana) Pupuk utama yang digunakan adalah pupuk yang tersedia secara lokal, seperti kompos jerami, pupuk kandang, atau pupuk organik bokashi.b) Penggunaan pupuk anorganik seperti Urea dan NPK dilakukan seperti biasa, namun untuk masa tanam pertama dikurangi 70 % (yang dipakai hanya 30 %) dari dosis standar pemakaian biasa. Pada masa tanam ke-dua dikurangi 80 %. Masa tanam ke-tiga sampai masa tanam ke-enam dikurangi hingga 90 %. Biasanya pada masa tanam ke-tujuh jika kondisi tanah sudah normal, pemakaian pupuk anorganik sudah bisa ditinggalkan atau tidak dipakai lagi.Penggunaan SOT diaplikasikan melalui penyiraman lahan dan disemprotkan dengan aturan sebagai berikut : Menggunakan dosis 3-4 tutup botol SOT yang dilarutkan dalam 14 liter air. Penyemprotan pertama dilakukan ketika tanaman sudah berumur 5 hari sejak ditanam dan dilakukan 3 kali penyemprotan dengan jangka waktu setiap 15 hari sekali. Waktu untuk penyemprotan dilakukan pada sore hari setelah pukul 16.00 WIB atau pagi hari sebelum pukul 07.00 WIB.Agar effektif, arahkan semprotan pada sisi bawah daun karena posisi stomata (mulut daun) berada pada sisi bawah daun.5. Sistem Pengaturan Air Tanaman Padi OrganikMenurut para ahli, perkembangan dan pertumbuhan padi paling baik adalah dalam kondisi tanah lembab selama fase vegetatif. Pengaturan komposisi udara dalam tanah melalui pemberian air, lembab dan basah secara bergantian, akan meningkatkan keaneka-ragaman biota tanah yang berperan mendukung pertumbuhan dan perkembangan padi. Kandungan air dalam tanah sebesar 30 % sudah cukup ideal untuk maksud tersebut, dan untuk mencapainya perlu pengaturan sebagai berikut :a) Pada fase vegetatif, kondisi tanah sawah dipertahankan pada kondisi lembabb) Menginjak umur 1-8 hari setelah tanam (hst), keadaan tanah sebaiknya lembab agar kandungan udara dalam tanah tetap baikc) Menjelang hari ke 9-10 setelah tanam, sawah digenangi air dengan ketinggian 2-3 cmd) Umur 19-20 hst, pemberian air dilakukan untuk tetap mempertahankan kelembaban. Kemudian biarkan tanah sampai retak-retak (bukan retak karena terlalu kering-tanaman tetap segar) untuk merangsang pertumbuhan akare) Pada awal fase Pembungaan (Generatif), lakukan penggenangan air sekitar 1-2 cm hingga padi memasuki masa susu (sekitar 25 hari sebelum panen)f) Lakukan pengeringan lahan hingga masa panen6. Pengendalian Hama Tanaman Padi Organik Pola HCSUntuk mengatasi kemungkinan terjadinya serangan hama padi, dapat digunakan PHEFOC HCS sebagai Pengendali Hama Organik yang berfungsi sebagai Pestisida, Herbisida dan Fungisida. Aplikasi memakai PHEFOC sebaiknya dilakukan seminggu setelah penyemprotan SOT (Suplemen Organik Tanaman)Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, produksi padi organik pada tahun pertama aplikasi, hasilnya sudah lebih besar dari biasa namun belum begitu besar. Namun seiring makin membaiknya kondisi dan struktur tanah dengan pengolahan pola organik ini, pada tahun-tahun berikutnya produksi bisa meningkat 40 – 100 %. Salah satu faktor kenaikan tersebut karena adanya peningkatan pertumbuhan jumlah anakan bibit padi sekitar 30-90 anakan per rumpun dengan jumlah malai mencapai 40-60/rumpun. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatriseyowati@yahoo.co.idSumber: 1. http://organichcs.com/2014/02/07/5-cara-budidaya-padi-organik-dengan-pola-hcs/2. https://www.academia.edu/7624450/Padi_Organik_dan_Tuntutan_Peningkatan_Produksi_Beras