Banjir yang melanda Desa Wanakaya Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon Provinsi Jaa Barat pada tahun ini memang diluar kebiasaan, banjir tahun ini lebih besar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Terhitung sejak awal tahun sudah terjadi banjir sebanyak 6 kali. Topografi lokasi persawahan Desa Wanakaya berada di daerah rawan banjir berdampak yang paling berat dari bencana banjir tahun ini. Seluruh areal persawahan seluas 105 Ha di Desa Wanakaya terkena bencana bajir, namun yang terkena dampak paling parah sebanyak 46 Ha. Banjir tahun ini terbilang sangat merugikan bagi petani, hal ini dikarenakan banjir tahun ini membawa lumpur sehingga membuat tanaman padi mati walaupun umur tanaman berkiar 60 – 70 hari yang secara teori sudah kuat jika terendam air. Selain itu banjir tahun ini merendam tanaman padi lebih dari 1 minggu yang biasanya hanya 3 – 4 hari Petani Desa Wanakaya sebenarnya sudah sangat familier dengan bencana banjir, karena secara topografi Desa Wanakaya ini berada di daerah hilir sehingga sudah sejak dari jaman dahulu setiap tahun pasti terjadi bencana banjir. Melihat kondisi alam semacam ini petani dan penyuluh pertanian wilayah setempat hanya bisa melakukan tindakan yang bersifat penangulangan dampak yang ditimbulkan dari bencana banjir ini, adapun langkah yang diambil untuk menanggulangi dampak banjir adalah sebagai berikut: 1 Melakukan percepatan musim tanam. Seluruh petani dan steak holder yang berkecimpung di bidang pertanian sepakat untuk melakukan percepatan musim tanam, dimana pada akhir bulan Desember tahun 2017 dan awal Bulan Januari 2018 seluruh petani sudah menyelesaikan tutup tanam, hal ini dilakukan dengan dasar jika banjir datang umur tanaman sudah siap untuk menghadapi banjir yang biasanya datang di akhir Bulan Februari atau awal Bulan Maret setiap tahunnya, hal ini terbukti dengan petani mulai melakukan panen di akhir Bulan Maret dan awal bulan April (bagi yang tidak terkena dampak banjir). 2 Menjaga infrastrutur pendukung program pecepatan tanam Salah satu factor pendukung percepatan tanam adalah infrastruktur saluran pengairan dan ketersediaan air. Keyataan dilapangan pada Bulan November 2017 di mana petani akan melakukan olah tanah untuk melakukan percepatan tanam, saluran air terhambat karena adanya proyek yang memutuskan saluran irigasi. Dengan kekompakan dan kerjasama antara semua stek holder yang ada permaslahan ini dapat terpecahkan. 3 Petani di wajibkan untuk menanam padi dengan varieatas yang berumur pendek Tindakan ini diambil dengan dasar agar pada tahun ini petani dapat melakukan budidaya tanaman pangan sebanayak 3 kali sehingga pemanfaatan lahan bisa maksimal (karena sebagian besar lahan yang dibudidayakan oleh petani sebagian besar dari menyewa). Petani juga membuat aturan yang disepakati bersama pada penyuluhan awal musim tanam, bahwa seluruh petani harus menanam padi yang berumur pendek, jika ada petani yang menanam padi berumur panjang (contohnya varieatas muncul) akan diberikan sangsi, kesepakatan ini berhasil dilaksanakan dengan baik oleh seluruh petani yang ada 4 Memaksimalkan program Asuransi Usaha Tanaman Pangan (AUTP) Tidak dipungkiri bahwa bencana banjir berakibat pada tatalaksana budidaya tanaman padi. Tanaman yang terdampak harus dilakukan tindakan penanganan pasca banjir sehingga panen dapat terjaga. Tanaman yang mati akibat banjir harus dilakukan replanting dan dipupuk ulang agar dapat berkembang kembali, semua itu memerlukan biaya yang besarnya sama ketika melakukan penanaman. Hal inilah yang menjadi kendala bagi petani karena petani selain sawah yang terkena banjir, kediaman mereka pun terkena banjir. AUTP sangat membantu petani dalam penanganan kembali tanaman padi mereka, karena setiap hektar yang di klem akan mendapatkan biaya pengantian maksimal Rp 6.0000.000 (enam juta) untuk pengantian ongkos tanaman dan pemupukan kembali, dari total yang mengikuti program AUTP di Desa Wanakaya sekitar 72 Ha, yang di klem sekitar 46 Ha 5 Secara terus menerus melakukan pendampingan kepada petani Penanganan tanaman yang terdampak bencana banjir perlu dilakukan secara tepat. Pertimbangan yang diambil adalah keseragaman umur tanaman, pemupukan dan keuangan petani. Patani melakukan replanting dengan cara mencabut tamanan yang masih sehat dan dipisahkan menjadi beberapa bagian kemudian di tanam kembali. Hal ini dilakukan agar umur tanaman seragam dan waktu panen yang tidak terlalu jauh sehingga dapat melakukan tanam musim gadu pada bulan mei 2018 NB: Ditulis oleh Dodi Supriyanto selaku PPL Wilbin Wanakaya dan diambil dari pengalaman pribadi