Kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan. Kopra merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting, karena merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa yany di gunakan dalam kebutuhan sehari-hari dan juga di gunakan sebagai obat tradisional dan kecantikan. Kopra juga mempunyai daya jual yang lebih tinggi dari pada kelapa mentah. Daging kelapa didapat dengan mencungkil dari tempurung secara manual atau memakai mesin cungkil kopra kemudian dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau panas buatan.Kopra yang baik sebaiknya hanya memiliki kandungan air 6% – 7% agar tidak mudah terserang organisme pengganggu. Kerusakan yang terjadi pada kopra pada umumnya disebabkan oleh serangan bakteri dan serangan cendawan. Serangan tersebut mudah terjadi jika kadar air dalam kopra tinggi, kelembaban udara mencapai 80% atau lebih dan suhu atmosfer mencapai 30°C. Cendawan yang sering menyerang kopra adalah cendawan Rhizopus sp, Aspergillus niger, dan Penicillium glaucum. Alat bantu yang dibutuhkan untuk membuat kopra antara lain; mesin cungkil kopra, mesin pengering kopra atau lantai jemur. Mesin pengering kopra didesain untuk mempermudah dan mempercepat proses pembuatan kopra. Permasalahan utama kopra yang dihasilkan mutunya masih rendah karena belum melaksanakan penanganan pascapanen yang baik dan benar. Cara panen kelapa yang dilakukan oleh petani umumnya dengan dipanjat atau dibiarkan jatuh. Setelah dipanen langsung dikupas untuk diambil dagingnya dan kemudian dijemur langsung dengan alas terpal. Pada musim kemarau biasanya dijemur dihalaman samping atau depan rumah selama 2 sampai 3 hari. Dengan menjemur seperti itu menjadikan kopra terkontaminasi kotoran seperti debu sehingga menurunkan kualitas kopra itu sendiri. Kopra yang selama ini dihasilkan oleh petani masih dibawah standar sehingga untuk diolah menjadi minyak kelapa kualitasnya kurang baik. Teknik pengolahan kopra ada empat macam, yaitu 1) Pengeringan dengan sinar matahari (sun drying), 2) Pengeringan dengan tudung plastik, 3) Pengeringan dengan pengarangan atau pengasapan di atas api (smoke curing or drying), dan 4) Pengeringan dengan pemanasan tidak langsung (indirect drying) atau menggunakan oven.1. Penjemuran matahariCara ini memakan waktu lama 5-7 hari, sangat bergantung pada kondisi cuaca, dan kualitas kopra pun sering tidak stabil, berjamur, kadar air kurang maksimal adalah ciri khas dari teknik ini. 2. Penjemuran bertudung PlastikModifikasi dari penjemuran sinar matahari, tetapi memanfaatkan tudung plastik, kopra dijemur dalam areal plastik. Panas yang masuk ke dalam areal plastik akan bertahan lama sehingga penjemuran bisa lebih cepat dari penjemuran biasa. Teknik penjemuran ini lebih baik dari cara penjemuran matahari langsung 3. PengasapanCara ini adalah teknik yang banyak berkembang di petani kopra. Daging Kelapa dimasukkan ke dalam para-para tungku pengasapan dengan membakar sabut kelapa atau tempurung dibawahnya. Teknik ini membutuhkan waktu kurang lebih 3 hari. 4. PengovenanTeknik pengeringan kopra ini adalah yang terbaik untuk menghasilkan kopra. Teknik yang dipakai adalah model Lade oven. Prosesnya adalah kelapa basah disusun dalam lemari oven yang telah tersedia, kemudian dipanasi dalam kondisi tertutup; ke dalam ruangan ini dialirkan panas dengan suhu 40 derajat Celcius sampai 80 derajat Celcius. Panas dihasilkan dari pembakaran biomassa yang menghasilkan asap dan panas, kemudian dialirkan oleh blower untuk mengaliri oven pengering kopra. Dari ke empat macam pengeringan kelapa menjadi kopra tersebut, maka yang paling sederhana dilakukan adalah pengeringan menggunakan sinar matahari. Untuk itu sarana yang paling dibutuhkan adalah lantai jemur. Lantai jemur adalah tempat yang rata dan luas untuk menjemur hasil produk pertanian seperti gabah, kedelai, kakao, kopra, dll. Kegiatan peningkatan kapasitas kelompoktani tanaman tahunan khususnya kelapa dilakukan melalui pemberdayaan kelompoktani secara maksimal. Pengembangan usaha budidaya perkebunan kelapa dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas petani dalam penerapan cara sistem budidaya kelapa yang baik untuk meningkatkan produktifitas hasil kelapa dan mewujudkan usaha tani kelapa lestari (sustainable coconut) yang diharapkan dapat berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani kelapa secara berkesinambungan. Dalam rangka meningkatkan mutu hasil pascapanen kelapa, maka berbagai upaya dilakukan kepada kelompoktani kelapa. Pemerintah dan pemerintah daerah sering memberikan bantuan fasilitas kepada petani kelapa yang tergabung dalam kelompoktani kelapa berupa lantai jemur. Diharapkan dengan adanya bantuan sarana lantai jemur kelapa tersebut dapat meningkatkan mutu kopra dan dapat berdaya saing. Lantai jemur yang baik kontruksinya sebagai berikut: berukuruan 10 meter x 10 meter dengandiberi fondasi sekelilingnya. Penulis: Shalimar Andaya Nia Tamimi.Sumber: Petunjuk Pelaksanaan Program READ, Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2013.