Loading...

LEGOWO DUA DI PEKARANGAN

LEGOWO DUA DI PEKARANGAN
Pada pemerintahan Presiden Joko Widodo ini kumandang tersebut lebih digemakan kembali dan menargetkan swa sembada pangan khususnya padi, jagung dan kedele ini dapat tercapai selama 3 (tiga) tahun kedepan. Program ini disebut juga sebagai program PAJALE atau PAJEKA. Dimana produksi beras ditargetkan meningkat hampir 30 %. Sehingga Indonesia diharapkan tidak impor beras lagi. Namun demikian Indonesia pernah jaya dalam swa sembada angan khususnya beras ada Tahun 1984 dan keberhasilan tersebut diakui oleh Food Agriculture Organitation (FAO). Namun setelah tahun tersebut produksi padi / beras kita mengalami penurunan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Produksi padi / beras di Indonesia kembali surplus setelah mengarungi 20 tahun tepatnya pada Tahun 2004. Produksi dan kebutuhan beras di Indonesia selalu berfluktuasi seiring dengan meningkatnya penduduk, hal ini mengakibatkan cadangan pangan kita semakin berkurang. Upaya untuk berswa sembada pangan ini hampir selalu dikumandangkan seiring dengan pergantian pemerintahan. Sejalan dengan program pemerintah dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di tingkat keluarga, Bapak Tardi salah seorang anggota Kelompoktani Tani Maju Desa Sukadana Kecamatan Tukdana telah mengembangkan tanaman padi legowo dua di lahan pekarangannya. Pengembangan tanaman padi di pekarangan sebenarnya bukan merupakan hal baru, di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya sudah banyak diterapkan petani.Di kabupaten Indramayu tanaman padi di pekarangan telah banyak diperkenalkan kepada petani, namun perkembangannya masih terbatas. Di Kecamatan Tukdana, menurut Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tukdana Sdr. Yoyo Hudaya, anggota kelompoktani yang berusaha seperti Bapak Tardi sebenarnya ada sebanyak 5 (lima) petani yang tersebar di 5 (lima) desa. Namun yang terus menerus mengembangkan ya pak Tardi itu. Jauh sebelumnya Bapak tardi juga telah memanfaatkan lahan pekarangan dengan tanaman hias dan kangkung darat. Namun karena pendapatan yang kurang memuaskan , maka sejak pada musim tanam 2013/2014 mencoba beralih menanam padi di lahan pekarangan.Lahan seluas 5 bata atau 70 m persegi, beliau sulap dan ditanami dengan padi dalam polibag. Dari luas tersebut lahan pekarangannya mampu menampung 540 polibag tanaman padi. Sebagai wadahnya yaitu polibag dengan diameter 28 cm diisi dengan kompos. Banyaknya kompos yang diperlukan untuk media tanaman 540 polibag padi sebanyak tanah 2 trailer traktor, 20 karung sekam @ 25 kg dan kompos 6 karung @ 50 kg. Dalam hal pemeliharaan tanaman padi, menurut bapak Tardi lebih mudah dibandingkan di areal persawahan. Menurut Pak Tardi pertama-taman yang harus disiapkan adalah pembuatan media tanam yaitu mencampur tanah 2 trailer traktor, 20 karung sekam @ 25 kg dan kompos 6 karung @ 50 kg. Setelah tercampur merata tanah 2 trailer traktor, 20 karung sekam @ 25 kg dan kompos 6 karung @ 50 kg. Media tanah tersebut dimasukan ke dalam polibag. Bersamaan dengan mencampur tanah benih padi dipersiapkan dengan direndam selama 2 hari, 2 malam dan ditiriskan selama 2 hari sampai benih tersebut keluar bakan akarnya. Banyaknya benih yang dibutuhkan yaitu 40 gram.Setelah keluar bakal akar benih padi ditanam ke polibag dengan jumlah 1 biji per polibag. Adapun varietas padi yang ditanam adalah variaetas Cereh (beras merah). Penyiangan dilakukan dengan manual setiap 3 hari sekali tergantung banyaknya gulma yang tumbuh. Pemupukan dilakukan pada saat hari saat 20 hari setelah tanam dengan urea sebanyak 2,5 kg dan ponska sebanyak 2 kg untuk 540 polibag. Setelah itu diberikan pupuk NPK pada saat 70 hari setelah tanam, pada saat pengisian bulir. Sedangkan pengairan dibutuhkan pada saat curah hujan kecil, dengan cara meniram menggunakan semprotan. Apabila bila curah hujan tinggi tanaman praktis tidak disiram. Pengendalian hama dilakukan dengan melihat perkembangan hama yang ada pada tanaman. Pengendalian hama dengan melakukan pengamatan secara dini dan bila ditemukan hama lasung secara fisik dibunuh dapat mengurangi pengeluaran biaya. Pengendalian hama dilakukan secara tidak sengaja karena menggunakan pestisida sisaan dari petani lainnya yang sudah menyemprot. Walaupun pertanaman sudah disemprot, namun hama tetap menyerang, antara lain teklik atau busuk leher dan walang sangit, sehingga produksi padi kurang optimal.Berdasarkan pengamatan Pak Tardi umur tanaman padi dalam polibag mencapai 102 hari setelah tanam benih. Dari hasil sampel panenan jumlah rata-rata anakan 37 dengan berat 89,9 gram. Dengan demikian dari luasan 70 m persegi dengan jumlah polibag yang ada sebanyak 540 buah, maka produksi padi yang dihasilkan mencapai 48,55 kg. Hasil panenan sampel tanaman padi dalam polibag sebagai berikut : No Polibag Jumlah Anakan Berat (gram)1 1 42 95,02 2 37 83,73 3 40 103,74 4 33 83,55 5 34 83,6 Jumlah 186 449,5 Rata-Rata 37 89,9 Analisa usahatani padi di pekarangan No Uraian Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Jumlah Biaya (Rp) Penerimaan (Rp)A Pengeluaran 1 Polibag 11 Pak @ Rp. 11.000,- = Rp. 121.000,- 2 Kompos 6 karung @ Rp. 16.000,- = Rp. 96.000,- 3 Benih 0,040 kg @ Rp. 11.000,- = Rp. 440,- 4 Pupuk Urea 2,5 Kg @ Rp. 2.000,- = Rp. 5.000,- 5 Pupuk Ponska 2 Kg @ Rp. 3.000,- = Rp. 6.000,- 6 Pupuk NPK 2 Kg 2 Rp. 9.000,- = Rp. 18.000,- 7 Pestisida - - - - Jumlah Biaya = Rp. 246.440,- B Penerimaan 48,55 kg @ Rp. 8.000,- = Rp. 388.400,-C Keuntungan = Rp. 141.960,- B/C ratio = 1,58 Dalam mengelola usahatani padi tidak hanya mengejar produksi yang tinggi tetapi bagaimana memperoleh pendapatan yang layak diterima petani. Tanaman padi di pekarangan memerlukan biaya Rp. 246.440,-. Sedangkan penerimaannya sebesar Rp. 388.400,-. Sehingga ada keuntungan sebesar Rp. 141.960,- Bila dihitung B/C Rationya sebesar 1,58. (Edi Harnadi- Penyuluh Pertanian Madya Kabupaten Indramayu).