Loading...

Lestarikan Rumah Gadang, Agam Bangun Agrowisata Rumah Gadang Nan Tigo

Lestarikan Rumah Gadang, Agam Bangun Agrowisata Rumah Gadang Nan Tigo
AMPEK ANGKEK: Eksistensi rumah gadang di Sumatera Barat saat ini mulai pudar. Masyarakat lebih cenderung untuk membangun rumah secara permanen dengan menggunakan material besi dan beton. Diberbagai daerah sangat terlihat rumah gadang yang tidak lagi terawat dengan baik, bahkan nyaris tidak ditempati. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya tradisi merantau masyarakat Minang yang membuat generasi minang yang ditinggalkan oleh pemimpin mereka, ninik mamak dan penghulu mereka ke tanah rantau. Kondisi inilah yang membuat masyarakat Jorong Koto Marapak Nagari Lambah Kecamatan Ampek Angkek berpikir untuk kembali melestarikan rumah gadang di daerahnya. Atas dasar inisiatif ini, berawal dari aspirasi untuk membangun potensi kampung dari masyarakat rantau, rumah gadang suku jambak kembali dibenahi. Adalah Zulfandi, perantau Koto Marapak yang pulang kampung demi melestarikan rumah gadang milik keluarganya. Melibatkan masyarakat sekitar dengan mendirikan kelompok tani, Cun sapaan akrabnya memberi nama kelompok tani ini dengan nama kelompok tani Rumah Gadang Nan Tigo. Dibangun sejak empat tahun yang lalu Cun dan kawan-kawan memanfaatkan pekarangan rumah gadang yang mencapai luas enam hektar ini dengan ditanami berbagai komoditi pangan dan hortikultura. Atas pembinaan yang dilakukan oleh jajaran Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4K2P) Kabupaten Agam di wilayah kerja Kecamatan Ampek Angkek, kelompok tani Rumah Gadang Nan Tigo terus mengalami kemajuan. Pembinaan kelompok dan kelembagaan terus dilakukan. "Potensi Koto Marapak sangat mendukung kegiatan kelompok ini. Luas lahan yang cukup dan memadai membuat kelompok cepat berkembang memajukan usaha pertaniannya", ungkap Arwin Kepala UPT BP4K2P Kecamatan Ampek Angkek. "Tidak hanya potensi wilayah yang dapat dikembangkan, dengan keberadaan dan pemanfaatan rumah gadang secara agribisnis hal ini akan menjadi income lebih bagi kelompok. Usaha pertanian yang dilakukan kelompok akan memberikan dampak lebih bagi masyarakat dan daerah dengan seiring dengan pelestarian rumah gadang sebagai ikon penting bagi identitas masyarakat Minang", ungkap Monisfar Kepala BP4K2P Kabupaten Agam yang berkunjung ke lokasi beberapa waktu lalu. Perhatian besar pemerintah atas swadaya dan inisiatif masyarakat ini juga berbalas. Atas keuletan kelompok tani Rumah Gadang Nan Tigo pemerintah mempercayakan kelompok untuk mendapatkan program SL Jeruk pada tahun anggaran 2014 yang lalu. Lahan seluas lebih kurang 5 hektar ditanami jeruk termasuk dengan beberapa lahan masyarakat sekitar kelompok. "Ada yang unik dari kelompok tani Rumah Gadang Nan Tigo, usaha pertanian digandengkan dengan ekowisata" ungkap Ir. Djoni Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumbar. Selian perlakuan usaha pertanian, kelompok turut bergiat melestarikan budaya minang kabau khususnya terhadap pelestarian rumah gadang dengan mengemasnya kedalam konsep agrowisata. "Hal ini patut menjadi perhatian seiring dengan upaya pemerintah membangun kekuatan dunia pertanian yang terus dilakukan serta upaya penyelamatan aset-aset budaya Minang yang juga harus dilakukan", tambahnya Selaku masyarakat dan anak nagari, Cun sangat berharap keberadaan rumah gadang dapat terus dipertahankan. "Perhatian besar dari pemerintah mulai dari Jorong, Nagari, Pemerintah Kabupaten Agam dan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat yang selama ini sangat dirasakan, telah memotivasi kelompok untuk terus mengembangkan usaha yang tengah dilakukan. Besar keyakinan kelompok dan masyarakat bahwa agrowisata Rumah Gadang Nan Tigo akan semakin besar dan semakin dikenal tidak hanya regional, bahkan sampai ke manca negara", ujar Cun. (ab 9/6 2015) Sumber : http://www.agammenyemai.com/2015/06/lestarikan-rumah-gadang-agam-bangun.html