Ketersediaan pakan hijauan rumput secara umum mencukupi disebabkan dapat tumbuh subur hampir disemua tempat di Indonesia. Pakan hijauan rumput juga mudah didapatkan serta memiliki palatabelitas yang cukup baik. Ketersediaan pakan hijauan rumput di Indonesia terbilang cukup melimpah, terutama pada musim penghujan. Namun ketika musim kemarau, ketersediaan pakan hijauan rumput semakin menipis. Sebagian besar hijauan pakan yang diberikan kepada ternak ruminansia juga merupakan rumput lokal yang berkualitas rendah. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peternak dapat menggunakan pakan hijauan alterbatif. Salah satu alternatif pakan hijauan ternak adalah dengan memanfaatkan dan mengembangkan limbah hasil perkebunan yaitu dari perkebunan kelapa sawit. Limbah perkebunan kelapa sawit adalah salah satu bahan pakan yang memiliki potensi sangat tinggi disebabkan ketersediaannya yang cukup besar. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2009 lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat seluas 7,95 juta hektar, meningkat menjadi 10,46 juta hektar pada tahun 2013. Pada tahun 2014 diperkirakan luas areal perkebunan kelapa sawit masih meningkat sebesar 4,69 persen dari tahun 2013 menjadi 10,96 juta hektar dan di tahun 2015 meningkat sebesar 4,46 persen menjadi 11,44 juta hektar. Tingginya luasan areal kelapa sawit berbanding lurus dengan tingginya ketersediaan limbah kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif. Umumnya bagian-bagian tanaman dari kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terdiri dari daun, pelepah, lumpur, bungkil, dan bungkil inti sawit. Kandungan gizi pada bungkil inti sawit lebih tinggi dibanding limbah lainnya dengan kandungan protein kasar 15% dan energi kasar 4.230 kkal/kg, sehingga dapat berperan sebagai pakan penguat (konsentrat). Bahan ini mempunyai gizi yang baik, mengandung asam-asam amino esensial dengan komposisi yang baik. Pemberian bungkil inti sawit pada ternak akan meningkatkan kandungan lemak susu, kekentalan keju, dan mutu daging. Pemberian bungkil inti sawit pada sapi dapat meningkatkan bobot badan antara 0,6 – 1 kg/hari dengan tingkat konsumsi antara 4,8 – 6kg. Salah satu alternatif peningkatan mutu bungkil inti saeit adalah teknik fermentasi secara substrat padat. Fermentasi dengan menggunakan kapang memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi lebih tersedia, sehingga diharapkan pula nilai nutrisinya meningkat. Untuk mengoptimalkan penggunan limbah pengolahan kelapa sawit berupa bungkil inti sawit dapat memanfaatkan teknologi fermentasi dengan penambahan biostarter seperti kapang Aspergillus niger.Berdasarkan literatur dari Litbang Pertanian Kalimantan Tengah, berikut tata cara/prosedur fermentasi bungkil inti sawit dengan memanfaatkan Aspergillus niger. Bungkil inti sawit ditambah air sebanyak 600 ml per kg bungkil inti sawit, kemudian ditiriskan, agar tidak terlalu basah. Bahan yang telah ditiriskan, dikukus dan dibiarkan sampai uap air keluar dan ditutup, kemudian dibiarkan selama 30 menit. Proses selanjutnya didinginkan hingga suhunya ± 700C dan diaduk bersama campuran mineral. Setelah itu dicampur dengan kapang Aspergillus niger sebanyak 6-10 g per kilogram bahan, diaduk sampai merata dan dimasukkan ke dalam loyang plastic. Selanjutnya difermentasi pada suhu 300C selama 3 hari, kemudian dilakukan proses enzimatis selama 2 hari dengan cara dipadatkan dalam kantong plastik dengan kondisi hampa udara. Pada proses enzimatis dipergunakan suhu ruang dan 400C. Tahap selanjutnya adalah pengeringan dalam oven pada suhu 600C selama lebih kurang 2 hari. Fermentasi terhadap bungkil inti sawit menyebabkan adanya perubahan kandungan nutrisi bahan pakan tersebut. Kandungan protein kasar dan sejati selama proses fermentasi berbeda dengan yang tanpa fermentasi. Dengan dilakukannya fermentasi serta proses enzimatis meningkatkan kandungan proteinnya dengan peningkatan sebesar 21%. Tak hanya itu, Kecernaan bahan kering (KBK) juga turut meningkat dengan peningkatan sebesar 5%. Limbah perkebunan sawit lainnya berupa daun dan pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak. Secara umum kedua bahan pakan tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh peternakan. Produksi daun/pelepah dapat mencapai 10,5 ton pelepah kering/ha/tahun. Kandungan protein kasar pada kedua bahan pakan tersebut masing-masingnya mencapai 15% Bahan Kering/BK (daun) dan 2 – 4% BK (pelepah). Untuk daun kelapa sawit mengandung serat, N, bahan organik dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pemeliharaan ternak khususnya domba. Kandungan zat gizi makanan pada daun antara lain : CP (14.8%), CF (3.2%), NCFE (6.5%), selulosa (16.6%), hemiselulosa (27.6%), lignin (27,6%), silika (3.8%). Pelepah kelapa sawit yang baru dipotong dalam bentuk segar dapat diberikan sebagai pakan ternak, setelah lebih dahulu diolah dengan mencacah menjadi bentuk pendek atau digiling dengan mesin menjadi bentuk abon. Namun sayangnya, apabila diberikan secara langsung/ dipotong terlebih dahulu, ternak ruminansia terutama kambing tidak terlalu menyukainya atau dapat dikatakan palatabilitasnya rendah. Tak hanya itu, kandungan gizinya juga tidak mencukupi. Dengan demikian, perlu dilakukan fermentasi terhadap kedua bahan pakan tersebut. Fermentasi dilakukan dengan mikroba ragi "Trichoderma viride dan Rhizopus oligosporus". Kandungan protein daun dan pelepah sawit yang relatif rendah setelah terfermentasi selama 14 hari, protein mengalami peningkatan sekitar 3%. Selain itu bentuk fisik juga menjadi lembut dan aromanya menjadi wangi dan disukai oleh ternak. Mikroba tersebut dapat diperbanyak melalui inokulum dengan cara memasukan dua liter biakan inokulum kedalam larutan air campuran bioreaktor, 3 kg gula pasir, 2 kg tepung beras, 2 kg ragi tempe, 1 kg urea, 1 kg KCl dan 1 kg SP-36. Biakan dalam bioreaktor dilakukan aerasi dan pengadukan selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, larutan mikroba siap digunakan untuk fermentasi daun dan pelepah kelapa sawit. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) 1. Junjungan dkk. 2015. Laporan Tahunan 2014 : Loka Penelitian Kambing Potong (lolitkambing.litbang.pertanian.go.id, diakses 14 Maret 2016)2. Supriyati dkk. 1998. Fermentasi Bungkil Inti Sawit Secara Substrat Padat Dengan Menggunakan Aspergillus Niger (http://kalteng.litbang.pertanian.go.id, diakses 14 Februari 2016)3. Yusriani, Yenni. Potensi Limbah Sawit Sebagai Sumber Nutrisi Pakan Ternak (http://nad.litbang.pertanian.go.id, diakses 13 Maret 2016)4. Badan Pusat Statistik. 2015. Statistis Kelapa Sawit Indonesia 2014. (http://bps.go.id, diakses 14 Maret 2016)