Pakan merupakan komponen paling penting diperhatikan dalam usaha peternakan karena 70 persen keberhasilan beternak sapi ditentukan oleh ketersediaan pakan baik jumlah, mutu maupun kontinuitasnya. Berkurangnya padang pengembalaan di berbagai wilayah di Indonesia menyebabkan penyediaan rumput alam untuk hijauan pakan terus berkurang. Padang pengembalaan yang cenderung berkurang setiap tahun berdampak kepada terbatasnya produksi hijauan rumput untuk pakan, karena itu perlu upaya mencari pakan hijauan atau pakan yang mengandung serat. Pakan alternatif sangat diperlukan untuk memenuhi permintaan pakan yang terus meningkat seiring peningkatan jumlah populasi sapi dalam upaya mendukung program swasembada daging tahun 2014. Pemanfaatan Limbah Jagung. Nutrisi esensial bagi ternak sapi adalah air, mineral dan vitamin. Keseluruhan nutrisi esensial tersebut berasal dari air minum dan pakan. Pakan secara garis besarnya dibagi dua bagian yaitu hijauan rumput dan konsentrat. Hijauan pakan ternak dilihat dari sumber produksi dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu (i) yang bersumber dari lahan pertanian (perkebunan dan pangan) dan (ii) hijauan pakan yang bersumber dari lahan padang pengembalaan. Sebagai alternatif, limbah tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Limbah ini terdiri dari batang, daun, kulit tongkol dan janggel. Bagian-bagian ini mencapai 1,5 kali bobot biji yang artinya bahwa jika dihasilkan 8 ton biji per ha maka diperoleh 12 ton limbah yang dapat dijadikan pakan sapi, baik secara langsung maupun melalui pengolahan lebih dahulu. Selain itu limbah jagung ini dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan pakan komplit sebagai salah satu upaya mengurangi konsumsi hijauan pakan. Limbah tanaman jagung biasanya melimpah pada saat panen, sehingga tidak setiap saat tersedia karena itu diperlukan teknologi pengolahan limbah saat melimpah dan disimpan untuk persediaan pakan sapi atau ternak ruminansia lainnya pada saat musim kemarau. Selain itu disinyalir bahwa nilai gizi limbah tanaman jagung rendah. Oleh karena itu, pengolahan limbah tanaman jagung perlu dilakukan untuk meningkatkan daya cerna dan nilai gizinya. Pengolahan limbah tanaman jagung ditujukan selain untuk tahan disimpan juga meningkatkan kandungan nutrisinya. Nilai nutrisi silase jagung 30-50 % lebih tinggi dan volume penyimpanan lebih hemat tempat 10 kali dibandingkan dengan hay. Kandungan Nutrisi Limbah Jagung. Limbah tanaman jagung kering yang difermentasi pada kandungan protein 11% direkomendasikan untuk makanan kambing hingga 40%. Limbah tanaman jagung terfermentasi juga sangat kaya dengan beberapa mineral esensial dan mengandung anti nutrisi rendah. Limbah tanaman jagung yang melimpah ini dapat diolah menjadi hay, silase, diamoniase atau dijadikan bahan baku pembuatan makanan ternak yang dipadatkan. Dengan demikian seluruh limbah tanaman jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak sapi. Kandungan nutrisi tanaman jagung perlu diketahui untuk memudahkan dalam kombinasi pemberian pakan maupun suplemen pada ternak. Nutrisi tanaman jagung dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah bagian tanaman yang dipanen, cara penyimpanan, kelembaban dan prosesing. Kelembaban yang tinggi dapat menurunkan nilai nutrisi bagian atau komponen panen pada tanaman jagung. Nutrisi limbah tanaman jagung dapat ditingkatkan melalui fermentasi. Nilai protein, lemak, serat kasar, abu dan tanin meningkat dengan perlakuan fermentasi, sedangkan zat anti nutrisi phytate mengalami penurunan, meskipun terjadi peningkatan tanin akan tetapi tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan penurunan anti nutrisi phytate yang cukup tajam akibat perlakuan fermentasi, hal ini memberi indikasi bahwa dengan fermentasi kualitas pakan yang bersumber dari limbah tanaman jagung dapat ditingkatkan. Beberapa cara pengawetan hijauan. Untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan pada saat musim kemarau maka kelimpahan pakan di musim hujan dapat diolah atau diawetkan sehingga tahan untuk disimpan. Berikut adalah dua teknik pengawetan hijauan pakan yang populer: 1. Pengawetan dengan teknik hay. Teknik pengawetan hay dapat dilakukan dua cara yaitu dengan pengeringan secara alami atau menggunakan mesin pengering. Pengeringan secara alami dengan menjemur di bawah terik sinar matahari langsung atau diangin-anginkan di kolong rumah, di bawah pohon, gudang dan lain lain. Hijauan atau tanaman yang sudah menjadi hay dijaga agar jangan sampai terkena air hujan karena akan menyebabkan terjadinya pembusukan dan menurunkan nilai gizi. Keuntungan hay adalah menghemat tempat karena volume dan bobot limbah tanaman jagung mengalami banyak penyusutan setelah menjadi hay. 2. Pengawetan dengan teknik silase. Tujuan pembuatan silase adalah untuk memaksimalkan pengawetan kandungan gizi yang terdapat dalam hijauan jagung atau bahan pakan lainnya agar dapat disimpan dalam waktu lama untuk kemudian diberikan kepada ternak, sehingga dapat menyimpan pakan yang melimpah di musim hujan atau seresah jagung untuk mengatasi kesulitan mendapatkan pakan cukup pada musim kemarau. Pakan yang akan diawetkan diproses dari bahan baku berupa hijauan, limbah industri pertanian serta bahan pakan alami lainnya pada kadar air 40-80%. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam silo atau tempat tertutup rapat kedap udara. Selain itu teknik silase atau fermentasi limbah tanaman jagung dimaksudkan untuk menyimpan dalam kondisi kelembaban tinggi pada wadah kedap udara karena dapat meningkatkan kadar etanol dan asam asetat untuk memperbaiki kualitas nutrisi pakan. Fermentasi limbah tanaman jagung tidak hanya meningkatkan nilai protein, lemak maupun serat kasar, akan tetapi juga meningkatkan nilai mineral esensil yang sangat diperlukan dalam metabolisme tubuh ternak. Dengan perlakuan fermentasi maka, mineral seperti Fe, Zn, Mg, Ca dan K meningkat, sedangkan Na mengalami sedikit penurunan. Proksimat dan kandungan mineral limbah tanaman jagung berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa fermentasi melalui pembuatan silase meningkatkan nilai gizi. Hal ini menunjukkan bahwa limbah tanaman jagung mempungyai potensi cukup besar sebagai pakan alternatif untuk subtitusi hijauan pakan pada usaha ternak penggemukan sapi yang selama ini pakannya didominasi oleh konsentrat dengan harga cukup mahal. Subtituasi pakan ternak sapi potong hingga 60% dengan menggunakan bahan pakan yang murah seperti limbah tanaman jagung yang dibuat silase atau hay dapat mengurangi biaya produksi, sehingga dengan demikian akan menambah keuntungan bagi peternak. Pengolahan limbah tanaman jagung juga menunjang penyediaan pakan untuk ternak sapi dalam pola usaha tani intergrasi tanaman jagung dengan ternak sapi yang sudah berjalan dibeberapa propinsi. (Ir. Amirudin Aidin Beng, M.M. Sumber: Pengolahan Limbah Tanaman Jagung untuk Pakan Ternak Sapi Potong, Balai Penelitian Tanaman Serealia, http://kalsel.litbang.pertanian.go.id, 2013)