Loading...

Limbah Tanaman Ubi Kayu sebagai Pakan Ternak

Limbah Tanaman Ubi Kayu sebagai Pakan Ternak
Tanaman ubi kayu merupakan merupakan makanan pokok setelah padi dan jagung. Ubi kayu dimanfaatkan sebagai bahan makanan, industry kecil, pakan ternak, farmasi dan lain-lain. Seluruh bagian strukturnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Sebagai sumber serat dapat digunakan batangnya, sedangkan sebagai sumber energi dan protein dapat digunakan umbi dan daunnya. Pemanfaatan ubi kayu sebagai pangan konsumsi berupa gaplek maupun tapioka. Jika digunakan untuk ternak , menghasilkan biomassa sumber energi (umbi) dan protein (daun) dalam jumlah besar. Produksi utama dan ikutan tanaman ubi kayu terdiri dari umbi, daun dan kulit serta onggok. Salah satu tanaman yang telah berhasil adalah tanaman cassava atau ubi kayu yang mampu menyediakan bahan makanan ternak berupa daun dan dapat tumbuh sepanjang tahun serta dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah.Limbah tanaman ubi kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terbagi menjadi 2 bagian yaitu : 1) berasal dari lahan pertanian, berupa daun ubi kayu setelah masa panen; 2) berasal dari pabrik pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioca atau industry makanan, berupa kulit ubi kayu, potongan-potongan yang tidak masuk ke mesin penggilingan dan onggok. Umbi ubi kayu merupakan karbohidrat utama sebagai sumber energy dalam ransum ternak babi dan unggas. Penggunaan umbi ubi kayu dalam ransum harus diimbangi dengan protein yang lebih tinggi karena kandungan karbohidrat pada umbi cukup tinggi, sedang kandungan protein lebih rendah. Namun kandungan asam amino dari umbi ini cukup baik untuk dapat digunakan oleh ternak pada masa pertumbuhan. Faktor pembatas dalam penggunaan ubi kayu karena adanya racun asam sianida (HCN) yang terdapat dalam bentuk glikosida sianogenik. Kandungan HCN normal pada ubi kayu sebesar 15 – 400 ppm HCN per kg berat segar . Manusia tidak dapat mengkonsumsi lebih dari 1 mg HCN per kg bobot badan per hari. Walaupun mengandung racun yang berbahaya, namun tanpa efek keracunan yang berarti karena HCN umbi masih dalam batas yang tidak membahayakan. Penggunaan ubi kayu dalam ransum ternak berdasarkan penelitian, untuk unggas 5-10 %, babi 40-70 % dan ruminansia 40-90 %. Cara yang cukup praktis dan efektif untuk mengurangi kadar HCN, dengan mencincang dan pengeringan dengan panas matahari. Tanaman ubi kayu umumnya 10-40% terdiri dari daun. Produksi daun ubi kayu segar sekitar 10-40 ton/ha/tahun atau 2,3 ton berat kering /ha/tahun. Daun ubi kayu sangat baik untuk sumber protein karena mempunyai kandungan protein 28,8% . protein yang terdapat di dalam daun ubi kayu kurang tahan terhadap degradasi rumen. Sedangkan pada kulit dan onggok memiliki kandungan TDN yang cukup tinggi yaitu 74,4% pada kulit dan 82,7 % untuk onggok.Daun ubi kering (hay) dapat dijadikan sebagai sumber protein menggantikan bungkil kedelai pada sapi perah. Selain itu hay daun ubi kayu juga berperan sebagai obat anti cacing pada ruminansia. Kandungan tanin pada daunnya berpotensi mempunyai daya tahan terhadap parasit pada saluran pencernaan. Penggunaan kulit ubi kayu secara ad libitum pada domba dikombinasikan dengan daun Fiicus exasperate dapat meningkatkan kelarutan dan kecernaan potensial dari bahan kering dan nitrogen dari kulit ubi kayu. Kulit ubi kayu dapat digunakan sebagai pengganti rumput lapangan sebesar 30 % di dalam ransum komplit untuk domba. Sedangkan dalam bentuk pellet ubi kayu dapat menggantikan rumput lapangan sebesar 7.5 %. Pucuk ubi kayu, sangat digemari ternak terutama daun yang tua sepenuhnya dimanfaatkan untuk ternak. Selain itu potensi bahan kering jerami ubi kayu lebih tinggi dibandingkan jerami kacang tanah dan mampu tumbuh hampir disemua kondisi lahan kering. Jerami ubi kayu mempunyai kualitas dan palatabilitas yang tinggi,sehingga optimalisasi penggunaannya sebagai pakan ternak dapat mensupplai sebanyak 30.080 UT/tahun. Ada beberapa teknik pengolahan dan penggunaan bahan pakan asal tanaman ubi kayuyaitu : 1) Pengeringan dengan matahari, 2) teknik silase; 3) Pellet; 4) Fermentasi. 1) Pengeringan dengan matahari : merupakan cara yang murah untuk menyimpan pakan ternak. Petani menyimpan umbi ubi kayu dengan memotong secara manual dan dijemur sebelum menjualnya. Pengeringan dengan panas matahari hanya dilakukan pada musim kering. Jika pengeringan dilakukan pada musim hujan maka akan mengundang tumbuhnya bakteri dan jamur , Selain itu dapat menyebabkan terjadinya kehilangan bahan yang telah kering karena kondisi angin. Penjemuran dilakukan di jalan atau depan rumah, namun mudah kontaminan, seperti kotoran dan mikroorganisme. Oleh karena itu harus dibuat wadah penjemuran dengan ketinggian 0,5 – 1 m di atas tanah. Untuk mempercepat proses pengeringan bahan sebelumnya dipotong menjadi 3 -5 cm.yang akan mempercepat penguapan dan mengurangi kandungan asam yang toksik seperti HCN. Tujuan pengreringan untuk mengurangi kadar air pada hijauan seminimal mungkin sehingga menghambat aktivitas enzim pada sel tanaman. Hay dengan kualitas terbaik mengandung kadar air antara 13 – 14% berdasarkan bahan kering.2) Teknik silase, Bahan pakan dapat disilase sepanjang waktu, dengan mencampur hijauan yang telah dipotong dengan molasses dalan kantong plastic, hingga mencapai suasana anaerob. Kondisi anaerob bertujuan untuk menghilangkan aktivitas mikroorganisme seperti clostridia dan enterobacteria. Pertumbuhan mikroorganisme menghasilkan asam butirat dan mendegradasi asam amino, sehingga menurunkan nilai nutrisi silase.3) Pellet ubikayu, dibuat melalui proses penggilingan ubi kayu yang telah dikeringkan, dengan menggunakan steam pelleting. Pembuatan pakan dalam bentuk pellet akan mengurangi polusi , dapat mengurangi biaya transportasi.4) Fermentasi, peningkatan protein ubi kayu dapat dilakukan dengan fermentasi Penyunting : Asia (Penyuluh BPPSDMP)Sumber Informasi : Berbagai sumberSumber Gambar : www.psychologymania.com