Loading...

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT) PADA PRODUK HORTIKULTURA

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN  (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT) PADA PRODUK HORTIKULTURA
Komoditas hortikultura tropika dari Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk menembus pasar luar negeri, mengingat keunggulan dan kekhasannya. Namun demikian, peluang ini masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal, mengingat pola pengelolaan usaha hortikultura yang pada umumnya dilakukan dalam skala kecil dan tersebar. Selain itu, kondisi rantai pasokan hortikultura dari produsen hingga konsumen saat ini masih terlalu panjang, tidak transparan dan tidak tertata, sehingga mengakibatkan terjadinya perbedaan (disparitas) yang besar antara harga di tingkat produsen dan konsumen. Panjangnya rantai pasokan sebagian besar didominasi oleh pedagang, baik pedagang pengumpul tingkat desa dan kecamatan, pedagang besar, maupun eksportir yang sering kali tidak memberikan nilai tambah apa pun terhadap produk yang akan dipasarkan, namun tetap mengambil margin tataniaga. Keadaan ini mengakibatkan keuntungan agribisnis hortikultura masih banyak yang dinikmati oleh pedagang (bukan oleh petani), dan petani berada dalam posisi yang paling tidak berdaya, sehingga sulit untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor, terutama dalam hal mutu, jumlah dan kesinambungan pasokan. Tentu saja keadaan tersebut perlu segera diperbaiki, agar produk pertanian Indonesia dapat bersaing dengan produk pertanian negara lain, tidak hanya di pasar internasional, tetapi yang lebih penting di pasar domestik yang kini banyak dibanjiri oleh produk impor, mengingat Indonesia dengan jumlah penduduknya yang mencapai sekitar 240 juta jiwa, merupakan pasar potensial bagi produk pertanian impor, khususnya hortikultura. Pedekatan Manajemen Rantai Pasokan (SCM) Kunci peningkatan daya saing, terletak pada kemampuan untuk menghasilkan produk berkualitas dengan biaya yang efisien, skala usaha yang ekonomis serta manajemen usaha yang efisien. Oleh karena itu, pengelolaan agribisnis hortikultura perlu dilakukan secara menyeluruh dan terpadu melalui pendekatan manajemen rantai pasokan (SCM), mulai dari sub sistem hulu, budidaya, hilir dan penunjang. Pada intinya manajemen rantai pasokan (SCM) dimaksudkan untuk melayani konsumen dengan produk yang diinginkan dalam tingkat harga yang terjangkau, namun juga menguntungkan bagi para pelaku produksi dan distribusinya; menjamin kesinambungan pasokan produk; menstabilkan harga; memperkuat permodalan; memperkuat posisi tawar melalui usaha kelompok; meningkatkan mutu; serta meningkatkan kemitraan dan interaksi antarpelaku usaha.Pemahaman akan Rantai Pasokan untuk Meningkatkan Efisiensi UsahaPendekatan manajemen rantai pasokan (SCM) didasarkan pada: 1) proses budidaya untuk menghasilkan produk hortikultura, 2) proses transformasi barang mentah (melalui penanganan panen dan pascapanen), dan 3) pengiriman produk ke konsumen melalui sistem distribusi. Berdasarkan pendekatan ini, penyediaan produk hortikultura yang sesuai dengan permintaan pasar (baik dalam kuantitas, kualitas dan kontinuitas), harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pemilihan varietas dan benih bermutu, teknik budidaya, panen dan penanganan pasca panen sampai dengan distribusi dan pemasarannya. Upaya ini dimulai dengan sosialisasi dan penerapan Good Agriculture Practices (GAP) secara luas, penyusunan Standard Operating Procedures (SOP) yang saat ini jumlahnya masih sangat terbatas, penerapan sertifikasi, serta koordinasi antarrantai pasokan diantara berbagai lokasi sentra guna mengatasi melimpahnya produk pada saat panen raya dan terjadinya fluktuasi harga yang besar.Rantai pasokan terdiri dari beberapa tahapan atau rantai aktivitas produksi yang berurutan, dimulai dari: 1) identifikasi pasar (pasar merupakan rantai pertama karena produksi hanya dilakukan bila ada pasar); 2) kendali mutu (untuk memenuhi spesifikasi produk sesuai permintaan pasar; 3) produksi; 4) pengadaan alat, mesin dan bahan baku; dan 5) pemasokan (pemasokan alat, mesin dan bahan baku). Manajemen rantai pasokan (SCM) merupakan pengelolaan kegiatan pada setiap rantai aktivitas produksi yang lengkap dan saling tergantung satu sama lain, sampai produk siap untuk digunakan oleh konsumen. Mengingat kunci peningkatan daya saing terletak pada kemampuan menghasilkan produk berkualitas dengan harga murah, maka petani produsen dan pelaku usaha hortikultura perlu memeriksa dan menelaah keseluruhan rantai aktivitas manajemen rantai pasok, untuk mengetahui rantai mana yang kurang efisien dan bagaimana meningkatkan efisiensi aktivitas pada rantai tersebut. Dalam rantai kegiatan di hulu, efisiensi dapat ditingkatkan melalui pengadaan sarana produksi berbasis sumber daya lokal, sementara dalam rantai kegiatan budidaya, peningkatan daya saing dapat diperoleh dengan menerapkan SOP berbasis GAP. Dalam rantai kegiatan di hilir, daya saing produk dapat meningkat melalui penerapan SOP berbasis Good Handling Practices (GHP), mulai dari kelayakan sarana pengangkutan, sampai dengan penanganan dan pengemasan produk selama pengangkutan. Pencantuman logo dan label perusahaan, pemberian merek dagang yang menarik dan terdaftar dalam kemasan, pemilihan warna kemasan yang menarik disertai dengan pemberian informasi tentang produk, juga diperlukan untuk memberikan kesan bahwa pembeli (konsumen) memperoleh produk yang bermutu, dan karenanya bersedia membeli dengan harga yang lebih mahal untuk kualitas yang ditawarkan.Enam Prinsip Manajemen Rantai Pasokan (SCM)Terdapat enam prinsip yang perlu diperhatikan dalam Manajemen Rantai Pasokan (SCM), yaitu sebagai berikut:1. Memahami perilaku dan kebutuhan konsumenSebelum penetapan segmen konsumen yang menjadi target pasar, maka perlu dipahami terlebih dahulu perilaku konsumen yang beragam, baik kebutuhan, selera atau preferensi masing-masing, maupun daya belinya;2. Menyediakan produk yang aman dan bermutu sesuai permintaan pasar Penyediaan produk hortikultura yang aman dan bermutu sesuai dengan permintaan pasar baik dalam kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas, harus dilaksanakan melalui upaya yang terpadu, mulai dari pemilihan varietas, benih bermutu, teknik budidaya, panen dan penanganan pasca panen sampai dengan pemasarannya melalui penerapan SOP berbasis GAP dan GHP secara luas, penerapan sertifikasi. Untuk keperluan ekspor, produk hortikultura juga dituntut untuk memenuhi persyaratan Maximum Residue Limit (MRL) dan Sanitary and Phytosanitary (SPS) Compliances; 3. Membagikan margin harga secara proporsional kepada semua pelaku rantai pasokan Panjangnya rantai pasokan dari produsen hingga konsumen dan lemahnya akses petani produsen terhadap informasi pasar mengakibatkan keuntungan (margin harga) dalam agribisnis hortikultura masih banyak dinikmati oleh pedagang (bukan petani), dan petani berada dalam posisi yang tidak berdaya; Untuk itu perlu dilakukan pembenahan dalam keseluruhan manajemen rantai pasokan (SCM), guna menciptakan keseimbangan margin harga yang diterima oleh masing-masing pelaku rantai pasokan, sesuai dengan aktivitas produksi yang dilakukan dan resiko yang ditanggung;4. Dukungan penyediaan logistik dan distribusi yang memadaiPenyediaan logistik dan distribusi hortikultura yang memadai dan efisien ini perlu mendapat perhatian, agar produk dapat sampai ke tangan konsumen secara tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat harga, tepat sasaran, dan tepat lokasi. 5. Komunikasi dan informasi yang lancarDalam penerapan manajemen rantai pasokan (SCM), diperlukan fasilitasi untuk memperbaiki komunikasi dan informasi diantara para pelaku rantai pasokan tentang hal-hal yang berkaitan dengan jenis produk, sebaran lokasi, potensi produksi, waktu panen dan volume/kuantitas. Fasilitasi juga diperlukan untuk menciptakan transparansi diantara para pelaku rantai pasar, khususnya fasilitasi peningkatan akses petani produsen terhadap informasi harga dan pasar, peningkatan posisi tawar petani melalui pembentukan asosiasi petani produsen, pengembangan jejaring kemitraan usaha, dan penumbuhkembangan kelembagaan usaha (kelembagaan ekonomi petani); 6. Hubungan kesalingtergantungan yang efektif diantara para pelaku rantai pasokanKunci keberhasilan penerapan manajemen rantai pasokan (SCM) adalah terciptanya hubungan yang efektif diantara para pelaku rantai pasokan yang dibangun berdasarkan sikap saling percaya, saling membutuhkan dan saling menguntungkan dalam perspektif jangka waktu yang panjang. Sumber informasi: 1. Anonim, 2007. Program Pengembangan Budidaya Sayuran dan Biofarmaka. Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka2. Ekin, Tim K, 2012. Concepts Supply Chains, Enterprises, Market Orientation. Jakarta: Kantor Bank Dunia di Jakarta3. Dimyati Ahmad, 2012. Mengenal Enam Pilar Pengembangan Hortikultura. Jakarta: