Gambir merupakan salah satu komoditas perkebunan rakyat yang bernilai ekonomi tinggi dan prospektif untuk dikembangkan secara komersial pada masa yang akan datang, mengingat kegunaannya yang beragam baik secara tradisional sebagai pencampur makan sirih maupun sebagai bahan baku berbagai industri seperti industri farmasi, penyamak kulit, minuman, cat, dan lain-lain. DiIndonesia tanaman gambir sudah tidak asing lagi karena gambir khususnya di Sumatera Barat, merupakan tanaman yang diusahakan secara turun-temurun. Gambir termasuk famili: Rubiaceae. Tanaman gambir termasuk tanaman perdu yang memanjat secara melingkar dengan tinggi mencapai 1,5 – 2 meter dan dapat dibudidayakan di lahan dengan ketinggian 200-800 m di atas permukaan laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Tanaman ini secara alami menyerbuk silang dengan presentase penyerbukan diatas 35%. Mengenal varietas gambirKita mengenal tiga varietas unggul gambir yang telah dilepas pemerintah yaitu udang, dan cubadak Tipe udang mempunyai kandungan getah lebih tinggi dari yang lainnya. Maka sebaiknya benih yang disemai sebagai bibit hendaknya berasal dari varietas udang.Perbedaan tiga varietas unggul gambir dapat ditunjukkan sebagai berikutVarietas udang:Panjang daun (cm) 10,20-14,20Lebar daun (cm) 6,10-8,00 Warna daun hijau kemerahanWarna pucuk coklat kemerahanBobot daun (gr) 1,62Produksi daun/ha (kg) 5,73Randeman (%) 14,317Produksi getah gambir /ha (kg) 6,50-7,00Kadar katechin (%) 60,42-65,15Varietas Cubadak:Panjang daun (cm) 9,60-19,10Lebar daun (cm) 6,30-9,20 Warna daun hijau Warna pucuk hijau mudaBobot daun (gr) 1,54Produksi daun/ha (kg) 5,57Randeman (%) 13,925Produksi getah gambir /ha (kg) 905,13Kadar katechin (%) 61,74-70,89Manfaat daun gambirDaun gambir mengandungsenyawa kimia yang cukup penting antara lain triperpen, flavonoid (terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%),kumarin dan sejumlah alkaloid seperti gambir tannin dan turunan dihidro- dan okso-nya. Katekin adalah senyawa tidak berwarna dan membawa rasa pahit dan astringency dalam seduhan teh. Dari hasil penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen (BB Pasca Panen), kualitas daun gambir muda berbeda dengan daun tua. Kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sari yang larut dalam air dan kadar tanin pada daun gambir muda lebih tinggi dibanding dengan daun tua. Secara tradisional daun dan tangkai yang masih muda digunakan untuk mengobati luka, demam, diare, disentri, sakit kepala, sakit perut serta obat kumur untuk mengobati sakit tenggerokan serta infeksi oleh jamur dan bakteri. Pada daun gambir juga terdapat senyawa fenol dan katekin yang dapat digunakan sebagai antioksidan. Teh daun gambir Mengingat banyaknya manfaat daun gambir sebagai obat, akhir-akhir ini daun gambir dikembangkan sebagai teh herbal. Pengolahan teh daun gambir sebagai berikut: 1) daun gambir dirajang lalu direndam dalam air dingin sekitar 120 menit lalu ditiriskan; 2) Daun kemudian dikeringkan dengan dijemur atau dikeringkan dengan menggunakan oven dengansuhu 40 derajatCelcius; 3) Daun gambir kering lalu dikemas dalam wadah kedap udara atau dalam karung plastik; 4) Daun gambir kering lalu diproses menjadi teh (teh celup) dengan langkah-langkah sebagai berikut: daun gambir kering digiling kasar lalu dimasukkan ke dalam wadah kedap udara dan ditaburi bunga melati. Setelah didiamkan semalam, bunga melati yang telah layu diambil dan dikeringkan kemudian dicampurkan kembali kedalam serbuk daun the gambir. Campuran serbuk gambir dan melati ditimbang sebesar 2 gram lalu dimasukkan dalam kantong kertas teh. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Teh Daun Gambir, BB Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen, Bogor dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 36 No.5 Th 2014; dan 2). Dihimpun dari beberapa sumber