Pakan merupakan salah satu faktor utama dalam keberhasilan usaha agribisnis peternakan. Untuk itu dalam menjaga ketersediaan pakan secara berkelanjutan, upaya pengelolaan pakan menjadi perhatian utama bagi peternak. Integrasi dengan usaha pertanian merupakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan yang berkesinambungan. Optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian dapat memperbaiki ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia. Pengembangan ternak pada kawasan yang terintegrasi dengan sistem pertanian akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi produktivitas ternak. Pakan alternatif yang berasal dari limbah pertanian maupun perkebunan mulai banyak dimanfaatkan seperti limbah yang berasal dari tanaman pisang. Salah satu hasil sampingan dari proses budidaya tanaman pisang dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah batang pisang sisa panen. Batang pisang sebagai hasil samping yang diperoleh dari budidaya tanaman pisang memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai bahan pakan. Produksi cukup melimpah dapat digunakan sebagai pakan alternatif. Total produksi batang pisang dalam berat segar minimum mencapai 100 kali lipat dari produksi buah pisangnya Namun disisi lain, pemanfaatannya sebagai komponen pakan memiliki kelemahan. Batang pisang sebagai bahan pakan jika diberikan secara langsung dalam bentuk alami, nilai palatabilitasnya rendah. kadar air cukup tinggi, adanya tannin yang akan mengganggu kecernaan bahan organic serta kandungan nutrisi yang cukup rendah. Batang pisang mengandung senyawa sekunder, mineral makro dan mikro yang cukup penting bagi terna Berdasarkan data Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak UNS yang dilansir dari Jurnal Tropical Animal Husbandry Volume 1 Edisi Oktober 2012, batang pisang memiliki kandungan nutrien bahan kering (BK) 87,7%, abu 25,12%, lemak kasar (LK) 14,23%, serat kasar (SK) 29,40%, protein kasar (PK) 3,01% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 28,24%. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai manfaat batang pisang adalah dengan aplikasi teknologi metode fermentasi anaerob dengan hasil akhir berupa silase. Fermentasi merupakan proses perubahan kimiawi yang terjadi pada suatu bahan sebagai akibat hasil dari aktivitas suatu enzim yang menghasilkan CO 2 dan alkohol dari gula. Silase sendiri merupakan hijauan pakan yang telah mengalami fermentasi dan masih banyak mengandung air, berwarna hijau dan disimpan dalam keadaan anaerob. Perubahan yang terjadi selama proses silase sebagian besar dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme. Dengan adanya aktivitas mikroorganisme, maka bahan yang diawetkan akan mengalami perubahan fisik, tingkat keasaman (pH) maupun kandungan nutrisinya. Produk hasil silase dari bahan tunggal dengan kandungan serat kasar tinggi umumnya masih memiliki nilai nutrisi yang relatif belum mencukupi kebutuhan zat makanan Oleh karenanya dalam proses fermentasi harus dilakukan penambahan zat makanan untuk meningkatkan nilai manfaatnya. Bahan pakan produk tanaman pangan yang dapat ditambahkan diantaranya adalah umbi singkong dan biji jagung. Selain itu dapat pula ditambahkan akselerator seperti dedak padi. Penambahan dedak padi akan mengoptimalkan aktivitas mikroorganisme seperti bakteri asam laktat (Lactobacillus plantarum, Lactobacillus casei) dalam memproduksi asam laktat. Penambahan bahan aditif yang memiliki karbohodrat tinggi juga perlu dilakukan apabila bahan yang difermentasi memiliki kandungan karbohidrat terlarut yang rendah. Penambahan bahan aditif seperti ini, akan mempercepat penurunan derajat keasaman. Selain itu juga dapat meningkatkan kualitas silase. Perlu diketahui, kualitas silase dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bahan, temperatur penyimpanan, tingkat pelayuan sebelum pembuatan silase, tingkat kematangan atau fase pertumbuhan tanaman, panjang pemotongan, kepadatan dan bahan pengawet. Manfaat bahan pengawet dalam silase selain menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri lain dan jamur yang tidak dikehendaki, juga dapat meningkatkan nilai nutrisi silase, palatabilitas, mempercepat terciptanya kondisi asam,serta memacu terbentuknya asam laktat dan asetat. Hasil silase yang baik mempunyai ciri-ciri, yaitu rasa dan bau asam, tetapi segar dan enak. Bau asam yang dihasilkan oleh silase disebabkan dalam proses pembuatan silase bakteri anaerob aktif bekerja menghasilkan asam organik. karakteristik silase yang baik, dari segi warna silase yang baik umumnya berwarna hijau kekuningan atau kecoklatan. Sedangkan warna yang kurang baik adalah coklat tua atau kehitaman. Dari segi baunya, sebaiknya bau silase agak asam atau tidak tajam. Bebas dari bau amonia dan bau H 2 S. Dari segi tekstur, kelihatan tetap dan masih jelas. Tidak menggumpal, tidak lembek dan tidak berlendir. Penambahan akselerator akan memberikan silase yang berbeda karakteristiknya bergantung pada akselerator yang digunakan. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber :1. Dhalika, Tidi dkk. 2011. Jurnal Ilmu Ternak Volume 11 : Nilai Nutrisi Batang Pisang dari Produk Bioproses (Ensilage) sebagai Ransum Lengkap (jurnal.unpad.ac.id, diakses 29 Maret 2016)2. R.K Santi dkk. 2012. Jurnal Tropical Animal Husbandry Volume 1 : Kualitas dan Nilai Kecernaan In Vitro Silase Batang Pisang (Musa paradisiaca) dengan Penambahan Beberapa Akselerator (peternakan.fp.uns.ac.id, diakses 29 Maret 2016)3. Wirawati P, Andi. 2015. Tesis : Silase Pakan Komplit Berbahan Batang Pisang Sebagai Pakan Kambing Jantan Peranakan Etawa (repository.unhas.ac.id, diakses 29 Maret 2016)