Zea mays L atau jagung salah tanaman penghasil karbohidrat. Di Indonesia jagung merupakan sumber bahan kedua setelah beras, sehingga termasuk salah satu komoditi strategis yang harus selalu dijaga stabilitas baik jumlah, harga maupun distribusinya. Jagung selain untuk bahan pangan manusia baik sebagai bahan pangan pokok maupun olahan, juga sangat penting sebagai bahan industri pakan ternak dan industri bioetanol sebagai bahan baku energi terbarukan. Tak mengherankan bila kebutuhan jagung terus meningkat dari tahun ketahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan industri pengolahan pangan, pakan dan energi terbarukan. Upaya peningkatan produksi jagung melalui teknologi on farm telah banyak dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian, yang mampu meningkatkan produksi jagung sehingga Indonesia berhasil berswasembada jagung pada tahun 2008 dan diharapkan swasembada ini dapat berkelanjutan pada tahun 2015-2017. Salah satu kendala peningkatan produksi jagung ini karena belum diikuti dengan penanganan panen dan pasca panen yang baik sehingga mempengaruhi kualitas produksi. Panen Umur panen jagung bervariasi tergantung pada varietas yang ditanam, tetapi biasanya 2 bulan setelah 50% pertanaman keluar rambut. Ciri tanaman jagung yang siap dipanen adalah: 1) klobot kering berwarna kuning; 2) bila dikupas biji mengkilap; 3) biji bila ditekan dengan kuku tidak berbekas; dan 4) terdapat bintik hitam pada bagian biji yang melekat pada tongkol. Sebelum dipanen dapat dilakukan pemangkasan batang bagian atas untuk menurunkan kadar air tonggol disertai dengan pengupasan klobot sebagian atau seluruhnya. Cara panen dilakukan dengan memutar tongkol, berikut kelobotnya atau dengan mematahkan tangkai buah. Pada lahan yang luas dan rata bisa menggunakan alat mesin pemetikan. PascapanenPascapanen, meliputi kegiatan pengupasan, pengeringan, pemipilan dan penyimpanan. Pengupasan, jagung dikupas pada saat masih menempel di batang atau setelah di petik. Pengupasan dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat memudahkan atau memperingan pengangkutan selama proses pengeringan. Pengeringan, jagung dapat dilakukan secara alami/tradisional atau buatan. Secara alami/tradisional yaitu dengan menjemur jagung di bawah sinar matahari sampai kadar air 9–11%. Penjemuran memakan waktu ± 7-8 hari. Penjemuran dapat dilakukan di lantai, dengan alas anyaman bambu atau dengan cara diikat dan digantung. Sedang pengeringan buatan dilakukan pada saat musim hujan yang dilakukan dengan menggunakan mesin pengering, Suhu pengeringan 38-430 C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13%. Penundaan waktu pengeringan selama 2 hari dapat meningkatkan kontaminasi Aspergilus flavus yang dapat meningkatkan alfa toxin yang dapat meracuni manusia dan hewan. Pemipilan, dilakukan setelah jagung dijemur sampai kering, dipipil dengan menggunakan tangan atau alat pemipil. Untuk memudahkan pekerjaan pemipilan dilakukan pada tongkol kering. Manfaat mesin pemipil jagung berkelobot hasil BBP MektanPemipilan jagung yang tidak dilakukan dengan baik, akan meningkatkan jumlah susut hasil baik disebabkan kerusakan biji jagung atau banyaknya jagung yang tercecer. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah berhasil merekayasa mesin pemipil jagung dengan kelobot. Proses pemipilan dengan mesin ini dilakukan tanpa mengupas kelobotnya lebih dahulu. Manfaat dari mesin ini antara lain: 1) kualitas yang dihasilkan cukup baik dibandingkan dengan kualitas jagung yang dipipil dengan mesin pemipil jagung tanpa kelobot; 2) biji jagung yang dihasilkan memiliki lembaga biji yang mash utuh sehingga dapat dijadikan benih; 3) lebih efisien dari segi waktu, tenaga dan biaya terutama dari kegiatan pengupasan kelobot dan pengeringan tongkol jagung.Menurut Suparlan dari BBP Mektan menyebutkan bahwa dari hasil perhitungan secara ekonomis pengoperasian mesin pemipil jagung berkelobot cukup layak dikembangkan dengan analisa sebagai berikut: asumsi nilai investasi mesin senilai Rp. 20 juta perunit, bunga bank 18%, umur ekonomi mesin 5 tahun, konsumsi bahan bakar 0,9 liter/jam dan kebutuhan tenaga operator dua orang, lebih efisien dengan biaya pokok operasional mesin Rp. 35 per kg jagung pipilan. Jika mesin pemipil ini digunakan untuk usaha jasa pemipilan jagung diperoleh nilai B/C ratio 1,14 dan usaha akan mencapai titik impas (BEP) pada tahun ke 1,62. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber :1) Mesin Pemipil Jagung Berkelobo Layak Dikembangkan, 2013, tWarta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Volume 35 Nomor 3; 4) Dihimpun dari berbagai sumber.