Pala atau dengan nama latin Myristica frgrans Houtt merupakan tanaman asli Indonesia yaitu dari Maluku. Sampai saat ini Indonesia menjadi negara pemasok pala (biji, fuli dan minyak atsiri) terbesar yaitu mencapai 70-75% kebutuhan pala di dunia. Pala termasuk dalam famili Myristicaceae dengan Klasifikasi sebagai berikut: Divisi/Devisio : Spermatophyta; Sub Divisi/Sub Devisio: Angiospermae; Kelas/Class: Dicotyledonae; Bangsa/Ordo: Ramales; Marga/Famili: Myristicaceae; Genera/Genus: Myristica dan Jenis/Spesies: Myristica fragrans HOUTT. Pala selain sebagai komoditi ekspor juga sebagai bahan baku industri dalam negeri antara lain biji dan fuli pala digunakan dalam industry pengawetan ikan, sosis, bumbu dapur dan sebagai bahan/bumbu adonan kue. Kandungan minyak atsiri dan lemak pada pala dapat meningkatkan nafsu makan, sedang minyak hasil penyulingan dari biji, daging buah, fuli dan daun pala merupakan bahan baku industry obat-obatan, sabun dan parfum. Tanaman pala termasuk tanaman berumah dua (yaitu dikenal dengan tanaman jantan dan tanaman betina) dan hermaprodit/berumah satu (bunga jantan dan betina terdapat dalam satu pohon). Buah pala hanya dihasilkan oleh tanaman betina dan hermaprodit namun tanaman betina lebih banyak menghasilkan buah daripada tanaman hermaprodit, sedang tanaman jantan tidak menghasilkan buah karena hanya menghasilkan bunga untuk penyerbukan (tanaman jantan mampu menyerbuki 10-30 tanaman betina), makin dekat jarak antara tanaman jantan dan betina, buah makin lebat karena penyerbukannya berlangsung dengan intensif. . Morfologi tanamanBatang pohon, Bentuk pohon pala berpenampilan indah, tinggi 10-20 m, menjulang tinggi ke atas dan ke pinggir, mahkota pohonnya meruncing, berbentuk piramidal (kerucut), lonjong (silindris) dan bulat dengan percabangan relatif teratur. Berdasarkan informasi dari para petani pala di Maluku, penentuan pohon pala jantan dan betina secara dini (bibit) dapat diduga dari sudut percabangan. Percabangan mendatar diduga pohon betina dan sudut percabangannya meruncing diduga pohon jantan.Daun, berwarna hijau mengkilap dan gelap, panjang 5-4 cm dengan lebar 3-7 cm, panjang tangkai daun 0,4-1,5 cm.Penentuan jenis kelamin secara dini dapat diduga dari bentuk helaian daun. Bentuk helaian daun lebih terkulai merupakan ciri pala betina. Sedangkan bentuk helaian daun yang relatif lebih kecil dengan letak daun lebih tegak, menunjukan pala jantan.Bunga, cara pembungaan pada pala unisexual-dioecious, walaupun terdapat juga yang polygamous/ hermaphrodite. Pala merupakan tanaman berumah dua (dioecous) dimana bunga jantan dan bunga betina terdapat pada individu/pohon yang berbeda.Salah satu masalah dalam pengembangan pala adalah penentuan jenis pohon kelamin jantan dan betina harus menunggu sampai tanaman berbunga (lebih kurang 5 tahun). Dari 100 biji atau pohon pala rata-rata terdapat 55 pohon betina, 40 pohon jantan dan 5 pohon yang hermaphrodite. Pohon jantan dicirikan oleh habitus yang lebih kecil dari betina, cabang lebih tegak, daun lebih kecil dan menghasilkan banyak bunga jantan dalam bentuk rangkaian yang membawa 3 sampai 15 bunga per kuntum sedangkan bunga betina sekitar 1 sampai 3 per kuntum. Bunga keluar dari ujung cabang dan ranting. Bunga betina mempunyai kelopak dan mahkota meskipun perkembangannya tidak sempurna. Warna bunga kuning, dengan diameter ± 2,5 mm serta panjangnya ± 3 mm.Mahkota bunga betina bersatu mulai dari bagian pangkal dan pada bagian atas terbuka menjadi 2 bagian yang sistematis. Kelopak kecil dan menutup sebagian kecil dari bagian bawah mahkota. Di dalam mahkota terdapat pistil yang bersatu dengan bakal bunga. Kepala putik terbelah pada bagian ujungnya.Di dalam bakal buah terdapat bakal kulit biji dan bakal biji. Bentuk bunga jantan agak berbeda dengan bunga betina walaupun warna bunganya juga kuning, dengan diameter 1,5 mm dan panjang ± 3 mm. Mahkota dari bunga jantan bersatu dari pangkal pada 5/8 bagian dan kemudian terbagi menjadi 3 bagian. Kelopak berkembang tidak sempurna, bentuknya seperti cincin yang melingkar pada bagian pangkal mahkota.Benang sari berbentuk silindris merupakan tangkai bersatu, panjangnya ± 2 mm. Sari melekat pada tangkai tersebut membentuk baris-baris yang jumlahnya 8 buah dan berpasangan. Antara baris dibatasi oleh jalur kecil ± 1/10 mm lebarnya.Buah/Biji, Buahnya bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuning-kuningan, apabila masak akan berbelah dua, diameter 3-9 cm. Daging buahnya/ pericarp tebal dan rasanya asam. Biji berbentuk bulat sampai lonjong, panjangnya 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Warnanya coklat dan mengkilap pada bagian luarnya. Kernel bijinya berwarna keputih-putihan. Fulinya merah gelap dan ada pula yang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala. Petani pala di Maluku biasanya menentukan pala jantan atau betina dari bentuk bijinya. Biji yang memiliki permukaan ujung membukit diduga jantan dan biji yang bagian ujungnya rata diduga betina. Perbanyakan dengan cara vegetative/sambungan Dengan makin meningkatnya permintaan dan tingginya harga biji pala, mendorong pengembangan pembibitan tanaman pala yang dilakukan secara vegetative diantaranya melalui penyambungan epikotil dengan menggunakan.batang bawah (umur 20-30 hari).Pada dasarnya sistem penyambungan ini adalah menempelkan bagian tanaman yang dipilih ke bagian tanaman lain sebagai induknya, sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni penyambungan pucuk (grafting) dan penyambungan mata (okulasi). Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem grafting atau okulasi itu dilakukan, dan telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan grafting) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan. Pada benih sambungan, jenis kelamin benih ditentukan oleh batang atasnya, sehingga jenis kelamin benih dapat diketahui dengan pasti.. Komposisi dan posisi benih tanaman jantan dan betina dapat diatur pada saat penanaman yaitu satu tanaman jantan untuk delapan tanaman betina. Benih tanaman pala jantan dan betina yang berasal dari sambungan dapat digunakan untuk merehabilitasi atau mengganti kelebihan tanaman jantan dalam satu area pertanaman. Manfaat perbanyakan vegetative/sambunganManfaat perbanyakan dengan cara sambung antara lain waktu persemaian benih lebih singkat dengan keberhasilan tinggi, jenis kelamin benih dapat diketahui, batang atas berasal dari pohon induk yang berproduksi tinggi, batang bawah dapat dipilih dari tanaman yang berakar kuat dan tahan hama (terutama penggerek batang), masa tanam sebelum menghasilkan lebih singkat dan masa puncak produksi lebih awal serta produktivitas lahan lebih tinggi, Tanaman pala betina sambungan pada umur 2,5 tahun mampu menghasilkan buah 70 butir, dengan tinggi tanaman 1,28 m, diameter kanopi 1,2 m dan jumlah cabang 33 buah. Pada saat tanaman berumur 8 tahun, tanaman dapat menghasilkan sekitar 1.000 buah. Tanaman tumbuh kuat. Pada umur 9 tahun, tinggi tanaman hanya 3,5 m dengan lebar kanopi 3,5 m sehingga memudahkan panen buah. Selain itu dengan cara vegetative serangan penyakit busuk buah sangat rendah dengan buah tidak rontok. Bobot buah rata-rata 75 gra, biji kering 9 gram dan fuli kering 1.33 gram/buah.Benih pala sambungan dapat ditanam dengan jarak 5 x 5 m atau 5 x 6 m. sehingga jumlah tanaman per satuan luas meningkat (monokultur 300-400 tanaman/ha). Pala dapat pula ditanam diantara tanaman perkebunan lainnya seperti kelapa,kakao dan kopi. Sebagai tanaman sela, pala dapat menghasilkan 480 fuli kering dan dan 3.122 kg biji kering per hektar pada umur 8 tahun. Tanaman yang berasal dari benih sambungan dapat ditanam dipekarangan atau dipot untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga seperti untuk bumbu, bahan untuk makanan dan minuman. Selain itu dapat menyelamatkan plasma nutfah pala in situ (Maluku) dan ex situ (diluar Maluku) serta dapat untuk membangun kebun induk sumber benih baik untuk perbanyakan biji maupun entres/batang atas untuk penyambungan.. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Mengembangkan Pala dengan Benih Sambungan dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 37 No.3 Th 2015; 2) Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Pala, Ditjen Perkebunan; dan 3) Dihimpun dari beberapa sumber