Mangga (Mangifera Indica L ) merupakan komoditas buah yang kaya akan serat, air, vitamin dan antioksidan yang baik untuk tubuh serta memiliki peluang untuk mengisi pasar internasional karena musim panen mangga Indonesia berbeda dengan Negara produsen mangga lainnya.Kabupaten Buleleng sebagai salah satu sentra produksi utama mangga di Indonesia, memiliki areal tanaman mangga seluas 7.281.03 Ha (728.103 pohon) dengan rata-rata produksi 5 tahun terahkir sebesar 26.999 ton/tahun.Di Kecamatan Tejakula dari luas wilayah 9.768 Km2 (9,768 Ha), terdiri dari lahan kering seluas 9.768 Ha sedangkan lahan sawah tidak ada. Kemudian berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kecamatan Tejakula 2004-2014 (penjabaran dari RTRW Kabupaten Buleleng) Rencana pengembangan kawasan budidaya lahan kering meliputi pekarangan 616 ha, tegal/kebun 4.097 Ha, STD 5 Ha, Hutan rakyat 174 Ha, Hutan Negara 1.630 Ha, Perkebunan 2.997 Ha, dan lain-lain 269 Ha (Sumber Laporan Tahunan Statistik Pertanian, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng Tahun 2010). Dari data diatas ketersedian lahan potensi komoditas hortikulturaa (mangga) masih cukup luas.Diantara bennih mangga yang ditanam di Kecamatan Tejakula saat ini ada varietas mangga yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian RI seperti : varietas Arumanis 143 (Lokal Probolinggo), Lalijiwo 61 (Lokal Kraksan –Probolingggo), Manalagi 69 (Pasuruan), Legong (Tejakula-Buleleng) dan lain-lain.Tanaman mangga di Kecamatan Tejakula diusahakan secara besar-besaran sekitar tahun 1985, bersamaan dengan tanaman rambutan, pisang dan lain-lain, sebagai tanaman pengganti ketika tanaman jeruk keprok tejakula mengalami serangan CVPD.Mangga legong awalnya dikenal dengan nama Amplem Sari, kemudian didaftarkan ke kementrian pertanian sebagai varietas Mangga Legong sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian No.595/Kpts/TP.240/9/1995. Dikembangkan pertama kali di Desa Tejakula kemudian menyebar ke Desa Bondalem, Les, Tembok, Sambirenteng dan desa lainnya di Kecamatan Tejakula,. Saat ini luasan tanaman mangga Legong sekitar 10 Ha (1000 Pohon), terbanyak ditanam di Desa Bondalem sekitar 700 Pohon, menyusul Desa Tejakula sekitar 200 pohon, sisanya di Desa Tembok, Sambirenteng dan Les.Deskripsi Mangga varietas Legong sesuai keputusan Menteri Pertanian No. 595 Tahun 1995 adalah :Asal : Kecamatan Tejakula Kabupaten Bueleleng Provinsi BaliTinggi Tanaman/pohon : 15 Meter (Umur 40 tahun, asal Biji )Lebar Tajuk : 10 MeterBentuk Tajuk Pohon : Bulat TinggiPercabangan : Sedang dan tidak begitu rimbunBentuk batang : Bulat (gilig)Warna Batang :Coklat KeabuanTekstur dan kulit batang : Agak KasarWarna daun : HijauBentuk daun : JorongKedudukan/letak daun : MendatarUkuran daun :Panjang 16,5 cm , lebar 5,7 cmBentuk malai :Piramida runcingWarna bunga :KekuninganWarna tangkai : merah keunguanBentuk buah bunga :Jorong, pucuk runcingWarna buah matang kuning bersih menyeluruhAroma buah :sedikit harumRasa buah: manis segar sedikit ada rasa asamUkuran buah :panjang 14 cm, lebar 6,5 cmBerat buah rata-rata : 150,6 g/buahBentuk biji :kecil, lonjong pipihUkuran biji masak :panjang 7cm, lebar 3,5 cmRata-rata produksi :150kg/pohonPeneliti Achmad Firman, Nyoman Winarta, I Wayan Wendra, Ketut Sudana, I Wayan Dadi(Sumber : Vademekum Mangga Kementrian Pertanian 2010 ) Mangga Legong (amplem sari) sangat diminati berbagai kalangan dan selain rasanya yang enak juga diyakini berkhasiat untuk kesehatan, diantaranya menghaluskan dan mengencangkan kulit (wajah) Penulis : I Nyoman Sukra Winaya, SST, PP Madya Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng)