Mappalili tahun 2020, tradisi ritual turun sawah di Parepare
Salah satu tradisi yang cukup unik dan memiliki makna pengharapan luar biasa yang masih tetap dipertahankan dikenal dengan istilah Mappalili terlaksana di Saung Tani Galung Lompoe, Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare pada hari Jumat, tanggal 23 Oktober 2020 sesuai kesepakatan pada acara Tudang Sipulung sebelumnya. Ritual Mappalili adalah tradisi secara turun-temurun yang digelar setahun sekali diyakini masyarakat setempat sebagai pedoman bagi petani untuk memulai musim tanam padi (turun sawah atau hambur benih). Mappalili merupakan tradisi khas masyarakat di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan termasuk di Kota Parepare khususnya di kalangan petani, salah satu kearifan lokal yang didukung oleh pemerintah. Tradisi ini mengandung pengharapan akan kesejahteraan, dimana siratan maknanya berupa doa agar di musim padi kali ini berjalan dengan baik dan hasil melimpah. Tradisi Mappalili dipimpin oleh pemimpin adat ataupun imam yang biasa memimpin doa. Kegiatan diawali dengan penggunaan alat bajak sawah mengelilingi areal sawah. Kemudian dilanjutkan dengan ritual mengelingi areal sawah yang dipimpin oleh pemimpin adat/imam diikuti oleh para petani serta aparatur sipil yang turut serta mengambil bagian. Di separuh perjalanan, pemimpin adat/imam diikuti oleh petani kemudian berhenti untuk melafalkan doa. Doa berisi harapan agar hasil panen melimpah, mencukupi kebutuhan penduduk, lalu dilanjutkan lagi berjalan sejauh satu putaran areal sawah. Dlanjutkan lagi pemimpin adat/imam akan membacakan doa di depan sajian makanan-makanan yang penuh makna seperti sokko hitam dan putih dengan telur rebus, buras, ikan, kelapa parut goreng dan makanan lainnya yang tergolong sederhana. Doa berakhir, sajian yang dihidang disantap bersama. Acara Mappalili ini dihadiri oleh Pejabat Kabid Pertanian dan Kabid Penyuluhan dari Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan Kota Parepare beserta Penyuluh Pertanian Lapangan, Aparatur Kecamatan Bacukiki, Petugas Pengamat Hama, Babinsa setempat, Tokoh Masyarakat Bacukiki, para petani di Parepare serta pengurus KTNA dan Pengurus Brigade Alsintan Kota Parepare. Dilihat dari proses dan aturan-aturan yang terdapat dalam pelaksanaan upacara adat Mappalili ini banyak sekali nilai filosofi yang dapat kita petik. Mulai dari tujuan Mappalili yaitu untuk menanam daerah yang kosong diawal musim. Kemudian dalam proses pelaksanaan upacara dilarang untuk mendahului menanam padi sebelum acara adat dimulai karena akan mendapatkan bala. Hal ini memiliki arti bahwa didalam hidup tidak boleh berlaku curang karena suatu saat akan mendapatkan musibah. Penulis: Andi Magfiranur (PPL Kota Parepare)