Mari Bantu Sediakan Nitrogen Untuk Tanaman Dengan Bakteri Penambat Nitrogen
Pelaku utama pertanian pasti tahu bahwa kebutuhan nitrogen sangat penting untuk tanaman yang dibudidayakan. Nitrogen yang sering digunakan oleh pelaku utama pertanian biasanya bersumber dari pupuk nitrogen anorganik komersial bersubsidi maupun non subsidi, sebut saja contohnya adalah pupuk Urea dan ZA. Daun yang semakin menghijau setelah aplikasi pupuk anorganik tersebut menjadi salah satu indikator bagi pelaku utama bahwa pupuk anorganik penyedia nitrogen telah bekerja pada tanaman. Namun seiring berjalannya waktu, para pelaku utama di Desa Ganding Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep misalnya cenderung menambah dosis pemakaian pupuk nitrogen anorganik yang seringkali melebihi rekomendasi dari penyuluh pertanian dinas pertanian setempat. Tindakan pelaku utama ini dapat dikatakan masih rasional karena pelaku utama pertanian tersebut berargumentasi bahwa penambahan dosis penggunaan pupuk nitrogen anorganik berdasarkan dari waktu sebelumnya yang kurang memberikan indikator wana hijau daun yang diharapkan oleh pelaku utama. Petugas penyuluh pertanian pun sebenarnya tidak bisa kemudian menyalahkan cara berpikir pelaku utama pertanian sepenuhnya apalagi terutama tentang dampak negatif bagi kesehatan lahan yang telah dipapar pupuk nitrogen anorganik berlebih sepanjang waktu. Kecenderungan penggunaan dosis penggunaan pupuk nitrogen anorganik yang semakin tinggi oleh pelaku utama telah menjadi pertanyaan dalam benak Penyuluh Pertanian. Setelah mencari tahu dari beberapa literatur hasil-hasil penelitian dari para peneliti baik di kementerian maupun di perguruan tinggi diperoleh informasi bahwa tanaman tidak serta merta menyerap nitrogen dari pupuk nitrogen anorganik setelah diaplikasikan tapi masih perlu proses yang namanya nitrifikasi yang dilakukan oleh bakteri nitrifikasi untuk kemudian mengubah nitrogen menjadi nitrat dan siap digunakan oleh tanaman. Beda halnya jika pupuk nitrogen anorganik sudah dalam bentuk nitrat sehingga sudah lebih siap digunakan oleh tanaman. Sayangnya pupuk nitrogen anorganik dalam bentuk nitrat biasanya lebih mahal karena tidak disubsidi oleh pemerintah, dan untuk sementara ini masih belum banyak digunakan oleh pelaku utama. Oleh karenanya, pelaku utama masih cenderung memilih urea bersubsidi atau ZA yang bersubsidi karena lebih terjangkau. Penjelasan singkatnya adalah jika melihat bagaimana kacang-kacangan memiliki bintil akar untuk menangkap nitrogen bebas (selanjutnya disebut bakteri penambat nitrogen simbiosis), maka sebenarnya juga ada bakteri non-simbiosis yang ada di lahan pertanian pelaku utama yang mungkin saja jumlahnya semakin sedikit karena berbagai faktor yang mempengaruhi jumlah ketersediaannya. Bakteri penambat nitrogen non-simbiosis yang dimaksud adalah bakteri yang hidup bebas pada daerah perakaran dan jaringan tanaman seperti Azotobacter dan Azospirilum. Hasil dari penelitian IPB University yang ditulis dalam jurnal hasil penelitian bahwa penggunaan Azotobacter dan Azospirillum mampu mengurangi penggunaan pupuk nitrogen anorganik hingga 25 persen pada tanaman padi sawah. Azotobacter dan Azospirillum selain dapat mengikat nitrogen dari udara juga dapat menghasilkan indole actetic acid (IAA). Kandungan IAA ini berguna merangsang pertumbuhan akar melalui pertambahan panjang atau luas permukaan, sehingga akar mampu mengikat air dan menambah bobot basah. Lalu, bagaimana untuk menambah bakteri ini pada lahan dan bagaimana aplikasinya?. Para pelaku utama dan penyuluh pertanian bisa mendapatkan dengan 2 cara yaitu dengan langsung membeli pupuk hayati komersial yang memang sudah mengandung bakteri penambat nitrogen. Cara kedua dengan membuat sendiri namun secara uji laboratorium belum dapat dipastikan kandungan bakteri yang muncul dari hasil buatan sendiri tersebut sehingga pelaku utama dan penyuluh pertanian hanya dapat menduga dari hasil keragaan tanaman setelah diaplikasikan baik dari warna daun maupun dari tinggi tanaman. Bahan-bahan potensial yang diduga banyak mengandung bakteri penambat nitrogen dari berbagai referensi antara lain tanah dibawah kandang ternak sapi, kambing, atau ayam (lapisan tanah 5 cm dari permukaan tanah). Bahan potensial kedua adalah tanah perakaran bambu serta akar bambu yang masih hidup. Bahan potensial ketiga adalah urine ternak sapi. Semuanya dicampur dalam air kira-kira sebanyak 5 liter dengan tambahan gula merah yang sudah dicairkan atau tetes tebu. Selain semua bahan itu, silakan ditambahkan urea 5 sendok makan sebagai bahan makanan bakteri penambat nitrogen potensial. Setelah semua bahan dicampur dan diaduk lalu tutup rapat. Lakukan pengadukan 2 hari sekali selama 2 minggu. Dosis yang biasanya digunakan adalah 5 ml/liter air untuk disemprot langsung ke tanaman pada sore hari atau malam hari selain itu larutan juga dapat dikocorkan pada tanah. Cara ini sudah banyak beredar di internet, dan silakan dicoba dan lihat hasil keragaan tanamannya setelah diaplikasikan, dan telah dicoba di beberapa kelompok tani di Desa Ganding Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep dan menunjukkan keragaan fisik yang berbeda dari biasanya. Ditulis oleh: Arfinsyah Hafid Anwari, SP (Penyuluh Pertanian Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep) Sumber: Widiyawati, Ida et al. 2014. Peran Bakteri Penambat Nitrogen untuk Mengurangi Dosis Pupuk Nitrogen Anorganik pada Padi Sawah. J. Agron. Indonesia 42(2):96-102 (2014).