Sampah rumah tangga merupakan hasil pembuangan dari sisa aktivitas di dapur yang terdiri dari sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat diuraikan dalam proses alami, yaitu 1) Sampah organik hijau ( sisa sayur mayur dari dapur ) seperti tangkai daun singkong, pepaya, kangkung, bayam, wortel, daun pisang, ampas kelapa, dan sampah dari kebun ( rumput, daun-daun kering/basah ). 2) Sampah organik hewan yang dimakan, seperti ikan, udang, ayam , dan kulit telur dan sejenisnya. Sedangkan, sampah anorganik adalah jenis sampah yang tidak bisa diuraikan secara alami, seperti kertas, karton, besek, kaleng, dan bermacam-macam jenis plastik, dan sejenisnya. Dampak yang ditimbulkan oleh sampah rumah tangga terhadap lingkungan, antara lain : a) Timbunan sampah dalam jumlah besar akan menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, kotor, dan kumuh serta bisa mengganggu kenyamanan penduduk sekitar, b) Sampah-sampah kaleng bekas dan sejenisnya, bila hujan akan berisi air yang menjadi sarang nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak, c) Masuknya limbah ke dalam air secara terus menerus mengakibatkan fungsi air turun, sehingga tidak mampu lagi mendukung aktivitas manusia dan menyebabkan timbulnya permasalahan penyediaan air bersih. Karena aliran air sungai dan air tanah semuanya sudah tercemar. Cara yang bisa kita lakukan,yakni mengelola sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Dengan mengolah sampah menjadi kompos, berarti ikut membantu mengurangi permasalahan yang disebabkan oleh sampah. Kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sampah rumah tangga berpotensi sebagai kompos rumah tangga. Sampah organik mengalami proses pengomposan dengan sendirinya lewat proses alami, sampah tersebut lama kelamaan akan membusuk , karena adanya kerjasama antara mikroorganisme dengan cuaca. Proses tersebut bisa dipercepat oleh perlakuan manusia, yaitu dengan menambahkan mikroorganisme pengurai atau aktivator kompos sehingga dalam waktu singkat akan diperoleh kompos yang berkualitas baik yang bisa dijadikan sebagai pupuk organik untuk tanaman sayuran di pekarangan. Manfaat pupuk organik yang terbuat dari kompos dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas sayuran dan meningkatkan kualitas lahan yang berkelanjutan. Pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah yang semula padat menjadi gembur, tanah berpasir menjadi lebih kompak, dan tanah lempung menjadi gembur. Peranan pupuk organik juga penting pada tanah ialah bereaksi denga ion logam untuk membentuk senyawa kompleks. Ion logam yang bersifat meracuni tanaman serta merugikan penyediaan hara pada tanah, seperti al, Fe, dan Mn dapat diperkecil. Kompos banyak mengandung mikroorganisme. Dengan ditambahkan kompos di dalam tanah memicu berkembangnya mikroorganisme dalam tanah, gas CO2 yang dihasilkan mikroorganisme tanah akan dipergunakan untuk fotosintesis tanaman dan menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan. Pembuatan kompos dari sampah rumah tangga, yaitu wadah tempat pembuangan sampah dalam rumah tangga harus dipisah antara sampah organik dan anorganik. Dalam hal ini sampah organik dapat dijadikan bahan pembuatan kompos, sedangkan sampah anorganik berupa plastik bekas minuman dapat didaur ulang. Bahan yang diperlukan, yaitu 1) di dalam rumah dan di depan dapur disediakan dua tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organik dan anorganik, 2) diperlukan bak plastik atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembapan bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu, 3) dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan. Cara membuatnya, a) campur 1 bagian sampah hijau (organik) dan 1 bagian sampah coklat (anorganik), b) Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan campurkan tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak (ayam atau sapi) dapat pula dicampurkan, c) boleh diibuat sekaligus atau selapis selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru, d) pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke- 1 dan ke- 2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos. Pada minggu ke- 5 dan minggu ke- 6 suhu kembali normal dan kompos sudah jadi, e) jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan kedalam bak pengomposan sebagai activator. Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembapan, dan oksigen agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak. Sampah organik sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan dapat ditambahkan bio-avtivator seperti EM4. Sumardi Sumber : Badan Litbang Pertanian,2014