Loading...

mekanisme infeksi virus kuning cabai (pepper yellow leaf curl virus) dan pengaruhnya terhadap proses fisiologi tanaman cabai

mekanisme infeksi virus kuning cabai (pepper yellow leaf curl virus) dan  pengaruhnya terhadap proses fisiologi tanaman cabai
cabai merupakan komoditas hortikultura yang permintaannya cukup besar, terutama di indonesia. konsumsi masyarakat mencapai 900 ton/tahun atau sekitar 4 kg/kapita. hal ini masih belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri yang hanya mencapai 76% dari total permintaan, sehingga masih dilakukan impor cabai dari malaysia dan australia. dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sentra produksi cabai di daerah jawa tengah dan daerah istimewa yogyakarta mengalami penurunan produksi akibat serangan penyakit virus pepper yellow leaf curl virus (pylcv) atau yang lebih dikenal sebagai virus kuning cabai. penyakit ini disebabkan oleh virus gemini. virus ini ditularkan oleh serangga vektor yaitu kutu kebul (bemisia tabaci). penyakit ini banyak terdapat pada cabai rawit, cabai besar, paprika dan juga pada tomat. luas serangan dan kejadian pada cabai rawit lebih besar dibandingkan pada cabai besar. hal ini mungkin terjadi karena proses budidaya cabai rawit kurang intensif dibandingkan dengan budidaya cabai besar yang sangat intensif dengan pemupukan, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi. virus ini dapat ditularkan melalui teknik penyambungan dan melalui perantara kutu kebul. secara mekanik virus ini tidak dapat ditularkan melalui biji. masa inkubasi virus ini antara 15-29 hari setelah inokulasi. tanaman cabai yang terinfeksi berat tidak dapat menghasilkan bunga dan buah. bila serangan terjadi pada fase vegetatif jumlah tunas menjadi lebih banyak namun pertumbuhan tanaman kerdil. pemberian pupuk daun dan pupuk anorganik yang dilakukan oleh petani di daerah endemis virus kuning tidak dapat menghindarkan tanaman dari infeksi virus tersebut. tanaman yang sudah terinfeksi tidak dapat lagi dikembal ikan menjadi tanaman sehat meskipun dengan pemberian pupuk yang melebihi dosis yang disarankan oleh dinas pertanian. meskipun begitu berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh hartono, dkk (2006) serangan virus ini dapat dicegah dengan beberapa teknik bud idaya tertentu. hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan bibit cabai di persemaian dengan menggunakan sungkup rapat (kain sifon) sehingga bibit akan terhindar dari virus yang ditularkan oleh kutu kebul ini. selain itu, sebaiknya lahan pertanam an ditanami tanaman border (tanaman tepi) dengan pola tanam zigzag dan pengaturan waktu tanam yang baik sehingga pertanaman cabai terlindungi baik selama fase fegetatif maupun fase generatif. mekanisme infeksi virus dalam tubuh tanaman terjadi hingga memunculkan gejala berupa daun berwarna kuning, kerdil dan menggulung ke atas (cupping). gejala menguningnya daun terutama bagian atas (muda) mirip dengan gejala akibat kekurangan unsur mikro fe. semua gejala yang muncul ini sebenarnya adalah merupakan akibat dari terhambatnya aliran nutrisi (fotosintat) dari source ke sink karena virus yang ada di dalam tanaman menguasai floem (floem limited virus). tanaman yang terinfeksi pada awal pertumbuhan tidak akan menghasilkan buah dan tanaman tidak dapat tumbuh dengan normal. jika tanaman terinfeksi saat memasuki fase generatif maka buah yang dihasilkan akan berbentuk kerdil dan bertekstur keras. salah satu faktor yang berperan sangat penting dalam epidemi penyakit kuning cabai yang disebabkan oleh virus ini adalah keberadaan serangga vektor yang menyebarkan virus tersebut yaitu kutu kebul (bemisia tabaci). serangga ini termasuk dalam kelompok serangga penusuk penghisap. kutu kebul dan hubungannya dengan virus kuning cabai ini bersifat persisten. kutu memperoleh virus ketika dia mengambil makanan dari tanaman yang telah terinfeksi (akuisisi). virus yang diambil dari tanaman sakit beredar melalui saluran pencernaan, menembus dinding usus, bersirkulasi dalam cairan tubuh serangga (haemolymph) dan selanjutnya kelenjar saliva. pada saat dia menghisap makanan dari tanaman sehat, virus ikut masuk ke dalam tubuh tanaman bersama dengan cairan dari mulut serangga tersebut. retensi virus ini di dalam tubuh serangga sangat lama bahkan bisa dipindahkan secara transovarial melalui telur ke tubuh progeni. virus yang ditularkan oleh kutu kebul bereplikasi di dalam nukleus dan bergerak dari sel ke sel melalui plasmodesmata. pada gambar 1 terlihat bahwa tidak hanya virion dari hasil replikasi yang bergerak dari sel ke sel dan masuk ke dalam floem, namun juga coat protein (cp) dan movement protein (mp) berperan dalam penyebaran virus ke dalam tubuh tanaman. coat protein dan movement protein bergerak melalui retikulum endoplasma menuju ke viral assembly site (vas) sebelum masuk ke dalam floem dan bergerak bersama aliran di dalam floem ke seluruh tubuh tumbuhan. translokasi virus dari satu bagian tanaman ke bagian tanaman yang lain. proses fisiologi yang terganggu setelah virus masuk ke dalam tanaman, maka hal pertama yang akan dia lakukan adalah mereplikasi dirinya sehingga jumlah mereka mencukupi untuk menguasai tubuh tanaman. menurut te’csi, virus yang sudah dapat masuk ke dalam tubuh tanaman akan melakukan replikasi dan pembentukan protein virus. pada saat proses ini terjadi, tanaman akan mengalami peningkatan aktivitas protein anaplerotik, peningkatan laju fotosintesis dan peningkatan kandungan pati. setelah laju replikasi menurun maka laju fotosintesis pun akan menurun. virus yang menginfeksi tanaman melakukan replikasi sehingga menyebabkan peningkatan aktivitas enzim anaplerotik, laju fotosintesis dan kandungan pati. apabila sintesis virus menurun, laju fotosintesis dan kandungan pati dalam daun akan menurun, sedangkan glikolisis dan respirasi dalam mitokondria akan meningkat. perubahan ini ditunjukkan dengan terjadinya klorosis pada daun. klorofil daun diantara patogen tanaman, virus tanaman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tanaman inangnya, karena mereka menggunakan mesin seluler inang unt uk mereplikasi diri. virus harusmempertahankan tanaman inangnya untuk tetap hidup, karena mereka membutuhkan energi dari tanaman inang untuk proses hidupnya. virus berlaku sebagai penambang yang baik pada tanaman inang. beberapa faktor yang mempengaruhi virus memanfaatkan tanaman inangnya antara lain adalah resistensi tanaman, serta jenis infeksi yang lokal atau sistemik.kloroplas merupakan organel utama yang diserang oleh virus tumbuhan. penurunan laju fotosintesis disebabkan karena bentuk kloroplas yang abnormal, dengan ukuran yang relatif lebih kecil dan jumlah tilakoid pada setiap grana yang menurun akibat infeksi virus. tanaman terinfeksi virus maka peningkatan kandungan klorofil setiap satuan daun akan terhenti ketika panjang daun mencapai setengah dari panjang daun maksimum, yang mungkin merupakan bagian dari penghambatan sintesis klorofil. klorosis atau warna daun menguning pada tanaman yang terinfeksi terjadi karena beberapa sebab. klorosis pada daun tanaman yang terinfeksi terjadi karena pembentukan klorofil terhambat sehingga laju pembentukan klorofil sama atau lebih kecil dibandingkan dengan laju degradasi klorofil. hal ini terjadi karena dua hal, yaitu rasio klorofil a/b meningkat akibat dari laju pembentukan klorofil yang terhambat dan jumlah membran tilakoid pada grana menurun sehingga terjadi defisiensi klorofil b yang mengakibatkan laju pembentukan klorofil terhambat. terhambatnya pembentukan klorofil pada daun mengakibatkan akumulasi gula sehingga daun mengalami klorosis. akumulasi karbohidrat juga terjadi pada daun tanaman yang terinfeksi. kandungan nitrogen daun pada tanaman terinfeksi lebih rendah dibandingkan dengan daun tanaman yang tidak terinfeksi. hal ini kemungkinan disebabkan karena tanaman yang terinfeksi virus lebih banyak mengalokasikan nitrogen untuk bertahan dan replikasi virus dalam tubuh tanaman. apabila jumlah nitrogen dalam daun rendah dan tanaman terkena cahaya matahari dengan intensitas tinggi maka daun akan mengalami penurunan protein klorofil daun. laju asimilasi bersih laju asimilasi bersih dapat diartikan sebagai laju penimbunan bahan kering per satuan luas daun per satuan waktu, yang merupakan ukuran rata-rata efisiensi fotosintesis daun dalam satu tanaman. efisiensi laju asimilasi bersih dipengaruhi oleh besarnya radiasi matahari, kemampuan daun untuk berfotosintesis, nilai indeks luas daun dan pemerataan radiasi matahari ke seluruh permukaan daun. laju asimilasi bersih tertinggi dicapai pada saat tanaman masih kecil karena sebagian besar daunnya terkena sinar matahari secara langsung. semakin banyak daun yang terlindungi maka laju asimilasi bersih akan menurun. tanaman yang terinfeksi virus kuning cabai akan mempunyai daun yang bentuknya tidak normal, terutama apabila tanaman terinfeksi sebelum memasuki fase generatif. hal ini tentu akan berpengaruh terhadap indeks luas daun tanaman. jika indeks luas daunnya rendah dan kandungan klorofilnya juga rendah maka jumlah fotosintat yang dihasilkan untuk pertumbuhan tanaman juga akan menurun. dalam kondisi ini, hasil fotosintat tidak hanya digunakan oleh tanaman untuk tumbuh namun juga sebagian besar energinya dipakai oleh virus untuk hidup dan terus mereplikasi diri. kinerja virus yang memanfaatkan mesin seluler tanaman sangat merugikan. hal ini dikarenakan, tanaman tidak dapat melakukan fungsi fisiologisnya dengan baik, namun tetap dibiarkan hidup oleh virus. oleh karena itu, infeksi virus kuning cabai menimbulkan banyak kerugian terutama menurunnya produktivitas. penurunan produtivitas ini dikarenakan nutrisi yang dihasilkan pada saat proses fotosintesis terhambat translokasinya oleh keberadaan virus di floem. selain itu, proses fotosintesis tidak dapat berjalan dengan optimal karena jumlah klorofil pada daun tidak mencukupi. pentingnya kajian mengenai proses fisiologi tanaman yang terserang penyakit terutama yang disebabkan oleh virus akan dapat menunjang penelitian-penelitian lanjutan yang berkaitan dengan kegiatan meningkatkan daya tahan tubuh tanaman terhadap serangan virus maupun usaha mengurangi infeksi virus dengan modifikasi kegiatan budidaya yang lain.(disusun oleh yuli efendi thl-tbpp kec. labuhan maringgai) sumber : www.serangan-virus-kuning-pada-tanaman-cabai.com dan bahan bacaan