Loading...

Melaksanakan Sinkronisasi Birahi

Melaksanakan Sinkronisasi Birahi
Sinkronisasi. Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan birahi,di ikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan Persyaratan Sinkronisasi 1. Sapi dalam keadaan tidak bunting. Hal ini sangat penting, karena kalau sampai sapi bunting diberi perlakuan sinkronisasi estrus, akan berakibat keluron atau abortus. Pemeriksaan kebuntingan dan alat reproduksi sebelum perlakuan harus dilakukan secara cermat untuk memastikan bahwa hewan tidak dalam keadaan bunting.2. Hewan harus mempunyai kesehatan alat reproduksi yang baik. Adanya peradangan alat reproduksi, endrometritis, metritis, vaginitis, akan sangat berpengaruh pada hasil konsepsinya. Pemeriksaan klinis alat reproduksi perlu dilakukan sebelum dilakukkan perlakuan sinkronisasi estrus.3. Body condition score (BCS) hewan optimum, antara 3,0 – 3,5 . Sinkroninasi estrus pada sapi dengan BCS begitu pula sapi dengan BCS terlalu tinggi > 4 juga berresiko rendahnya angka konsepsi.4. Khusus untuk sinkronisasi estrus menggunakan prostaglandin F2?, hewan harus mempunyai korpus luteum pada salah satu ovariumnya. Pemeriksaan adanya korpus leteum sangat diperlukan. Mengingat PG F2?, target mempunyai organ korpus luteum. Sapi yang bersiklus estrus namun belum mempunyai korpus luteum maka perlakuan di tunda sampai terbentuk korpus luteum yang berukuran cukup besar.5. Sebelum dan setelah perlakkukan sinkronisasi estrus, hewan harus diberi pakan yang memadai dalam kualitas dan kuantitasnya, dihindarkan dari stres, karena hal tersebut sangat berpengaruh pada hasil respon hormonal hewan.Proses sinkronisasi Birahi.Proses sinkronisasi dengan menggunakan preparat prostaglandin (PG F2?) akan menyebabkan regresi CL akibat luteolitik, secara alami prostaglandin (PG F2?) dilepaskan oleh uterus hewan yang tidak bunting pada hari ke 16 sampai ke 18 siklus yang berfungsi untuk menghacurkan CL. Timbulnya birahi akibat pemberian PGF2? disebabkan lisisnya CL oleh kerja vasokontriksi PGF2? sehingga aliran darah menuju CL menurun secara drastis, akibatnya kadar progesteron yang dihasilkan CL dalam darah menurun, penurunan kadar progesteron ini akan merangsang hipofisa anterior melepaskan FSH dan LH, kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi, sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikel-folikel tersebut akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan gejala birahi. Kerja hormon estrogen adalah untuk meningkatkan sensitivitas organ kelamin betina yang ditandai dengan perubahan pada vulva dan keluarnya lendir transparan. Pelaksanaan inseminasi dilakukan 12 jam setelah kelihatan birahi, atau sekali pada 80 jam setelah penyuntikan kedua. Prosedur yang digunakan adalah : Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PG F2? satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2? dilakukkan dua kali selang waktu 11 – 12 hari. Setelah itu dilakukan pengamatan timbul tidaknya berahi 36 – 72 jam setelah penyuntikan kedua. Pemberian PGF2? analog dapat menyebabkan luteolisis melalui penyempitan vena ovarica yang menyebabkan regresi sel-sel luteal. Regresi sel-sel luteal menyebabkan produksi progesteron meurunkan menuju kadar basal mendekati nol nmol/lt, dimana saat-saat terjadinya gejala birahi. Regresi korpus luteum menyebabkan penurunan produksi progesteron.Penyusun : Sad Hutomo PribadiSumber : BPTP Sumsel Sumber Gambar : www.bbc.co.uk.