Pascapanen padi adalah tahapan kegiatan yang meliputi pemungutan (pemanenan) malai padi, perontokan, pengangkutan, pengeringan, penyimpanan dan penggilingan sampai beras siap dipasarkan atau dikonsumsi. Tujuan penanganan pascapanen adalah untuk mengurangi terjadinya susut hasil, menekan tingkat kerusakan, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri, meningkatkan nilai tambah, kesempatan kerja dan melestarikan sumber daya alam.Penurunan mutu dapat terjadi karena proses metabolisme di dalam biji tetap berlangsung, walaupun padi telah dipanen. Aktivitas nikroorganisme dapat terjadi bila kadar air gabah masih tinggi, sehingga dapat terjadi reaksi browning enzymatis yang dapat berakibat butir beras berwarna kuning, busuk, rusak maupun hitam. Kerusakan dapat terjadi apabila terjadi keterlambatan dalam proses perontokan padi. Keterlambatan perontokan padi sampai 3 hari dapat menyebabkan terjadinya susut hasil sebesar 3,12%, butir kuning/ rusak 2,84% dan biji tumbuh 2,22%. Kondisi penanganan pascapanen saat ini adalah petani masih melakukan penanganan secara tradisional dengan teknologi yang sederhana, walaupun telah banyak inovasi teknologi yang dihasilkan. Kurangnya sosialisasi, uji coba dan penyuluhan menyebabkan tingkat adopsi teknologi yang rendah, teknologi masih dianggap barang baru dan belum sesuai dengan tingkat sosial dan budaya masyarakat yang rendah, teknologi masih dianggap barang baru dan belum sesuai dengan tingkat sosial dan budaya masyarakat. Masalah utama dalam penanganan pasca panen adalah : (a) Padi dipanen sebelum dan sesudah mencapai masak optimum, sehingga mutu dan kualitas gabah kurang. (b) Varietas unggul baru yang mempunyai jumlah anakan produktif banyak menyebabkan umur panen yang tidak seragam (c) Keterbatasan peralatan pasca panen yang dimiliki oleh kelompok maupun pribadi petani mengakibatkan keterlambatan panen. Pengusaha yang bergerak dalam bidang pasca panen padi belum banyak mengarah ke kualitas gabah, tapi lebih ke arah kuantitas. Selain itu pemanfaatn limbah dan hasil samping belum dimaksimalkan. PENGERINGANGabah dijemur di atas lantai jenur dengan ketebalan 5-7 cm. Lakukan pembalikan setiap 2 jam sekal. Pada musim hujan gunakan alat pengering (dryer) dan pertahankan suhu pengering 50 C untuk gabah konsumsi dan 42 C untuk benih. Pengeringan dilakukan sampai KA gabah mencapai 12-14 % untuk gabah konsumsi dan 10-12 % untuk benih. Gabah yang sudah kering dapat digiling dan disimpan.Beberapa hal penting dalam penggilingan dan penyimpanan adalah : (a) Untuk mendapatkan beras berkualitas, perlu diperhatikan waktu panen, sanitasi (kebersihan), dan kadar air gabah (12-14 %). (b) Simpan gabah/beras dalam wadah yang bersih dalam lumbung/gudang, bebas hama dan memiliki sirkulasi udara yang baik. (c) Simpan gabah pada kadar air kurang 14 % untuk konsumsi dan kurang dari 13 % untuk benih. (d) Gabah yang sudah disimpan dalam penyimpanan, jika akan digiling dikeringkan Penyusun : sad Hutomo PribadiSumber : Eko Kristanto BPTP Bengkulu