Jambu Mete sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Said (2000) menyatakan Indonesia sebagai Negara penghasil Jambu Mete telah mengekspor mete 29.666 ton. Ekspor Jambu Mete dalam bentuk gelondong 28.016,57 ton dan kacang 1.649,43 ton. Biji Mete memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat yang sangat dibutuhkan. Industri makanan maupun farmasi banyak mengolah biji mete. Tanaman Jambu Mete merupakan tanaman yang mudah tumbuh serta toleran dengan kekeringan. Tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penghijauan dan pencegah erosi. Mulyono (2001) menyebutkan bahwa ekspor Jambu Mete dalam bentuk gelondong memberikan nilai tambah komoditas ini masih di luar negeri. Azam, et al (2001) menyatakan pada pasar internasional produk Jambu Mete dikategorikan menjadi 3, yaitu: mete (nut), kacang (kernel) dan CNSL (cashew nut shell liquid). CNSL merupakan hasil pengolahan terhadap limbah Jambu Mete.Saat ini, di dunia nilai penjualan CNSL sangat besar dengan besaran 10$ juta/tahun dengan Negara penghasil tertinggi adalah India dan Brazil dengan sumbangan pengiriman sebesar 90% kebutuhan dunia. Lukman, et al (2015) menyebutkan bahwa Negara-negara Afrika Timur saat ini telah memproduksi CNSL, yaitu: Tanzania dan Mozambik.Lukman, et al (2015) menyatakan CNSL memiliki nilai ekonomi tinggi karena banyak industri yang menggunakan seperti: cat, perekat, pelapis rem, bahan anti karat dalam ketel. Kulit biji Mete mengandung senyawa asam anakordat dan kardanol. Minyak laka tidak dapat dikembangkan sebagai bahan pangan karena sanat berbahaya namun dibutuhkan untuk keperluan indsutri. Rao, 1998; Mandal, 2000) menambahkan banyak industri yang menggunakan untuk dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan pakan ternak. Hal ini dikuatkan dengan penyataan Azam, et al bahwa lebih dari 200 paten dikeluarkan yang berkaitan dengan pemanfaatan CNSL. CNSL adalah cairan kental yang didapatkan pada rongga kulit mete. CNSL didapatkan melalui proses pemanasan atau ekstraksi.Secara umum di Indonesia, para petani Jambu Mete belum melakukan pemanfaatan Jambu Mete lebih baik. Pemanfaatan Jambu Mete dengan mengolah produk turunan sehingga memberikan nilai tambah bagi petani. Hal ini dapat dilakukan oleh petani dengan cara memanfaatkan limbah kulit Jambu Mete untuk diolah menjadi minyak laka atau lebih dikenal dalam dunia industri dengan istilah CNSL. Lukman, et al (2015) menyampaikan bahwa ekspor Indonesia saat ini masih dalam bentuk gelondong Mete dengan harga relatif rendah dengan besaran 15% dari harga Kacang Mete. Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor Jambu Mete baik dalam bentuk gelondong, maupun minyak CNSL dengan meningkatkan produktivitas tanaman Jabu Mete yang diusahakan oleh petani. Produktivitas petani dapat ditingkatkan yang akan berakibat meningkatnya limbah kulit Mete untuk diproses menjadi minyak CNSL atau minyak Laka seperti yang telah dilakukan oleh para petani di kabupaten Ende maupun Flores Timur dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Beberapa Cara Pengolahan CNSLNair et al (1979) dan Ohler (1988) menyatakan bahwa pengolahan CNSL dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: (1) Proses Minyak Panas (hot oil process); (2) Expeller (Kempa); (3) Metode Klin; dan (4) Ekstraksi PelarutMetode pertama, yaitu proses minyak panas adalah suatu cara dengan melewatkan gelondong Mete selama 1-3 menit dengan suhu 190-200o Celcius melalui sabuk berjalan. Metode kedua, yaitu dengan alat pengempa berulir, sehingga mampu mengeluarkan minyak CNSL yang telah diekstrak dengan proses dipanaskan. Cara yang paling mudah dan dapat digunakan oleh petani serta biasa digunakan di daerah Indonesia Timur adalah dengan metode Klin.Pengolahan CNSL Melalui Metode KlinPara petani tradisional Indonesia telah banyak menggunakan metode ini, khususnya di daerah kabupaten Ended an Flores Timur. Metode ini dipilih karena sangat sederhana dan dapat digunakan oleh petani. Cara pembuatan dengan menyangrai kulit gelondong dengan menggunakan kuali besar. Proses pembakaran yang dilakukan dengan menggunakan kayu bakar. Lukman, et al (2015) menyampaikan bahwa kulit Jambu Mete yang telah dipanasi akan terbakar, hangus dan mengalami polimerisasi serta akan mengeluarkan cairan CNSL. Cara ini belum dapat mengahsilkan CNSL murni. Untuk mendapatkannya, petani melakukan pendinginan minyak CNSL yang telah disangrai. Proses selanjutnya dilakukan proses penyaringan, pengendapan lalu dipanaskan kembali. Hal ini dilakukan agar CO2 yang dihasilkan dapat hilang. Selajutnya petani mengemas cairan dalam jerigen/besi yang dimiliki. Daftar PustakaAzam-Ali, S. H. and E. C Judge. 2001. Smallscale cashew nut processing Schumacher Centre for Technology and Development Warwickshire, UK. Lukman, W. Surachman, D. Bakti, R. 2015. Pengolahan CNSL (Minyak Laka) Warta Balitro Vol 32, No 63, Juni 2015.Mandal, R. C. 2000. Cashew Production and Processing Technology. Agrobios. India.p 195. Mulyono, E. 2001. Pengolahan Hasil Panen Jambu Mete. Laporan Teknis Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Hlm. 59-66..Said, E.G. 2000. Menguak Potensi Pengembangan Industri Hilir Perkebunan Indonesia. Makalah Senar Sehari Kebijakan Industri Hilir Perkebunan Indonesia, Jakarta. 14 September 2000.1998/12, FAO Regional Office Asia and Pacific, Thailand: 15-25.Rao, B.E.V.V, 1998. Integrated Producton Practice of Cashew in India. Integrated Production Practices of Cashew in Asia. RAP Publication Penulis: Miskat Ramdhani (Penyuluh BBP2TP) alamat email: annurd@gmail.com