Loading...

Membangun Kebun Pertanian Organik

Membangun Kebun Pertanian Organik
Pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama dikenal, sejak ilmu bercocok tanam dikenal manusia, semuanya dilakukan secara tradisional dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Pertanian organik modern didefinisikan sebagai sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Pengelolaan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Pertanian organik merupakan jawaban atas revolusi hijau yang digalakkan pada tahun 1960-an yang menyebabkan berkurangnya kesuburan tanah dan kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali. Sistem pertanian berbasis high input energy (HIESA) seperti pupuk kimia dan pestisida dapat merusak tanah yang akhirnya dapat menurunkan produktifitas tanah, sehingga berkembang pertanian organik. Prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sertifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi (IFOAM, 2008). Bagi negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, pangan organik masih merupakan hal yang baru dan mulai popular sekitar 4-5 tahun lalu. Damardjati (2005) mengatakan bahwa permintaan pangan organik meningkat di seluruh dunia dan jika Indonesia bisa memenuhi kebutuhan ini dan bisa meningkatkan eksport produk organic dapat meningkatkan daya saing usaha pertanian (agribisnis) di Indonesia dan meningkatkan devisa dan_pendapatan rumah tangga tani. Produk pertanian organic utama yang dihasilkan Indonesia adalah padi, sayuran, buah-buhan, kopi, coklat jambu mete, herbal, minyak kelapa, rempah-rempah dan madu. Diantara komoditi-komoditi tersebut, padi dan sayuran yang banyak diproduksi oleh petani skala kecil untuk pasar lokal. Perkembangan pertanian organic tidak diketahui secara pasti, perkembangan ilmu pengetahuan dan tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan, menjadi pemicu berkembang cepatnya pertumbuhan permintaan produk organik. Pertanian organik belum sepenuhnya memasyarakat, baik oleh petani sendiri maupun oleh pemerintah yang telah mencanangkan program kembali ke organik (go organic) tahun 2010, karena secara ekonomi biasanya harga bahan pangan organic lebih tinggi dibanding anorganik, namun walaupun program kembali ke organik tidak berjalan seperti apa yang diharapkan, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan pertanian organik dengan potensi sumber daya alam yang ada. Dalam tulisan ini dipaparkan pengembangan pertanian organik di Indonesia dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes), serta dapat meningkatkan pendapatan petani dan devisa. Kebun organik masih jarang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, namun sebetulnya bukan hal yang sulit untuk memulai karena pertaniannya menghilangkan penggunaan pupuk atau pestisida kimia sama sekali. Tahapan yang dapat dilakukan untuk membuat kebun sayur organik adalah dengan membuat pupuk kompos. Pembuatan kompos dapat dimulai menggali lubang kompos di sudut halaman, di mana kita sering membuang potongan sayuran, kulit buah, daun, pohon kering, dan bahan organik lain yang biasanya akan membuang ke tempat sampah. Seiring waktu, sampah akan berubah menjadi kompos. Salah satu tantangan terbesar yang harus di hadapi ketika memulai membuat kebun organik adalah menyingkirkan hama. Hal ini sangat sulit jika menggunakan penyemprotan pestisida pada tanaman, seperti yang kebanyakan orang lakukan karena mudah untuk menyingkirkannya. Namun dalam berkebun organik, pestisida kimia tidak digunakan sama sekali. Tetapi perlu untuk menemukan pengganti organik atau menemukan metode lain untuk merawat hama pada tanaman. Banyak pestisida alami/nabati yang dapat digunakan untuk memberantas hama kebun organik seperti : Cabe rawit, abu kayu, jus lemon, tanah diatom, dan minyak nimba. Dalam hal apapun, yang terbaik adalah waspada sehingga dapat mengatasi masalah hama sebelum hama merusak tanaman organik selain itu juga, bisa menggunakan pestisida nabati untuk memberantas hama. Prinsip Dasar Budidaya Pertanian Organik Prinsip Dasar Budidaya Pertanian Organik yang dirumuskan oleh IFOAM, Internasional Federation Of Organic Agriculture Movements (IFOAM, 1992) tentang budidaya tanaman organik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : Lingkungan Sumber : Anonimous. 2016 Gambar 2 menyajikan lokasi yang ideal untuk tanam organic. Lokasi kebun harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik. Karena itu pertanaman organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang memakai pupuk buatan, pestisida kimia dan lain-lain yang tidak diizinkan. Lahan yang sudah tercemar (intensifikasi) bisa digunakan namun perlu dilakukan konversi selama 1-3 tahun dengan pengelolaan berdasarkan prinsip pertanian organik. Yang terbaik adalah lahan yang berada di atas dan memiliki border yang jauh dengan lahan yang lain. Bahan Tanaman Varietas yang ditanam sebaiknya yang spesifik lokalita ataupun yang telah beradaptasi baik di daerah yang akan ditanami, dan tidak berdampak negative terhadap lingkungan/ramah lingkungan. Pola Tanam Pola Tanam hendaknya berpijak pada prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, berwawasan lingkungan menuju pertanian berkelanjutan. Pemupukan dan Zat Pengatur Tumbuh Bahan organik sebagai pupuk adalah sebagai berikut : Berasal dari kebun atau luar kebun yang diusahakan secara organik. Kotoran ternak, kompos sisa tanaman, pupuk hijau, jerami, mulsa lain, urin ternak dan lain-lain bahan organik asalkan tidak tercemar bahan kimia sintetik atau zat-zat beracun. Gambar 5 gambar kompos Pupuk buatan (mineral). Urea, ZA, SP36/TSP dan KCL tidak boleh digunakan. Kkapur, kieserite, dolomite boleh digunakan. Semua zat pengatur tumbuh tidak boleh digunakan. Pengelolaan Organisme Pengganggu Semua pestisida buatan (kimia) tidak boleh digunakan, kecuali yang diizinkan dan terdaftar pada IFOAM. Sedangkan pestisida hayati atau nabati diperbolehkan dengan menggunakan bahan-bahan yang juga berasal dari lingkungan sekitar. Sumber : Litbang Pertanian. 2016 3.3. Langkah-Langkah Membangun Kebun Pertanian Organik Berskala Besar Di Indonesia pertanian organik mulai populer di era 80-an. Dimana gerakan revolusi hijau yang digagas pemerintah pada akhir tahun 70-an mulai menunjukkan dampak negatifnya. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dituding sebagai pemicu kerusakan lingkungan pertanian dan kesehatan manusia. Berikut adalah langkah-langkah dalam membangun kebun pertanian organic : Penyiapan lahan Lahan untuk pertanian organik harus terbebas dari residu pupuk dan obat-obatan kimia sintetis. Proses konversi lahan dari pertanian konvensional ke pertanian organik membutuhkan waktu setidaknya 1-3 tahun. Selama masa transisi, produk pertanian yang dihasilkan belum bisa dikatakan organik karena biasanya masih mengandung residu-residu kimia. Hal lain yang harus diperhatikan adalah lingkungan disekitar lahan. Pencemaran zat kimia dari kebun tetangga bisa merusak sistem pertanian organik yang telah dibangun. Zat-zat pencemar bisa berpindah ke lahan organik kita karena dibawa oleh air dan udara. Selain zat pencemar, pemakaian obat-obatan dari kebun tetangga bisa menyebabkan hama dan penyakit juga berpindah ke lahan pertanian organik. Tentunya hama akan mencari lahan-lahan yang bebas racun, dan kebun organik akan selalu menjadi sasaran empuk. Untuk menyiasati hal tersebut, bisa menggunakan tanaman pagar. Beberapa jenis tanaman pagar memiliki kemampuan sebagai penyerap bau, bahan kimia, dan pengusir hama. Selain itu, hijauan dari tanaman pagar bisa digunakan sebagai bahan pupuk organik. Kondisi pengairan Kondisi pengairan atau irigasi juga menjadi penentu dalam pertanian organik. Dalam menerapkan pertanian organic, air akan yang mengaliri lahan kita harus terbebas residu bahan kimia. Karena akan beresiko tercemar zat-zat nonorganik. Pada akhirnya produk pertanian organik kita tidak steril dari racun-racun kimia. Untuk mengatasi hal tersebut, pilih lahan yang mempunyai pengairan langsung dari mata air terdekat. Kalau sulit kita bisa mengambil air dari saluran irigasi yang agak besar. Kadar residu kimia dalam saluran air yang besar biasanya sangat rendah, dan airnya masih bisa digunakan untuk pertanian organik. Hindari mengambil air dari limpahan kebun atau sawah konvensional. Selain itu, bisa juga dibuat unit pemurnian air sendiri. Air dari saluran irigasi ditampung dalam sebuah kolam yang telah direkayasa. Kemudian air keluaran kolam dipakai untuk mengairi kebun organik. Penyiapan benih tanaman Benih yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. Apabila benih organik sulit didapatkan, untuk tahap awal bisa dibuat dengan memperbanyak benih sendiri. Perbanyakan bisa diambil dari benih konvensional. Caranya dengan membersihkan benih-benih tersebut dari residu pestisida. Untuk menjadikannya organik, tanam benih tersebut lalu seleksi hasil panen untuk dijadikan benih kembali. Gunakan kaidah-kaidah pemuliaan dan penangkaran benih pada umumnya. Jangan mengawetkan benih dengan pestisida, fungisida atau hormon-hormon sintetis. Gunakan metode tradisional untuk mengawetkannya. Benih yang dihasilkan dari proses ini sudah bisa dikatakan benih organik. Hal yang perlu dicatat, benih hasil rekayasa genetika tidak bisa digunakan untuk sistem pertanian organik. Pupuk dan penyubur tanah Pemupukan dalam pertanian organik wajib menggunakan pupuk organik. Jenis pupuk organik yang diperbolehkan adalah pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos dan variannya, serta pupuk hayati. Pertanian organik juga bisa menggunakan penyubur tanah atau disebut juga pupuk hayati. Penyubur tanah ini merupakan isolat bakteri-bakteri yang bisa memperbaiki kesuburan tanah. Saat ini pupuk hayati banyak dijual dipasaran seperti EM4, Biokulktur, dll. Pupuk hayati juga bisa dibuat sendiri dengan mengisolasi mikroba dari bahan-bahan organik. Dalam permentan bahan-bahan tambang mineral alami seperti kapur dan belerang masih ditoleransi untuk digunakan pada pertanian organik. Berikut daftar bahan mineral yang bisa digunakan dalam pertanian organik: Dolomit Gipsum Kapur khlorida Batuan fosfat Natrium klorida  Pengendalihan hama dan penyakit Pengendalian hama dalam pertanian organik sebaiknya menerapkan konsep pengendalian hama terpadu. Hal-hal yang terlarang adalah menggunakan obat-obatan seperti pestisida, fungisida, herbisida dan sejenisnya untuk membasmi hama. Untuk menyasati dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap hama. ( Azzami. 2017), border pada lahan per tanaman atau yang saat ini sedang kekinian dengan menggunakan tanaman refugia Pengendalian organisme penganggu tanaman bisa memanfaatkan: Pemilihan varietas yang cocok. Rotasi tanaman. Menerapkan kultur teknis yang baik, seperti pengolah tanah, pemupukan, sanitasi lahan, dll. Memanfaatkan musuh alami atau predator hama. Menerapkan eksosistem pertanian yang beragam, tidak monokultur. Yang saat ini sedang popular di gunakan adalah menanam bunga refugia atau tanaman serai wangi pada border  Panen dan Pasca Panen Penentuan saat panen yang tepat perlu dilakukan sebagai upaya memperoleh kualitas hasil yang optimal. Waktu panen dapat ditentukan tidak hanya dengan melihat keadaan fisik tanaman. Setiap jenis tanaman memiliki kriteria siap panen yang spesifik. Menurut Herdiani, 2015 bahwa Panen pada tanaman sayuran dapat dilakukan secara manual dengan tangan yaitu dengan cara dipetik atau dengan bantuan alat misalnya pisau yang tajam.Di negara maju dengan lahan yang luas, panen biasanya dilakukan dengan menggunakan mesin. Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan yang menyebabkan sayuran cepat busuk. Wadah penampung hasil panen dan alat panen juga dipastikan harus bersih dan tidak memiliki bagian yang tajam/runcing yang bisa melukai produk hasil panen sayuran serta terbebas dari bahan kimia. Dan dalam penanganan pasca panen juga harus mengacu pada pedoman cara penanganan pasca panen yang baik (Good Handling Practices). Semoga dimasa mendatang pertanian organic bisa menjadi sebuah solusi untuk membangun pertanian yang berkelanjutan di Indonesia, karena selain sehat untuk dikonsumsi juga ramah lingkungan (zero waste) atau generasi selanjutnya tetap dapat menikmati alam seperti nenek moyangnya . SUMBER : Anonimous. 2016. Sistem Pertanian Organik Tekhnolohi Ramah Lingkungan. https://www.google.com/search?q=gambar+lingkungan+kebun+organik&safe=strict&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=dEktiO629cBDtM%253A%252C6yTpHLUKCNK-4M%252C_&usg=AI4_-kRIgmWMcL4lg8XeuTHHEmxHCb0WHw&sa=X&ved=2ahUKEwiVqqSoj_3dAhUhSY8KHSgJAWwQ9QEwAnoECAUQCA#imgrc=dEktiO629cBDtM: Azzami.2017.12_Prinsip_Dasar_Pengendalian_PHT. https://mitalom.com/pengertian-prinsip-dasar-dan-konsep-pengendalian-hama-terpadu-pht/ Ervina Herdiani,Ir, MP. 2015. Pasca Panen Sayuran. Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/941-pasca-panen-sayuran Litbang Pertanian. 2016. Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya. http://sulut.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-teknologi/pangan/106-infoteknologi4/673-pestisida-nabati-dan-cara-pembuatannya Saskia Elizabeth. 2016. http://mommiesdaily.com/2016/10/01/5-cara-menanam-tanaman-organik-di-rumah/ Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta Standar Nasional Indonesia 6729:2013 tentang Sistem Pertanian Organik. Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik : Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Nurhidayati, dkk. 2008. E-book Pertanian Organik : Suatu Kajian Sistem Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan. Malang : Universitas Islam Malang. Sutanto,R. 2006. Pertanian Organik. Yogyakarta: Gramedia Soetriono, dkk. 2006. Pengantar Ilmu Pertanian. Malang: Bayumedia Sihotang, B. 2009. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dengan Pertanian Organik. http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/submenu/informasi/berita/detailberita/100/1664. 14 Juli 2009. Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2016 http://www.pusattesis.com/pertanian-organik-pengertian-dan-tujuan-pertanian-organik/ diunduh tanggal 21 Oktober 2016 http://dokumen.tips/documents/makalah-pertanian-organik-55f7ef8ba96cb.html diunduh tanggal 26 Oktober 2016