Loading...

Membuat Trichoderma

Membuat Trichoderma
Pupuk Trichoderma merupakan salah satu jenis pupuk berbentuk jamur yang kini dikembangbiakkan untuk membasmi jenis hama jamur. Dengan kata lain, membasmi jamur dengan jamur. Trichoderma merupakan jenis antifungal atau jamur yang memiliki sifat antagonis dengan jamur patogen lain seperti Fusarium monilifome, Rizoctonia solani, Fusarium oxysporum, Rigdiforus lignosus, dan masih banyak lagi. Jamur Fusarium merupakan jenis jamur patogen yang sulit diatasi dengan bahan aktif fungisida lain. Namun dengan adanya agen hayati berupa Trichoderma ini, perkembangan Fusarium sudah bisa dihambat. Tentang Trichoderma Jamur Trichoderma merupakan salah satu fungi atau cendawan yang berada dalam kelas Ascomycetes. Fungi ini berada di dalam tanah hutan ataupun tanah pertanian dan juga tunggul kayu. Trichoderma mampu hidup dengan baik dalam suhu 6 derajat Celcius sampai dengan 41 derajat Celcius. Selain itu pH yang dibutuhkan untuk tumbuh dari angka 3 sampai 7. Sama halnya dengan fungi lainnya, Trichoderma mampu berkembang biak menggunakan spora atau konidia. Mulai dari kondisi ruangan sekitar yang harus terhindari dari sinar matahari dan tempat yang harus bersih. Jamur Trichoderma akan terlihat tumbuh apabila usianya mencapai 1 sampai 2 minggu. Jamur Trichoderma yang telah berhasil tumbuh pada media beras dan sekam sudah bisa untuk dibiakan pada media tanah. Nama jamur Trichoderma yang tumbuh di media beras dan sekam disebut juga starter beras. Langkah Pembuatan Bibit Trichoderma Bahan-bahan Pembuatan Fungisida Trichoderma Nasi basi sebanyak 1 sampai 2 mangkok. Ukuran mangkok bisa anda sesuaikan dengan kebutuhanmu. Nasi basi ini sebagai media tempat pertumbuhan jamur Trichoderma. Bambu 3 ruas. Perlu diketahui jika rekomendasi bambu baru yang baru ditebang lebih baik daripada yang sudah lama. Tali atau karet untuk pengikat Alkohol dengan kadar 70 persen Kain bersih Sendok bersih Toples Bersih Cara Pembuatan Jamur Trichoderma sebagai Fungisida Langkah pertama yang perlu anda lakukan untuk proses pembuatan jamur Trichoderma adalah dengan menyiapkan bambu sepanjang tiga ruas. Bambu tiga ruas tersebut akan dijadikan sebagai tempat nasi khusus dibagian tengahnya saja. Sedangkan untuk bagian pinggir dibiarkan saja sisa sekitar 10 cm saja. Selanjutnya belah bambu tersebut menjadi 2 bagian. Lalu, lubangi bagian kanan kiri ruas bambu tersebut sebesar jari kelingking. Setelah itu, bersihkan bagian dalam bambu sampai benar-benar bersih. Jika perlu, aliri bagian tersebut dengan air yang mengalir. Setelah itu, bersihkan bagian dalam bambu menggunakan kain yang sudah dibasahi oleh alkohol 70 persen. Langkah selanjutnya yaitu mengisi bagian dalam belahan bambu dengan nasi yang telah basi. Atau jika tidak punya, pastikan saja nasi tersebut telah anda biarkan selama 1 hari 1 malam. Jika sudah, satukan belahan bambu tersebut dengan menggunakan tali plastik atau karet sampai benar-benar rapat. Lanjut, kubur bambu tersebut di hutan atau bawah pohon yang memiliki tanah humus dengan kedalaman 10 sampai dengan 20 cm. Lalu, tutup kembali bambu tersebut dengan tanah. Ingat, untuk memudahkan dalam pengambilan, berilah tanda pada bagian tanah tersebut. Untuk mendapatkan jamur Trichoderma, biarkan bambu beserta isinya tersebut selama kurang lebih 10 hari. Baru setelah itu, anda bisa mengambilnya. Perhatikan dengan baik apakah terdapat jamur berwarna putih mirip kapas atau tidak disekitar nasi basi tersebut. Jika iya, maka anda telah berhasil mendapatkan miselium Trichoderma. Miselium inilah yang nantinya akan tumbuh dan berkembang menjadi jamur berwarna hijau, Trichoderma. Masukkan isi bambu pada toples yang sudah dibersihkan dengan alkohol 70 persen menggunakan sendok yang juga telah disterilkan. Kemudian, tutup secara rapat supaya miselium tersebut mampu tumbuh menjadi jamur hijau. Jamur hijau itulah yang kemudian disebut Trichoderma F0 atau bibit Trichoderma. Selanjutnya, anda bisa mengembangbiakkan Trichoderma F0 menjadi Trichoderma F1, F2, F3, dan seterusnya. Perlu anda tahu jika F1 merupakan hasil anakan dari F0, F2 hasil anakan dari F1 dan seterusnya. Wahyu Indra Astuti