Sesuai dengan kemajuan teknologi dan perkembangan pembentukan varietas kedelai unggul , penerapan pola tanam memegang peranan yang sangat penting dalam penanaman kedelai, terlebih dengan semakin sempitnya lahan pertanian yang tersedia. Beberapa komponen produksi yang akan berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas yaitu 1) penggunaan varietas unggul adaptif; 2) penyiapan lahan; 3) waktu tanam dan cara tanam; 4) pemupukan; 5) pengairan; 6) pengendalian gulma; pengendalian hama terpadu; 7) Panen dan pasca panen. 1. Penggunaan varietas unggul adaptif Penggunaan varietas unggul yang adaptif merupakan penunjang pokok dalam usahatani kedelai sehingga bisa diperoleh biji kedelai berkualitas tinggi. Varietas kedelai unggul yang telah dilepas mempunyai jangkauan daya adaptasi yang baik pada seluruh tipe akroekologi lahan. Kedelai varietas unggul yang menunjukkan daya adaptasi lebih baik dengan potensi hasil yang tinggi (> 2 ton) pada musim kemarau I ( MK1 : Maret – Mei) dengan pola tanam padi – kedelai – kedelai dianjurkan menanam varietas kedelai berumur sedang ( 80 – 90 hari), varietas Wilis, Sinabung dan Anjasmoro. Sedang pada musim kemarau II (MK II Juni/Juli – Agustus/september) dianjurkan menanam varietas berumur genjah ( 2. Penyiapan lahanPengolahan tanah harus dilakukan bila akan menanam kedelai di lahan kering di awal musim hujan. Tetapi dalam penyiapan lahan sawah setelah ditanami padi,tidak efisien dan tidak meningkatkan hasil, yang penting tersedia saluran air terutama pada musim kering I untuk saluran pembuangan kelebihan air. Sedangkan pada MK II berfungsi dalam pembagian/pemerataan air pengairan. Hal lain dalam penyediaan lahan yaitu pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa yang dihamparkan secara merata pada permukaan lahan. Tujuannya untuk meningkatkan 30 % hasil kedelai. Disamping itu, hamparan mulsa jerami juga berperan dalam menekan pertumbuhan gulma, mencegah serangan lalat batang serta mengurangi laju evapotranspirasi. 3. Waktu tanam dan cara tanamAgar benih kedelai yang ditanam di lahan sawah bisa berkecambah optimal (>95%), kondisi kelembaban tanah yang dibutuhkan antara 45 – 55% . Kondisi optimal dicapai sekitar 4 -6 hari setelah padi dipanen, yakni bila jerami dibersihkan saat panen atau 6 – 9 hari setelah padi dipanen. Waktu tanam optimal kedelai adalah 2 hari setelah panen padi. Biasanya karena faktor-faktor seperti kelebihan air, keterbatasan waktu dan tenaga kerja sehingga petani menanam kedelai pada musim MK I dengan cara disebar, ini pemborosan karena jumlah benih 2 kali lipat, padahal hasil sama. Sebaiknya ditanam secara tugal jumlah benih yang normal. 4. PemupukanAnjuran penggunaan pupuk untuk kedelai di lahan sawah jenis entisol sebanyak 50 kg urea + 50 kg SP36 + 50 kg KCL/ha yang diberikan dengan cara disebar sebelum tanam. Pupuk untuk lahan sawah jenis vertisol adalah 50 kg ZA + 50 kg SP36 + 100 kg KCL/ha. Sedangkan untuk lahan kering masam, pupuk yang dianjurkan untuk digunakan terdiri dari 50 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCL/ha ditambah 500 kg/ ha dolomit. 5. PengairanUntuk mencukupi kebutuhan yang optimal, tanaman kedelai memerlukan air sekitar 300 – 450 mm selama masa pertumbuhannya. Pengairan yang dianjurkan untuk semua jenis tanah sebanyak 3 – 4 kali, terutama pada empat fase kritis pertumbuhan kedelai yaitu fase pertumbuhan awal, saat berbunga, pembentukan polong dan pengisian biji. 6. Pengandalian gulmaPengendalian gulma pada tanam kedelai khususnya tanaman kedelai yang ditanam di lahan sawah pada MK I (sesudah tanaman padi) dapat menggunakan mulsa jerami dengan ketebalan sekitar 5 -7,5 cm atau sekitar 5 ton/ha. Perlakuan ini selain meningkatkan hasil kedelai juga dapat menekan perkembangan gulma sampai 65 %. Jika ingin menekan pertumbuhan gulma hingga 90 %, pemberian jerami sebaiknya diikuti dengan dicangkul atau disabit 1 kali penyiangan. Penggunaan herbisida juga dianjurkan pada masa pratumbuh ( 4- 5 hari sebelum tanam) atau bila populasi gulma sudah lebih dari 30 %. 7. Pengendalian hama terpaduCara pengendalian agar populasi atau tingkat kerusakan hama dapat dikurangi/ sangat ringan sehingga tidak merugikan petani. Beberapa komponen pengendalian hama terpadu antara lain : 1) pengendalian secara kultur teknis, dilakukan sebelum terjadi serangan hama, oleh karena itu perlu mengetahui kondisi agroekosistemnya, ekologi dan perilaku hama seperti kebutuhan akan makanan, pasangan hidup atau apa yang menjadi musuh alaminya; 2) pengendalian biologis , menggunakan musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator dan patogen , selain itu menggunakan trichoderma dan NPV; 3) pengendalian dengan pestisida,perlu diperhatikan penggunaan pestisida secara bijaksana sehingga musuh alami dari hama tersebut tetap hidup agar proses pengendalian hama penyakit tetap berlangsung. 8. PanenProses panen meliputi waktu panen, cara panen dan proses pasca panen.Waktu panen ditentukan oleh banyaknya polong yang telah berubah menjadi coklat kuning atau kuning jerami. Tanaman kedelai sudah boleh dipanen bila lebih dari 95 % polong yang terbentuk sudah berubah warna dan jumlah daun yang masih tertinggal di tanaman sekitar 5-10 %.Cara panen dilakukan dengan cara memotong batang tanaman kedelai sedekat mungkin dengan permukaan tanah, menggunakan sabit bergerigi tajam.Pasca panen, sebelum kedelai didistribusikan , hasil kedelai harus di proses lebih lanjut yaitu dengan pengeringan, pembijian,pembersihan biji, sortasi biji, dan penyimpanan biji/ benih.Penyunting : Asia (Penyuluh BPPSDMP)Sumber Informasi : Berbagai sumber.