Loading...

MENATA MANAJEMEN RANTAI PASOKAN KOMODITAS BUAH

MENATA MANAJEMEN RANTAI PASOKAN KOMODITAS BUAH
Pembangunan agribisnis hortikultura khususnya buah perlu dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dengan memperhatikan keseluruh aspek dan segmen agribisnis buah dari hulu sampai ke hilir dan perangkat penunjangnya menuju keseimbangan antara usaha peningkatan produksi, perbaikan distribusi dan peningkatan konsumsi yang menguntungkan semua pihak. Persaingan dalam perdagangan buah saat ini sangat ketat karena hambatan perdagangan sehingga dapat memberikan harga yang murah di tingkat konsumen. Agar buah dapat tetap bersaing di pasar domestik dan internasional dibutuhkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan rantai pasokan. Untuk memetakan kondisi dan permasalahan yang ada, membuat analisis kebutuhan perbaikan, menetapkan target-target perbaikan dan menyusun rencana aksinya perlu digunakan pendekatan pengelolaan rantai pasok atau supply chain management (SCM). SCM adalah suatu jejaring organisasi yang saling tergantung dan bekerjasama secara menguntungkan melalui pengembangan sistem manajemen untuk perbaikan sistem produksi dan penyaluran produksi, informasi, pelayanan dan dana dari pemasok ke pengguna akhir (konsumen). Konsep SCM dilakukan agar peningkatan daya saing itu tidak semata dilakukan melalui perbaikan produktivitas dan kualitas produk tetapi juga melalui pengemasan, pemberian merek, efisiensi, transportasi, informasi, penguatan kelembagaan dan penciptaan inovasi secara kontinyu dan sistemik serta penciptaan dan pembagian nilai tambah yang berkeadilan antar pelaku usahaPendekatan SCM didasarkan pada: (a) proses budidaya untuk menghasilkan produk hortikultura, (b) mentransformasikan bahan mentah (penanganan panen dan pascapanen ), (c) pengiriman produk ke konsumen melalui sistem distribusi. Dengan demikian dalam penerapan SCM tidak hanya menuntut penerapan Good Agriculture Practices (GAP), tetapi juga mencakup Good Handling Procedures (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Trading Practices (GTP).Untuk menjamin keberhasilan penerapan SCM perlu memahami faktor-faktor pendukung keberhasilan antara lain kebijakan, sumber daya manusia, prasarana, sarana, teknologi, kelembagaan, modal/pembiayaan, sistem informasi,sosial budaya dan lingkungan lain.Di dalam strukturisasi rantai pasok, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: (1) identifikasi status rantai pasok, (2) menyusun rencana strukturisasi rantai pasok sebagai tindak lanjut butir 1, (3) mengembangkan sistem informasi yang menghubungkan konsumen-pedagang-petani dan vice versa, (4) mensosialisasikan dan penerapan GAP, GHP, GMP dan GTP, (5) menggalang dukungan sektor terkait, pelaku bisnis dan masyarakat hortikultura dalam merestrukturisasikan rantai pasok.Komoditas yang telah menerapkan GAP/SOP dan telah mendapat registrasi kebun/lahan memiliki siklus rantai pasok yang spesifik. Setiap komoditas memiliki siklus rantai pasok yang berbeda satu dengan yang lain, misalnya komoditas salak berbeda dengan rantai pasok manggis, kentang atau lainnya. Selain rantai pasok berdasarkan komoditas juga berdasarkan daerah, seperti rantai pasok melon di kabupaten Madiun berbeda dengan rantai pasok melon di kabupaten Lombok Tengah atau kabupaten Serang. Direktorat Jenderal Hortikultura telah mengeluarkan rantai pasokan beberapa komoditas seperti melon, manggis, salak, mangga dan anggrek yang dapat digunakan petani/pelaku usaha sebagai acuan melakukan pemasaran buah melon. Rantai pasokan diperlukan kerjasama antar mata rantai yang saling menghargai dan menguntungkan, komunikasi yang intensif, pemahaman dan pengertian terhadap posisi dari masing-masing mata rantai untuk menimbulkan kepercayaan agar dapat mencapai efisiensi kerja yang tinggi Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan PertanianSumber : 1. Membangun Hortikultura Berdasarkan Enam Pilar Pengembangan, 2009. Direktorat Jenderal Hortikultura, Deptan RI 2. Pengelolaan Rantai Pasokan (supplay chain management-SCM) Pisang Mas Kirana Kabupaten Lumajang, 2008. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Ditjen Hortikultura.