Pendahuluan Makanan pokok sebagain besar masyarakat Indonesia adalah nasi. Konsumsi beras nasional sebesar 29,57 juta ton, sedangkan produksi padi sebesar 56,54 juta ton GKG jika dikonversi menjadi beras sebesar 32,42 juta ton. Surplus beras nasional sebesar 2,85 juta ton (BPS, 2018). Jawa Tengah merupakan penghasil padi terbesar ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Barat. Produksi Padi Jawa Tengah Tahun 2018 sebesar 9,51 juta ton GKG jika dikonversi menjadi beras sebesar 5,44 juta ton. Konsumsi Beras Jawa Tengah pada tahun 2018 sebesar 3,72 juta ton lebih rendah dari produksi beras pada tahun yang sama (BPS Jateng, 2018). Upaya meningkatkan produksi dalam mempertahankan swasembada pangan nasional harus terus dilakukan dan ditingkatkan. Tantangannya saat ini adalah alih fungsi lahan sawah untuk pembangunan infrastruktur, perumahan atau industri. Kendala ketepatan dan ketersediaan sarana produksi pada budidaya padi juga menjadi penghambat dalam upaya peningkatan produksi. Penanganan panen dan pascapanen padi juga perlu mendapatkan perhatian karena berpengaruh pada tingkat kehilangan hasil susut panen padi. Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan bimbingan teknis penanganan panen dan pascapanen tanaman pangan (Susut Hasil Padi) Tahun 2020, yang telah diselenggarakan di Surakarta, 11 – 13 Februari 2020. Bimbingan Teknis ini Bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada petugas pengamat susut hasil padi di Kabupaten. Harapannya materi dan metode bimtek dapat diaplikasikan oleh petugas pada saat pengambilan data sampel pengamatan susut hasil di kabupaten masing-masing. Acara di buka oleh Kepala Bidang Penyuluhan Pascapanen dan Bina Usaha Ir. Farid Mufti. Beliau menyampaikan pentingnya mengetahui kehilangan hasil panen padi untuk mengambil kebijakan dan langkah aplikasi di lapangan dalam rangka menekan kehilangan hasil panen padi. Lanjut beliau optimalisasi pemanfaatan alsintan panen hibah dari pemerintah harus terus ditingkatkan sebagai salah satu upaya yang dilakukan dalam mengurangi kerugian akibat kehilangan hasil di tingkat petani. Praktek pengamatan susut hasil padi dilaksanakan di Desa Plosokerep, Kecamatan Karangmalang kabupaten Sragen pada hari Rabu, 12 Februari 2020. Tahapan penanganan pascapanen padi meliputi pemanenan, penumpukan sementara dan pengumpulan, perontokan, pembersihan, pengangkutan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan serta penggilingan (Vivi Aryati, 2013). Rangkaian proses penanganan pascapanen yang cukup panjang tentunya berakibat pada kehilangan hasil panen, yang disebabkan antara lain cara penangangan panen dan penggunaan alat panen dan pascapanen (Kasma Iswari, 2012). Teknologi Penanganan Panen dan Pascapanen Padi Panen Padi Penentuan umur panen yang tepat sebagai langkah awal pencegahan kehilangan hasil panen. Jika umur panen telalu matang dan kadar air rendah saat panen menyebabkan gabah mudah rontok. Faktor yang mempengaruhi penetapan umur panen padi adalah varietas, iklim dan tinggi tempat. Beberapa ciri padi siap dipanen untuk menghasilkan gabah yang bernas dan bermutu menurut Nugraha dalam Iswari (2012) sebagai berikut : Padi berumur 50 – 60 hari setelah berbunga, tergantung dari varietasnya. Kadar air 21 – 24% pada saat musim kemarau dan 25 – 27% pada saat musim penghujan 90 – 95 % gabah dari malai tampak bewarna kuning Panen menggunakan alat yang tepat dapat menekan kehilangan hasil panen padi. Alat panen sampai saat ini sudah berkembang dari alat panen manual seperti ani – ani, sabit biasa dan sabit bergerigi dan saat ini berkembang berbagai alat mesin panen. Beberapa alat panen yang sudah diintroduksi dibeberapa lokasi antara lain mesin panen reaper, mesin panen Stripper, Alat panen tipe gendong mempunyai bentuk seperti mesin pemotong rumput dan Combine Harvester. Penggunaan mesin panen dan pascapanen dapat menurunkan kehilangan hasil biji – bijian dari 6% menjadi 2 – 4% dengan menggunakan combine harvester. Hal ini tentunya akan meningkatkan produksi dan produktivitas (Purwantini dan Sri, 2018). Setiap jenis alat panen memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Secara garis besar kelebihan penggunaan alat panen dibandingkan dengan menggunakan sabit adalah lebih cepat, biaya panen lebih kecil, mengurangi kehilangan hasil, dan meningkatkan kualitas gabah. Namun dalam pengoperasian alat panen diperlukan ketrampilan dan keahlian khusus dan harga alat panen relatif mahal (Swastika, 2012). Perontokan Padi Tahapan pascapanen yang menyebabkan kehilangan hasil cukup besar adalah tahap perontokan. Jika setelah panen tidak segera dirontok tetapi dilakukan penumpukan akan semakin memperbesar kehilangan hasil. Selain itu penumupukan sementara dan pengangkutan padi ke lokasi perontokan yang tidak tepat akan memperparah banyaknya kehilangan hasil. Penanganan perontokan yang tepat dapat mengurangi kehilangan hasil. Jika dibandingkan dengan cara manual dengan di gebot penggunaan mesin perontok dapat menekan kehilangan hasil hingga 1,3% (Iswari, 2012). Alat mesin perontokan yang saat ini banyak digunakan oleh petani adalah pedal thresher dan power thresher. Pedal thresher merupakan alat perontok padi sederhana dengan penggerak tenaga manusia. Menggunakan pedel thresher dapat menekan kehilangan hasil padi 4,5 – 65 dibandingkan dengan digebot. Power thresher merupakan mesin perontok yang sudah menggunakan mesin, dan dapat menekan kehilangan hasil padi sebesar 0,8% (Santoso dalam Iswari, 2012). Penggunaan alas yang lebar juga akan mengurangi kehilangan hasil panen pada saat perontokan baik menggunakan pedal thresher ataupun power thresher serta saat membawa padi yang telah dipanen dari lahan ketempat perontokan. Pengeringan Gabah Pengeringan gabah hasil panen pada dasarnya adalah mengurangi kadar air, mencegah tumbuhnya jamur, mencegah respirasi gabah, dan mengurangi kerusakan pada gabah yang akan disimpan. Cara pengeringan gabah dapat dilakukan menggunakan alat pengering energi surya, energi biomassa dan energi kombinasi surya dan biomassa (Panggabean et al, 2017). Penanganan pengeringan gabah yang tepat dapat menekan kehilangan hasil dan memperoleh kualitas gabah yang baik. Menurut Swastika (2012) Ketidaktepatan pengeringan gabah serta keterlambatan pengeringan akan menurunkan bobot dan mutu gabah. Kadar air tinggi memungkinkan serangga berkembang dengan baik. Rekomendasi IRRI pengeringan gabah harus dilakukan maksimal 12 jam setelah gabah dipanen. Pada umumnya petani melakukan pengeringan dengan cara dijemur langsung dengan sinar matahari pada lantai jemur atau dengan menggunakan alas terpal. Metode pengeringan ini membutuhkan waktu yang lama 2 – 4 hari tentunya membutuhkan biaya operasional yang lebih terutama jika musim penghujan. Resiko menurunya kualitas mutu gabah serta kehilangan hasil lebih mesar karena perubahan cuaca yang tiba-tiba atau karena adanya debu kendaraan atau hewan. Perkembangan teknologi saat ini telah mengintoduksi mesin pengeringan gabah sehingga tidak tergantung pada sinar matahari. Pada tahun anggaran 2018 melalui anggaran Kementerian Pertanian memberikan bantuan vertical dryer kepada kelembagaan petani dalam rangka meningkatkan mutu hasil gabah dan menekan kehilangan hasil pada tahap pengeringan. Alat pengering padi (paddy dryer) tipe vertical circulation adalah alat yang berfungsi untuk menurunkan kadar air gabah dengan cara menghembuskan udara panas ke dalam wadah pengering dimana gabah disirkulasikan secara terus menerus sampai kadar air yang diinginkan (Hidayat, 2015). Bahan bakar yang digunakan pengering tipe vertical dalah sekam. Pengering mekanis lain yang sudah banyak digunakan adalah tipe bak (Flat Bed Dryer). Bahan bakar yang digunakan, alat pengering tipe bak yaitu alat pengering tungku minyak tanah, alat pengering tungku gas, dan alat pengering tungku sekam (Swastika, 2012). Kelebihan menggunakan alat mekanis untuk pengering gabah adalah tidak bergantung pada cuaca, waktunya lebih cepat, efisien tempat, menekan kehilangan hasil dan mendapatkan kualitas gabah l;ebih baik. Namun terdapat kelemahan dimana harga alat pengering mekanis mahal sehingga diperlukan modal yang besar serta diperlukan ketrampilan dalam mengoperasikan, memelihara serta perbaikan alat pengering (Swastika, 2012). Penggilingan Gabah Penggilingan gabah merupakan tahap akhir dari penanganan pascapanen padi, yaitu menjadikan gabah menjadi beras. Proses tersebut terdiri dari pengupasan sekam atau gabah menjadi beras pecah kulit, penyosohan atau pengolahan beras pecah kulit menjadi beras sosoh, pengemasan, dan penyimpanan beras. Penggilingan padi terdapat alat pemecah kulit (husker), penyosoh (polisher) dan ayakan (separator). Teknologi yang diadopsi oleh penggilingan padi yaitu teknologi single pass dan double pass atau multiple pass. Teknologi single pass merupakan proses sekali pemecahan kulit dan sekali penyosohan. Mesin penggilingan terdiri dari satu alat pemecah (husker) dan satu alat pemoles (polisher), tanpa ayakan (separator) atau husker-polisher. Biasanya ini adalah penggilingan padi kecil. Teknologi double atau multiple pass merupakan proses gabah menjadi beras pecah kulit dan dua kali penyosohan. Mesin penggilingan ini terdiri dari satu mesin pemecah, satu ayakan dan dua mesin penyosoh atau husker – separator – polisher – polisher (Swastika, 2012). Teknologi yang digunakan dalam penggilingan gabah tentunya akan mempengaruhi kualitas beras yang dihasilkan. Penggilingan gabah dengan teknologi single pass masih terdapat gabah yang tidak terkelupas, serta masih terdapat banyak kotoran yang ikut dari hasil penggilingan. Menurut budiharti dalam Iswari (2012) Rendemen giling pada penggilingan padi sederhana dengan mesin husker – polisher rata-rata 61,40% dan 74,5%, sedangkan penggilingan padi dengan mesin cleaner-husker-separator-polisher (CHSP), rendemen giling dan beras kepala meningkat menjadi 66% dan 84,6%. Menurut Setyono dalam Swastika (2012) penggilingan padi skala kecil menghasilkan beras dengan kualitas rendah, beras pecah labih dari 25%, serta menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Untuk menghasilkan beras sesuai dengan SNI maka harus mendapatkan hasil rendemen giling yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan rekomendasi PERPADI untuk mengadopsi teknologi double atau multiple pass untuk penggilingan padi. PENUTUP Menekan kehilangan hasil padi perlu mendapatkan perhatian dan penangan yang baik karena akan berpengaruh pada produksi dan produktivitas padi sebagai salah satu komoditas pangan utama penduduk Indonesia. Penanganan panen dan pascapanen yang tepat, mekanisasi pertanian serta adopsi teknologi yang sesuai merupakan solusi dalam menekan kehilangan hasil tersebut. Strategi yang dapat ditempuh melalui pemanfaatan combine harvester sebagai alat panen untuk mengurangi gabah rontok di lahan, dan perontokan dengan power thresser dengan memanfaatkan alas yang lebar sebagai penampung gabah yang terlempar dari alat perontok. Sedangkan untuk meningkatkan menekan kehilangan hasil dan menghasilkan beras bermutu pemanfaatan pengering mekanis menjadi salah satu solusi. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan pengering gabah mekanis tipe vertical dryer. Penerapan teknologi double atau multipel pass pada penggilingan padi diperlukan untuk mendapatkan rendemin giling yang tinggi serta mutu beras yang lebih baik. Dukungan berupa sarana dan prasarana pascapapanen dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah sangat diperlukan. Peningkatan pengetahuan ketrampilan SDM petani dan pelaku usaha dalam penanganan panen dan pascapanen serta penerapan teknologi juga perlu ditingkatkan melalui pelatihan. Pendampingan penyuluh serta petugas teknis lain dilapangan sebagai petugas yang langsung mendapingi petani di tingkat lapangan perlu ditingkatkan selain ketrampilan dan pengetahuan petugasnya. Penulis : Roostian Moordiani (Penyuluh Pertanian Muda pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah) DAFTAR PUSTAKA BPS. 2019. Ringkasan Eksekutif Luas Panehn dan Produksi Beras di Indonesia 2018. BPS. Jakarta. Hidayat, T. 2015. Desain Untuk Manufaktur Husk Furnace Pada Mesin Pengering Gabah Tipe Vertical Drying. e-journal.upstegal.ac.id 11 (2) : 32 – 38. Iswari K. 2012. Kesiapan teknologi panen dan pascapanen Padi dalam menekan kehilangan hasil Dan meningkatkan mutu beras. Jurnal Litbang Pertanian, 31(2) : 58 -67. Panggabean T, Arjuna N. T, Ari H. 2017. Kinerja Pengeringan Gabah Menggunakan Alat Pengering Tipe Rak dengan Energi Surya, Biomassa, dan Kombinasi. J. Agritech 37 (2) : 229-235. Purwantini, T.B, dan Sri, H.S. 2018. Dampak Penggunaan Alat Mesin Panen Terhadap Kelembagaan Usaha Tani Padi. J. Analisis Kebijakan Pertanian 16 (1) : 73-88. Swastika. 2012. Teknologi Panen Dan Pascapanen Padi: Kendala Adopsi Dan Kebijakan Strategi Pengembangan. J. Analisis Kebijakan Pertanian 10 (4) : 331-346. Vivi Aryati. 2013. Panen Dan Pasca Panen Padi. Sinartani Edisi 17 - 23 Juli 2013 No.3516 Tahun XLIII