Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah, namun belum diikuti dengan penanganan pascapanen dengan baik. Produksi padi yang melimpah disaat musim hujan mengundang berbagai masalah, terutama dalam proses penanganan panen dan pascapanen. Berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kehilangan hasil panen antara lain varietas padi (beberapa varietas padi sangat mudah rontok yaitu golongan IR, dan varietas yang susah rontoh yang umumnya padi bulu/varietas Fatmawati), alat dan cara panen yang menentukan besar kecilnya kehilangan hasil, perilaku petani/penderep, umur panen, alat perontok, lokasi dan musim. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor: teknologi belum sesuai baik secara teknis, ekonomis maupun sosial budaya lokal yang kondisinya beragam di tiap wilayah, dan tidak ada insentif harga produk seperti gabah atau beras yang mutunya lebih baik sehingga petani mengabaikan cara penanganan padi yang baik. Pengamatan Secara Visual Umur panen dapat ditentukan berdasarkan pengamatan visual dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan sawah. Umur panen optimal padi dicapai setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah yang berkualitas sangat baik, dengan kandungan butir hijau dan butir mengapur yang rendah. Padi yang dipanen pada kondisi optimum juga akan menghasilkan rendemen giling yang tinggi. Alat panen yang dipergunakan oleh petani telah berkembang mengikuti perkembanganya varietas padi baru yang telah dihasilkan. Alat pemotong malai padi ini berkembang dari ani-ani, kemudian menjadi sabit dan terakhir sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam untuk menekan kehilangan. Penggunaan sabit gerigi dapat menekan kehilangan hasil sebesar 3 % (Damarjati et al, 1990; Nugraha et al, 1990) Potensi kehilangan hasil yang dapat terjadi pada proses pemanenan padi adalah pada saat penumpukan dan pengumpulan padi untuk dirontok. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil saat panen sebaiknya pada waktu penumpukan padi dan pengangangkutan menggunakan alas plastik, sehingga gabah yang rontok dan tercecer dapat ditampung dalam wadah tersebut. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0.94-2.36%. Perontokan adalah proses melepaskan butiran gabah dari malai padi yang dapat dilakukan melalui proses mekanis yaitu dengan proses menyisir atau membanting malai padi pada benda yang lebih keras ataupun alat perontok tertentu. Pada beberapa kasus, tidak semua petani langsug melakukan perontokan padinya setelah melakukan pemotongan. Di beberapa daerah penundaan perontokan atau terjadinya keterlambatan perontokan selalu terjadi. Beberapa hal yang mungkin terjadi selama proses penundaan antara lain : terjadi kehilangan hasil yang disebabkan oleh gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang, dan terjadi kerusakan gabah karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning, berjamur atau rusak. Hasil penelitian menunjukan terjadinya kerusakan dan kehilangan hasil panen akibat keterlambatan perontokan padi. Perontokan padi merupakan tahapan setelah pemotongan padi (pemanenan). Tahapan kegiatan ini bertujuan untuk melepas gabah dari malai. Padi dirontok dengan mesin perontok. Ada beberapa tipe dan model mesin perontok yang telah dikembangkan, mulai dari mesin perontok manual pedal “thresher” dan mesin perontok padi mekanis “power thresher”. Kinerja alat perontok akan menentukan tingkat kehilangan hasil. Kecepatan putaran silinder perontok menentukan hasil perontokan, kehilangan hasil dan gabah yang tidak terontok karena masih menempel pada malai padi. Alat perontok pedal “thresher” berputar pada kecepatan 100-150 rpm, sedangkan “power thresher” disarankan pada 400-450 rpm. Penyebab utama kehilangan hasil pada perontokan padi adalah : perilaku petani yang bekerja kurang hati-hati, cara penggebotan dan frekuensi pembalikan padi, kecepatan silinder perontok dan besarnya alat plastik yang digunakan pada saat merontok. Untuk menghasilkan beras berkualitas baik, gabah hasil panen harus diturunkan kadar airnya secara cepat dengan penjemuran dengan sinar matahari langsung ataupun dengan alat pengering buatan. Gabah yang terlambat dikeringkan akan berakibat tidak baik terhadap kualitas berasnya. Hal ini disebabkan gabah hasil panen dengan kadar air tinggi dan kondisi lembab mengalami respirasi dengan cepat. Akibatnya butir gabah busuk, berjamur, berkecambah maupun mengalami reaksi browning enzimatis sehinga beras berwarna kuning/kuning kecoklatan. Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran umumnya disebabkan oleh fasilitas penjemuran seperti lantai jemur maupun alas lainnya yang kurang baik, sehingga banyak gabah yang tercecer dan terbuang saat proses penjemuran dan adanya gangguan hewan seperti ayam, burung, kambing dll. Ada 2 cara pengeringan yang lazim digunakan oleh petani yaitu : pengeringan dengan cara penjemuran langsung menggunakan sinar matahari, dan pengeringan dengan menggunakan alat pengering buatan (artificial dryer). Pengeringan dengan sinar matahari (penjemuran) harus memperhatikan intensitas sinar, suhu pengeringan yang selalu berubah, ketebalan penjemuran dan frekuensi pembalikan. Penjemuran yang dilakukan tanpa memperhatikan hal-hal tersebut di atas dapat menyebabkan penurunan kualitas beras, misalnya beras akan menjadi pecah waktu proses penggilingan. Penjemuran pada lapisan semen yang dilakukan dengan ketebalan yang tipis kurang dari 1 cm dapat mengakibatkan persentase beras pecah lebih dari 70% dengan rendemen giling rendah. Pengeringan dengan alat pengering buatan akan menghasilkan gabah berkualitas lebih baik, hal ini disebabkan suhu pengering, aliran udara panas dan laju penurunan kadar air dapat dikendalikan. Teknologi pengeringan gabah dengan bahan bakar sekam merupakan teknologi unggulan yang mudah untuk diimplementasikan karena biaya pengeringan yang murah dan efisien dengan kualitas yang baik. Petani umumnya menyimpan gabah dengan dua cara sistem curah, yaitu gabah yang sudah kering dicurahkan pada satu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca, dan cara penyimpanan dengan menggunakan kemasan/wadah seperti karung plastik, karung goni, pengki tenggok dan lain-lain. Kehilangan hasil saat penyimpanan disebabkan oleh kondisi kemasan, tempat penyimpanan, gangguan hama dan penyakit gudang dan keadaan cuaca setempat, kadar air gabah akan mengikuti kondisi keseimbangan udara luar. Pada wadah yang kedap udara umumnya kadar air penyimpanan tidak akan banyak mengalami perubahan, sedangkan pada konsisi wadah yang tidak kedap udara kadar air gabah akan mengikuti perubahan sesuai dengan kelembaban udara sekitarnya. Lama penyimpanan akan berpengaruh terhadap kualitas gabah yang dihasilkan. Pada kondisi kadar air tinggi yang akan diikuti dengan kelembaban yang tinggi, kerusakan gabah selama penyimpanan akan semakin cepat. Kehilangan pada tahapan penggilingan umumnya disebabkan oleh penyetelan blower penghisap, penghembus sekam dan bekatul. Penyetelan yang tidak tepat dapat menyebabkan banyak gabah yang terlempar ikut ke dalam sekam atau beras yang terbawa ke dalam dedak. Hal ini menyebabkan rendemen giling rendah. Kualitas beras akan ditentukan dalam proses penyosohan (polish). Proses yang baik akan menghasilkan beras dengan penampakan yang cerah dan mengkilat, serta derajat sosoh yang tinggi. Proses penyosohan yang tidak baik akan menghasilkan beras kusam dan persentase beras pecah dan menir yang tinggi. Proses penyosohan berpengaruh terhadap kualitas penampakan beras. Di dalam sistem tataniaga dan perdagangan beras, kualitas fisik beras sangat menentukan. Penurunan kualitas fisik dapat menyebabkan kehilangan bobot maupun kehilangan nutrisi beras. Kedua hasil tersebut dapat menyebabkan jatuhnya harga jual gabah maupun beras. Selain kehilangan bobot di dalam perlakuan penanganan pascapanen yang salah dapat menyebabkan kehilangan kualitas kimia. Kehilangan tersebut dapat terjadi karena terjadi penundaan atau keterlambatan perontokan, penumpukan padi di sawah yang terlalu lama, ) terjadinya keterlambatan dalam proses penjemuran/pengeringan dan kerusakan yang terjadi karena kondisi penyimpanan yang tidak memenuhi syarat. Upaya perbaikan penanganan pascapanen sebaiknya dimulai dengan peningkatan kemampuan dan ketrampilan petani dalam hal pascapanen padi, yang dimulai dengan pengenalan tahapan pascapanen, titik kritis tahapan pascapanen yang dapat menimbulkan potensi kehilangan serta cara mengatasi atau menekan kehilangan tersebut. Pembentukan dan pemberdayaan kelompok upaya perbaikan penanganan dan penekanan kehilanganh hasil panen dengan penerapan teknologi pascapanen yang baru, sebaiknya dilakukan secara berkelompok yang bersifat komersial dan mandiri, baik oleh kelompok tani, regu panen, dan pengusaha jasa alsintan dengan cara membentuk kelembagaan jasa pemanen, jasa perontok, jasa penjemuran, dan jasa penggilingan, sehingga nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh seluruh anggota kelompok. Sumber : Nugraha, S., A. Setyono dan D.S. Damarjati. 1990. Pengaruh keterlambatan perontokan padi terhadap kehilangan hasil dan mutu. Laporan Hasil Penelitian 1988/89. Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi. Sigit Nugraha. Metode Menekan Kehilangan Hasil Padi. Balai Besar Pascapanen Litbang Pertanian. Bogor Ditulis oleh : Sri Haryanti, SP – Penyuluh Pertanian Muda BPP Kec. Pengadegan