Loading...

MENERAPKAN CARA TANAM SISIP (REPLAY PLANTING) MENINGKATKAN INDEKS PERTANAMAN (IP)

MENERAPKAN CARA TANAM SISIP (REPLAY PLANTING)  MENINGKATKAN INDEKS PERTANAMAN (IP)
Pemerintah telah menetapkan bahwa tahun 2015-2017, Indonesia harus mencapai swasembada jagung. Terkait dengan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian telah meluncurkan berbagai teknologi untuk peningkatan produksi jagung diantaranya dengan cara tanam sisip (relay planting), Dengan cara ini dalam satu tahun dapat dilakukan empat kali tanam dan empat kali panen (Indeks Pertanaman/IP 400). Varietas jagung yang ditanam dapat dari jenis komposit maupun hibrida yang berumur sekitar 100 hari. Cara tanam seperti ini dapat menghemat siklus waktu yaitu sekitar 340-355 hari. Menghemat biaya produksiPenerapan IP 400 dapat menghemat biaya produksi hal ini karena pengolahan tanah hany dilakukan hanya satu kali saja yaitu pada saat pertanaman I, selanjUtnya untuk pertanaman II, III dan IV lahan tidak perlu diolah lagi. Demkian selanjutnya untuk penyiangan gulma juga dapat dihemat karena brangkasan tanaman saat panen ditinggalkan didalam baris tanaman sebagai mulsa sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma. Jajar legowo Budidaya jagung dengan menerapkan IP 400 dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam sistim jajar legowo, yaitu dengan jarak tanam sempit (50 cm) untuk setiap 2 baris tanaman yang diikuti dengan jarak tanam lebar (100 cm) untuk barisan tanaman berikutnya. Untuk jarak tanam dalam barisan 20 cm, satu tanaman per lubang yang ditempatkan diantara dua tanaman sebelumnya. Dengan cara ini populasi tanaman yang diperoleh sama dengan populasi tanaman adengan menggunakan jarak tanam normal (75 cm x 20cm, 1 tanaman per lubang), yaitu populasinya sekitar 66.666 tanaman/ha. Maksud lain penanaman dengan sistim jajar legowo dimaksudkan selain untuk memudahkan penanaman cara sisip ini untuk pertanaman II, mengingat pada saat tanam ke II pertanaman I belum dipanen juga untuk memudahkan pengendalian gulma dengan herbisida saat pertanaman I. Pemangkasan dan pemupukanPada pertanaman II, yaitu setelah benih tumbuh sekitar 7-10 hari setelah tanam, daun tanaman dari pertanaman I dipangkas pada bagian diatas tongkolnya, yang dimaksudkan untuk mempercepat pengeringan tongkol sekaligus untuk memberikan pertanaman II yang sedang tumbuh mendapatkan sinar matahari penuh. Hasil berangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sebagian untuk mulsa penutup tanah. Pemupukan I dilakukan sesaat setelah pemangkasan daun dibagian atas atas tongkol. Selanjutnya pemupukan II dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari dari pertanaman I yang ditandai dengan kelobot mulai mengering, maka segera dilakukan panen dan pemangkasan batang. Pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi (pada saat musim hujan) dan berpeluang tergenang maka perlu dibautkan saluran drainase diantara baris tanaman yang berjarak tanam lebar. Pengelolaan hara N, P, dan K untuk jagung hibrida dan komposit dengan penerapan peningkatan IP (intensitas pertanaman pada lahan kering, dari hasil penelitian tanaman jagung hibrida varietas BIMA-3 dan komposit varietas Sukmaraga di Kalaserena, Bontonompo, Gowa di Balit Serealia Maros, tahun 2011 dapat digambarkan hasilnya sebagai berikut: a. Hasil biji varietas Bima-3 pada pertanaman I dan II sangat dipengaruhi oleh pemberianpupuk N, unsur N sebagai penentu peningkatan hasil di lokasi ini. Pada pertanaman I,pemberian N sebanyak 225 kg N, yang diikuti dengan pemberian 18 kg P2O5/ha dan 90 kg K2O/ha memberikan hasil tertinggi yaitu 10,92 t/ha dan tidak berbeda denganperlakuan lain yang tidak diberikan pupuk P dan K. Pada pertanaman II, meskipun hasilyang dicapai lebih rendah dari pertanaman II, namun juga mengindikasikan bahwa unsur N merupakan penentu hasil biji jagung. Pemberian N berdasarkan "nutrient manager" (190 kg N/ha dan diikuti dengan pemberian 66 kg P2O5 dan 58 kg K2O/ha) memberikan hasil tertinggi yaitu 8,94 t/ha dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya kecuali terhadap kontrol dan pemberian 225 kg N/ha. Demikian juga terhadap hasil biomas segarnya.b. Demikian halnya untuk jagung komposit varietas Sukmaraga pada pertanaman I dan II.Pada pertanaman I, pemberian N sebanyak 180 kg N/ha yang diikuti dengan pemberian36 kg P2O5 dan 60 kg K2O/ha memberikan hasil tertinggi yaitu 8,46 t/ha dan berbedanyata dengan pemberian berdasarkan "SIPAJA" (110 kg N/ha + 60 kg P2O5/ha + 20 kgK2O/ha) dengan hasil yang dicapai 7,21 t/ha. Pada pertanaman II, meskipun hasil yangdicapai lebih rendah dari pertanaman II, namun juga mengindikasikan bahwa unsurN merupakan penentu hasil biji jagung. Pemberian N sebanyak 180 kg N/ha yang diikutidengan pemberian 36 kg P2O5 dan 60 kg K2O/ha memberikan hasil tertinggi yaitu 8,24t/ha dan berbeda nyata dengan pemberian berdasarkan "SIPAJA" (110 kg N/ha + 60 kg P2O5/ha + 20 kg K2O/ha) dengan hasil yang dicapai 5,42 t/ha Keuntungan penerapan IP 400Keuntungan usahatani jagung dengan menerapkan IP 400 pada lahan kering antara lain: 1) produktifitas lahan secara kumulatif per tahun meningkat dengan tingkat produktivitas sekitar 7 ton/ha untuk jagung komposit (umur 90 hari)dan sekitar 10 ton/ha untuk jagung hibrida (umur 100 hari) maka total produksi bisa mencapai > 40 ton/ha/tahun dengan menggunakan jagung hibrida; 2) pengolahan lahan hanya dilakukan sekali saja pada saat sebelum tanam pada pertanaman I sehingga menghemat biaya produksi; 3) brangkasan hasil pemangkasan daun bagian atas tongkol dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan mulsa penutup tanah dapat digunakan sebagai pupuk organik; 4) dengan adanya mulsa penutup tanah, dapat mengurangi penguapan permukaan tanah dan mengurangi frekuensi pemberian air pada saat musim kemarau sekaligus mengurangi biaya pemberian air; 5) dengan adanya mulsa dapat mengurangi pertumbuhan gulma yang berarti mengurangi biaya pengendalian gulma/penyiangan. Hal-hal yang perlu diperhatikanYang perlu diperhatikan dalam usahatani dengan menerapkan IP 400 adalah: 1) panen saat musim hujan sehingga perlu adanya alat pengering (karena jika tidak segera dikeringkan biji jagung mudah berjamur); 2) cukup tersedia tenaga kerja (mengingat kegiatan pertanaman berjalan selama satu tahun secara berkelanjutan); 3) mewaspadai serangan penyakit busuk batang; 4) pemberian pupuk dilakukan tepat waktu (tidak saat musim penghujan); 5) lokasi untuk penerapan IP 400 hendaknya cukup air (terutama saat musim kemarau); 7) lahan pada saat musim hujan tidak tergenang air; 8) varietas jagung yang ditanam berumur 100 hari. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Peningkatan Produksi Jagung dengan Penerapan Indeks Pertanaman (IP) 400 . pada buku Inovasi Teknologi Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani, 2012; 2) Inovasi Teknologi Produksi, Balit Serealia, Badan Litbang Pertanian, 2011; 3) Dihimpun dari beberapa sumber