Perubahan Iklim yang terjadi saat ini sering mengakibatkan cuaca yang ekstrim baik kering maupun hujan yang sulit diprediksi. Akibat dari adanya iklim ekstrim ini adalah penurunan produktivitas dan munculnya serangan hama dan penyakit.Perubahan iklim global juga akan mempengaruhi setidaknya tiga unsur iklim dan komponen alam yang sangat erat kaitannya dengan pertanian yaitu naiknya suhu udara, berubahnya pola curah hujan dan makin meningkatnya intensitas kejadian iklim ekstrim anomaly iklim seperti El-Nino dan La-Nina dan naiknya permukaan air laut akibat pencairan gunung es di kutub utara. Sebagai gambaran, satu kali kejadian EI-Nino (lemah-sedang) dapat menurunkan produksi padi nasional sebesar 2-3%. Jika iklim ekstrim diikuti oleh peningkatan suhu udara maka penurunan produksi padi akan lebih tinggi lagi. Peningkatan permukaan air laut juga akan meningkatkan salinitas (kegaraman) tanah sekitar pantai. Salinitas pada padi sangat erat kaitannya dengan keracunan logam berat, terutama Fe dan AI. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai garis dan hamparan pantai yang sangat panjang, sehingga penciutan lahan pertanian akibat peningkatan permukaan air laut menjadi sangat luas. Memenuhi tuntutan perubahan iklim ekstrim yang terjadi perlu segera menciptakan Varietas Unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit serta tahan terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrim. Disamping itu diperlukan cara untuk mengatasi perubahan iklim ekstrim sebagai berikut: 1. Untuk mengatasi kekeringan adalah dengan menyediakan irigasi yang memadai dan menanam tanaman di dekat sumber mata air. Maka masalah kekeringan sudah bisa di atasi secara lokal. Tetapi jika kekeringan secara meluas maka petani bisa menanam tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air seperti tanaman palawija. Cara lain dapat dilakukan dengan menyewa mesin penghisap air untuk mengairi tanamannya. Petani dapat juga membuat sumur-sumur di sawahnya sebagai sumber air ( tandon air ) sehingga pada saat musim hujan, air hujan dapat tertampung kedalam sumur dan pada musim kemarau petani masih mempunyai persediaan air di sumur-sumur. Sebenarnya pembuatan sumur di sawah berpotensi sebagai tempat / sumber penyediaan air sawah mengingat luas hamparan sawah sebagai media serapan air hujan. Peranan irigasi yang baik dan berdaya guna maksimal sangat dibutuhkan oleh petani dalam menghadapi kekeringan dan kebanjiran terhadap pertanaman.2. Untuk mengatasi masalah kebanjiran atau kandungan air yang berlebih dalam tanah maka secara kultur teknis petani bisa membuat selokan-selokan atau juring- juring di sekitar pertanaman. Dalam hal ini juga harus mempehatikan letak lahan itu berada. Sehingga ketika hujan tiba tiba turun maka air hujan akan segera terbuang. Atau bisa dengan cara cara lainnya sesuai dengan keadaan daerah. Disamping itu perlu diciptakan varietas unggul yang tahan hama dan penyakit serta perubahan iklim ekstrim.. Varietas tahan iklim ekstrim adalah varietas yang tahan terhadap paparan sinar Ultra Violet ( UV ) sinar matahari, serta tahan terhadap kadar garam, mengingat permukaan air laut yang semakin naik menuju daratan bersamaan dengan mencairnya es di kutub utara. Upaya yang kita lakukan dari sisi penggunaan benih dalam mengantisipasi perubahan iklim maupun kondisi pada setiap daerah di Indonesia berbeda. Varietas Padi Yang Tahan Terhadap Perubahan Iklim Ekstrim. Sejak musim kering 2009, Badan Litbang telah menyiapkan benih penjenis / dasar (BS) padi varietas unggul baru (VUB) agak tahan dan tahan kekeringan serta berumur agak genjah (kurang dari 100 hari) sebanyak 20,1 ton yang terdiri dari inhibrida padi irigasi ( inpari ) 1 (12,1 ton), silugonggo (4 ton), dan dodokan (4 ton). Benih tersebut disebarkan di 9 provinsi penghasil beras utama. Jika benih tersebut diperbanyak terus-menerus hingga menghasilkan ES (benih sebar), bisa mencukupi luas tanah sekitar 4,02 juta ha. VUB padi toleran kekeringan adalah towuti, gajah mungkur, silugonggo, kalimutu, jatiluhur, IR234-27, dodokan, jongkok, inpari 10, situ bagendit, dan situ patenggang. VUB padi umur genjah adalah silugonggo, dodokan, inpari 10, situ bagendit, dan mekongga. Beberapa varietas padi baru yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut antara lain : Inpara (toleran terhadap rendaman), Inpago (tahan kekeringan), dan Inpari (tahan serangan hama tanaman). Penamaan VUB untuk ekosistem sawah irigasi memakai Inpari (Inhibrida padi irigasi), Inpara (Inhibrida padi rawa), dan Inpago (Inhibrida padi gogo). Inpari 11, 12, dan 13 merupakan varietas terbaru yang telah dilepas oleh Balai Besar Padi tahun 2009. Ketiga VUB ini memiliki keunggulan yaitu produktivitas lebih tinggi dari IR 64 dan diharapkan dapat mengganti varietas Silugonggo dan Dodokan sebagai varietas berumur genjah. Disamping itu, dapat juga dilakukan dengan menanam varietas unggul padi gogo yang tahan terhadap kekeringan seperti varietas unggul padi gogo IR 79971-B-191-B-B dan IR 79771-B-227-B-B hasil pengembangan Dr. Enung Mulyaningshih, M. Si dari Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI . Galur padi gogo temuan LIPI ini rata-rata mampu menghasilkan gabah sebanyak 8,4 ton per hektar. Hasil ini jauh lebih baik dibandingkan varietas unggul sebelumnya yakni Situ Patenggang dan Batutegi. Selain itu, kedua galur padi gogo LIPI juga toleran terhadap kekeringan, penyakit blas (penyakit yang diakibatkan cendawan) dan keracunan alumunium. Sampai dengan saat ini memang petani masih enggan menanam padi gogo karena produktivitasnya dan harga jual yang rendah. Ditambah lagi, padi gogo memiliki rasa yang kurang enak. Dengan munculnya varietas unggul ini, diharapkan petani mulai beralih ke jenis padi gogo ini sehingga dapat meningkatkan produksi. Untuk daerah dengan genangan air, varietas yang tahan adalah inpari 30,31,32 dan 33. Padi baru ini memang dikhususkan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan, sebab perubahan iklim yang nyata, di satu sisi banyak daerah dilanda kekeringan dan di sisi lain ada juga daerah yang terkena genangan.Untuk areal sawah pada daerah yang termasuk daerah kering, bisa memanfaatkan varietas inpago yang dulu dikenal padi gogo. Sedang untuk daerah rawa bisa menggunakan varietas inpara. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Pusluhtan).Sumber:a. Sain.kompas.com. down load 10 Maret 2015b. Varietas Unggul Tahan Hama dan Penyakit Serta Tahan Terhadap Iklim Ekstra. Ketahanan Pagan Nasional., 19 April 2013.c. www.pikiranrakyat.com