Loading...

MENGELOLA KOTORAN DAN URINE KAMBING

MENGELOLA KOTORAN DAN URINE KAMBING
Pengelolaan yang baik terhadap kototran dan urine kambing akan membuat kondisi kandang lebih bersih. Hal ini tentu saja akan berimbas pada kesehatan kambing yang tentunya menjadi lebih baik. Secara sanitasi lingkungan, pengelolaan limbah yang baik membuat ternak kambing tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia di sekitarnya. Pertanyaannya, bagaimana cara mengelola limbah kambing ?Bau kotoran selalu menjadi persoalan bila kambing dipelihara dipekarangan. Cara yang efektif untuk mengurangi bau kotoran itu adalah dengan mencampurkan probiotik ke dalam pakan kambing. Probiotik merupakan bakteri baik yang bersahabat dengan kehidupan. Probiotik menghasilkan enzim yang berfungsi memecah protein, karbohidrat structural (selulosa, hemiselulosa, dan lignin), serta lemak. Probiotik yng ditambahkan ke dalam pakan kmbing akan membuat pencernaan kambing menjadi lebih baik sehingga penyerapan nutrisi berjalan sempurna. Feses atau kotoran kambing hanya tinggal ampas, relative kering, dan tidak kerbau. Model kandang panggung, selain menghindari kambing dari kontak langsung dengan urine dan kotoran, juga memberikan kemudahan dalam pengelolaan limbah tersebut. Kotoran tertampung dengan baik di bawah panggung, sementara urine dialirkan ke suatu wadah penampungan, bisa berupa bak, drum, atau ember. Saat membersihkan kandang dengan disemprot air, saluran pembuangannya diarahkan agar jangan masuk ke bak penampungan urine. Kotoran dan urine dalam wadah penampungan bisa diambil beberapa hari sekali dan dipindahkan ketempat penyimpanan sementara sebelum diolah lebih lanjut. Kotoran dan Urine kambing bisa diolah menjadi kompos dan pupuk cair.Kompos. Untuk membuat kompos dari kotoran dan urine kambing, cara berikut bisa diperaktikkan. Bahan yang diperlukan antara lain 100 kg kotoran kambing, 20 liter urine kambing, dan mikroorganisme pengurai seperti EM 4 atau MOL (mikroorganisme lokal) buatan sendiri sebanyak 5 liter. Kotoran kambing, Urine, dan MOL diaduk hingga tercampur secara merata. Campuran bahan kompos tersebut kemudian ditutup rapat dengan plastic atau dimasukkan ke dalam komposter. Ketika suhu bahan kompos meningkat akibat aktivitas mikroorganisme pengurai, kebutuhan oksigennya juga meningkat. Untuk itu, bahan kompos perlu diaduk setiap tiga hari sekali agar mikroorganisme pengurai mendapat cukup oksigen. Pengadukan juga akan mengurai suhu pada bahan kompos karena udara panas hasil proses pengomposan keluar dan udara dingin dari lingkungan masuk.Biasanya kompos akan jadi atau matang setelah dua minggu. Pada saat tersebut, proses pengomposan dihentikan dengan membuka penutup bahan kompos. Kompos kemudian diangin-anginkan hingga suhunya menurun. Setelah itu, kompos siap digunakan untuk memupuk tanaman. Bila ingin jual, kompos bisa dikemas dengan plastic atau karung.Pupuk cair. Selain dicampur dengan kotoran untuk membuat kompos, urine kambing bisa diolah tersendiri menjadi pupuk cair. Bahan yang diperlukan antara lain 30 liter urine kambing , 1 liter MOL, dan 500 gram gula pasir yang telah dilarutkan dalam air.Cara pembuatannya adalah sebagai berikut: Urine kambing dimasukkan ke dalam drum atau wadah lainnya. Kemudian, larutan gula dan MOL dimasukkan pula ke drum, ditambahkan air secukupnya lalu diaduk secara merata. Drum kemudian ditutup rapat. Setelah 10 hari, pupuk cair tersebut sudah jadi. Pupuk cair kemudian dimasukkan ke dalam botol. Bila hendak digunakan, pupuk cair diencerkan terlebih dahulu kemudian disiramkan ke tanaman.Selain sebagai pupuk cair, urine kambing sering digunakan sebagai pestisida hayati. Urine kambing yang sudah diencerkan disemprotkan pada tanaman padi. Pengalaman petani menunjukkan bahwa tanaman padi yang disemprot dengan urine kambing tidak diserang hama wereng meski tanaman padi disekitarnya diserang hama tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya repelan atau zat penolak yang terkandung dalam urine kambing sehingga wereng tidak mau mendekat pada tanaman padi tersebut. Penyemprotan urine kambing memang tiak membunuh hama wereng, tetapi bila hama tersebut tidak menemukan tanaman inang sebagai sumber pakan, pasti akan mati dengan sendirinya. (Penulis : Suwarna) Sumber :Norbertus Kaleka dan Nur Kholis Haryadi (2013)," Kambing Perah", Yogyakarta, ARCITA.