Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat, sedikit banyak juga berpengaruh terhadap kegiatan budidaya bidang pertanian. Hal ini ditandai dengan mulai tumbuhnya permintaan masyarakat akan bahan pangan yang organik. Salah satu faktor penting untuk menghasilkan bahan pangan organik adalah dengan tidak mengunakan pestisida kimiawi untuk penangganan serangan hawa dan penyakit. Jadi bagaimana pengendalian hama dan penyakit untuk budidaya organik, salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut adalah dengan mengunakan Agens Hayati. Selanjutnya apa itu Agens Hayati. Agens Hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies, atau varietas dari semua jenis serangga, nematode, protozoa, cendawan, bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lain yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian OPT dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan lainnya (Permentan no 411 tahun 1995). Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) yang dikutip oleh Khairdin (2012) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini kemudian dilengkapi dengan definisi menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan dan patogen. Jenis-jenis jamur yang biasa digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit diantaranya : 1. Beauveria Bassiana, sp2. Spicaria, sp3. Paecylomiceus, sp4. Trichoderma, sp KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENGGUNAAN AGENS HAYATI Agens hayati memiliki kelebihan antara lain, 1. Selektif, artinya mikroba dalam agen hayati tidak akan menyerang organisme yang bermanfaat bagi tumbuhan karena agen hayati hanya akan menyerang hama penyakit sasaran.2. Sudah tersedia di alam. Sebenarnya secara alami agen hayati sudah tersedia di alam, namun karena penggunaan pestisida yang tidak sesuai menyebabkan keseimbangan ekosistem mulai goyah dan populasinya terganggu.3. Mampu mencari sasaran sendiri, karena agen hayati adalah makhluk hidup yang bersifat patogen bagi organisme pengganggu, maka agen hayati dapat secara alami menemukan hama dan penyakit sasarannya.4. Tidak ada efek samping.5. Relatif murah.6. Tidak menimbulkan resistensi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sasaran. Kekurangan agens hayati antara lain, 1. Bekerja secara lambat.2. Sulit diprediksi hasilnya, perkembangabiakkan agen hayati setelah diaplikasikan sangat tergantung dengan ekosistem. 3. Lebih optimal jika digunakan untuk preventif (pencegahan), kurang cocok digunakan untuk kuratif (penyembuhan penyakit). 4. Pada jenis hayati tertentu sulit dikembangkan secara massal. Agens Hayati dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu predator, parasitoid, patogen serangga dan agens antagonis serta kelompok lain yang disebut Agen PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) PREDATOR Predator adalah binatang yang memakan hama/ OPT untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berikut adalah contoh musuh alami dari golongan predator :1. Paedorus sp. atau dikenal dengan nama Tom-ket , merupakan predator dari hama kutu-kutuan, wereng, dan Myzus sp.2. Laba-laba sebagai pemangsa belalang dan hama tanaman yang lainnya seperti walang sangit dll.3. Belalang sembah merupakan predator yang pemangsa belalang dan hama tanaman yang lainnya seperti walang sangit, ulat, dan imago dari penggerek dll.4. Burung hantu Tyto alba adalah musuh alami dari tikus, sangat efektif mengendalikan populasi tikus. PARASITOID Serangga Parasitoid adalah serangga yang memarasit atau hidup dan berkembang dengan menumpang pada serangga lain (inang). Berdasarkan inangnya, parasitoid dibagi dalam 3 golongan yaitu: Parasitoid Telur, Parasitoid Larva, dan Parasitoid Imago.Parasitoid idiobion adalah parasit yang mencegah pertumbuhan inang setelah parasitisasi awal, dan khususnya ini melibatkan tahapan hidup inang yang tak bergerak (mis, telur atau kepompong), dan hampir tanpa pengecualian mereka tinggal di luar inang. Parasitoid koinobion memugkinkan inang terus berkembang dan sering tak membunuh atau mengambil makanan dari inang hingga menjadi kepompong ataupun dewasa; yang kemudian khasnya melibatkan hidup dalam inang bergerak. Tak umum bagi parasitoid sendiri bertindak sebagai inang untuk anak parasitoid lainnya. Yang terakhir ini umum disebut sebagai hiperparasit namun istilah ini agak membingungkan, karena inang dan parasitoid primer dibunuh. Istilah yang lebih baik adalah parasitoid sekunder, atau hiperparasitoid; yang sebagian besar diketahui termasuk ordo Hymenoptera. PATOGEN SERANGGA / ENTOMOPATOGENPatogen Serangga adalah jasad renik (mikroorganisme) yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama. Patogen serangga ada 3 yaitu jamur entomopatogen, bakteri entomopatogen dan virus. Jamur entomopatogen adalah jamur yang dapat hidup dan berkembang biak di dalam tubuh serangga. Cara kerja jamur ini sangat khas, spora yang awalnya menempel di tubuh serangga akan mengeluarkan semacam kecambah yang akan menembus dinding sel tubuh serangga, biasanya ini terjadi pada bagian tubuh seragga yang lunak seperti ruas-ruas tubuh serangga. Kemampuan ini dikarenakan jamur dapat memproduksi semacam enzim kitinase yang dapat melunakkan jaringan keras pada tubuh serangga. Kecambah yang sudah masuk akhirnya akan tumbuh dan berkembang secara pesat di dalam tubuh inangnya.Serangga yang terserang patogen akan turun aktifitasnya, tidak mau makan, tidak mau bergerak, lalu akhirnya mati. Searangga yang mati akan mengeluarkan benda semacam kapas berwarna putih, coklat, ataupun kehijauan tergantung jenis jamur yang menginfeksinya.Salah satu contoh jamur entomopatogen adalah Jamur Beauveria Basssiana. Beauveria bassiana secara alami terdapat di dalam tanah sebagai jamur saprofit. Pertumbuhan jamur di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi. Proses ini memakan waktu 3-5 hari sampai akhirnya serangga mati, bangkai yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai sumber spora untuk penyebaran sekunder jamur. Serangga juga dapat menyebarkan jamur melalui perkawinan. Berdasarkan penelitian, penggunaan jamur Beauveria Bassiana untuk mengendalikan hama sangat efektif, terbukti dari hasil uji laboratorium mampu mematikan hama sampai 85%, disamping itu penggunaan agens hayati sudah dilakukan diberbagai belahan Negara di dunia.Selain dari golongan jamur seperti diuraikan di atas, ada golongan bakteri yang juga menginfeksi serangga hama, salah satunya adalah Serratia marcescens atau dikenal juga dengan naman bakteri merah.Bakteri sangat efektif untuk mengendalikan hama ulat, belalang, dan serangga penggit pengunyah lainnya. Namun bakteri ini kurang efektif terhadap serangga dengan tipe mulut pencucuk penghisap. Cara kerja bakteri ini adalah menyerupai racun lambung, yaitu massa bakteri harus tertelan oleh serangga, setelah itu infeksi akan dimulai dari daerah pencernaan serangga. AGENS ANTAGONISAgen antagonis adalah jasad renik yang mengintervensi aktvitas pathogen penyebab penyakit tumbuhan baik fase parasitic maupun saprofitiknya.Beberapa alasan kenapa jamur tersebut bisa menjadi pilihan sebagai pengendali hayati yaitu: mempunyai kapasitas reproduksi yang tergolong tinggi, mempunyai siklus hidup yang pendek, dapat membentuk spora yang mampu bertahan lama di alam bahkan dalam kondisi ekstrim, relatif aman digunakan, mudah diproduksi, cocok dengan berbagai insektisida, dan kemungkinan menimbulkan resistensi hama sangat kecil.Salah satu jamur antagonis adalah Gliocladium sp, Trichoderma sp. yang digunakan untuk mengendalikan penyakit layu baik Fusarium (jamur) atau Xanthomonas sp dan Pseudomonas sp. (bakteri) dan bisa mengendalikan penyakit akar gada pada kubis dan akar putih pada tanaman perkebunan (kakao, karet, sawit, sengon, kopi, teh dan kina). Agen PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)Kelompok agen hayati PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria merupakan agen hayati yang berkemampuan menekan perkembangan hama dan penyakit dengan cara mengkolonisasi perakaran dan bersaing dalam hal penyerapan makanan. Contoh mikroorganisme yang tergolong kedalam agen PGPR diantaranya Pseudomonas sp dan Bacillus Laterosporus var BoDde.Demikian materi mengenai agens hayati semoga dapat bermanfaat. PUSTAKA1. https://www.sampulpertanian.com/2017/05/pengertian-agens-hayati-atau-agensia.html (Diakses pada tanggal 25 November 2018)2. http://www.bppjambi.info/newspopup.asp?id=695 (Diakses pada tanggal 25 November 2018) Ditulis oleh Akhmad Juni Arafat, SP (Penyuluh Pertanian BPP Tanjung Palas Utara)