Loading...

Mengenal Babadotan( Ageratum Conyzoides) Sebagai Tanaman Multiguna

Mengenal Babadotan( Ageratum Conyzoides)  Sebagai Tanaman Multiguna
Ageratum conyzoides Linn. merupakan tumbuhan dari famili Asteraceae. Tumbuhan ini di berbagai daerah di Indonesia memiliki nama yang berbeda antara lain di Jawa disebut babadotan, di Sumatera dikenal daun tombak, dan di Madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 - 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani. Namun di balik itu Ageratum dapat diguna-kan sebagai obat, pestisida dan herbisida, bahkan untuk pupuk dapat meningkatkan hasil produk-si tanaman. Di sisi yang lain Ageratum yang menunjukkan gejala lurik kekuningan dapat menjadi sumber penyakit bagi tanaman lain yang diusahakan di sekitar-nya. Ageratum telah digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Di India, Ageratum digunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan anti-lithik. Sedangkan di Brazil, pera-san/ekstrak tanaman ini sering dipakai untuk menangani kolik, flu dan demam, diare, rheumatik dan efektif mengobati luka bakar. Morfologi Daun ini banyak tumbuh di tempat terbuka atau agak terlindung hingga ketinggian 2100m dari permukaan laut. Helaian daun umumnya utuh, warna hijau sampai hijau tua atau hijau kelabu, berbentuk bulat telur panjang 3 cm sampai 4 cm, lebar 1 cm sampai 2,5 cm. Ujung daun runcing, pangkal daun tumpul pinggir daun bergerigi . Tangkai daun 0,5 cm sampai 3 cm. Tulang daun pada permukaan atas dan bahan berambut rapat, warna rambut keputih-putihan, tulang daun menyirip. Bau aromatic, khas lama-lama agak memualkan, rasa agak pahit, agak kelat ( Departemen Kesehatan RI,1989). Manfaat Babadotan Sebagai Obat Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilmiah sebagai obat anti-inflamasi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahwa ekstrak baba-dotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. Tak hanya daun ternyata akar tanaman ini pun berguna; menurut pakar dan Ketua Himpunan Pengobatan Tra-disional dan Akupunktur Indonesia, Prof. HM Hembing Wijayakusuma, akar babadotan dapat mengatasi disentri, diare atau panas, dengan cara merebus 30 gram akar Ageratum, dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat. Sebagai Biopestisida / Pestisida Nabati Dari tumbuhan ini telah berhasil diisolasi dua senyawa aktif yang diberi nama prococene I dan Prococene II atau 6,7 dimetoksi -2,2-dimetil-2H-kromen. Diduga senyawa ini terdapat secara meluas pada tumbuhan dari genus Ageratum sp, termasuk A. conyzoides ( Bower dalam Rukmiati K. Tjokronegoro, 1987) Senyawa prococene I dan Prococene II di kenal sebagai senyawa anti hormone juvenile, yaitu hormone yang diperlukan oleh serangga selama metarfosis dan reproduktif. Pemberian senyawa ini akan menyebabkan turunnya titer hormone juvenile sehingga menyebabkan terjadinya metamorfosis dini, dewasa yang steril, diapauses dan terganggunya produksi hormone. Bekerja sebagai racun kontak dan perut. Sebagai Herbisida Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Ageratum seringkali po-pulasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum diduga kuat mem-punyai allelopathy, suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil penelitian Xuan et al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 - 922), 2004; penggunaan daun Ageratum dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertumbuhan beberapa gulma pada pertanaman padi seperti Aeschynomene indica, Monochoria vaginalis, dan Echinochloa crusgalli var. Formo-sensis Ohwi. Kemampuan daun Ageratum sebagai allelopathy diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi. Sebagai Pupuk Organik Penggunaan daun tanaman ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen padi. Tanaman padi yang diperlakukan dengan daun Ageratum meningkat 22% lebih baik dibandingkan kontrol, dan 14% dibanding dengan penggunaan herbisida (Tabel 1). Hal tersebut diduga karena penambahan daun Ageratum meningkatkan kandungan nitrogen dalam tanah yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan padi. Melimpahnya tanaman ini yang seringkali hanya dianggap sebagai gulma barangkali dapat menjadi sumber pupuk kompos yang baik bagi tanaman, apalagi semakin mahalnya harga pupuk bagi petani. Tetapi dari berbagai manfaat yang didapat dari babadotan ternyata dari hasil penelitian diketahui bahwa Apabila diperhatikan dengan teliti, lebih dari 30% tanaman Ageratum menunjukkan gejala lurik kekuningan seperti terserang virus (Gambar 1). Sejak kapan Ageratum terserang virus, tak ada catatan sejarah yang pasti. Namun gejala virus tersebut dalam berbagai tulisan telah ditemukan sejak lama dan diduga sebagai sumber penyakit seperti pada tanaman tembakau, kapas, cabai, tomat, jarak pagar, dan lain-lain. Pada tahun 1995, Tan dkk berhasil mengidentifikasi virus dari Ageratum di Singapura sebagai spesies Begomovirus dan famili Geminiviri-dae, dan dinamakan Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516). Meluasnya serangan geminivirus khususnya dari spesies Begomovirus pada beberapa tanaman yang dibudidayakan juga memerlukan perhatian untuk meneliti keberadaan virus pada gulma termasuk Ageratum yang kemungkinan akan menjadi sumber inokulum. Saat ini beberapa spesies Begomovirus telah teridentifikasi dari Ageratum di Cina (Ageratum yellow vein China virus-[Hn2]; AYVCNV-[Hn2], AJ495813), Taiwan Ageratum yellow vein Taiwan virus; AYVTWV, AF30786), dan Sri Lanka Ageratum yellow vein Sri Lanka virus; AYVSLV, AF314144). Di Indonesia keberadaan virus pada Ageratum sudah diketahui sejak lama, namun keberadaan tentang jenis virus tersebut masih kurang diperhatikan. Hasil identifikasi Gemini virus pada Ageratum asal Bandung, Purwokerto, Yogyakarta dan Malang telah terdaftar di Gene Bank (http://www.ddbj.nig.ac.jp/Wel come-e.html)(AgPur-2, AB189851; AgBadI-1, AB189852; AgMal-4, AB18953; AgMag-2, AB189854; AgBadII-2, AB189913).  Penelitian geminivirus pada tanaman tomat asal Indonesia yang dilakukan oleh peneliti dari universitas Tohoku, Jepang yang dipimpin oleh Prof. Ikegami Masato, ternyata spesies geminivirus yang sama pada Ageratum ditemukan juga pada tanaman tomat (Journal of Phytopathology 2005, 153 : 562 - 566, Lebih lanjut Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang berasal dari tanaman cabai juga ditemukan pada tanaman Ageratum (Plant Disease. Volume 91 No. 9. 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman Ageratum yang bergejala virus dapat menjadi sumber penyakit untuk tanaman tomat dan cabai yang telah banyak menimbulkan kerugian akibat serangan geminivirus.( Sukamto , Warta Puslitbangbun Vol.13 No.3,Desember 2007 Kesimpulan Babadotan (Ageratum conyzoides ) merupakan tanaman yang sangat potensial untuk dikembangkan, perlu penyebaran informasi lebih lanjut untuk mengenalkan manfaat / kegunaan dari babadotan ini , sehingga tanaman yang masih dianggap sebagai gulma ini dapat dimanfaatkan oleh petani secara maksimal dengan harapan dapat menekan biaya produksi ( sbg Pestisida , Herbisida & Pupuk kompos ) karena penggunaanya mudah dan keberadaan babadotan yang melimpah di alam. Tetapi perlu diperhatikan juga, bila terdapat babadotan dengan warna daun lurik kekuningan, karena dikhawatirkan sebagai pembawa virus yang dapat menyebabkan sumber penyakit pada tanaman budidaya khususnya tomat dan cabe. DAFTAR PUSTAKA Balai Penelitian Tanaman Obat Dan Aromatik (Balitro),2009 Departemen Kesehatan RI, 1989 Hembing Wijayakusuma, 1994, Jakarta Sukamto , Warta Puslitbangbun Vol.13 No.3,Desember 2007 Rukmiati K. Tjokronegoro , 1987. Studi Kimia Senyawa –senyawa Bioaktif Asal Tumbuhan di Indonesia . Desertasi UNPAD ( Tidak dipublikasikan). Bandung