Mengenal Budidaya Magot sebagai Pengembangan BUMDES Desa Wargakerta Kecamatan Sukarame Mendengar kata belatung pasti membuat bergidik geli karena identik dengan sesuatu yang busuk. Namun, belatung bernama maggot ini berbeda karena mampu memberikan nilai ekonomis. Magot merupakan tahap larva dari serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan istilah black soldier fly (BSF). Sebelum nama magot diperkenalkan, masyarakat menyebut larva serangga itu “belatung” atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah maggot. Namun demikian, terkait dengan persepsi terhadap belatung cenderung negatif, maka dibedakan antara larva BSF dengan larva housefly (lalat rumah). Secara fungsional, kedua larva ini memiliki peran yang jauh berbeda. Belatung berperan sebagai vektor penyakit, sedangkan magot memiliki peran sebagai agen perombak organik dalam waktu yang relatif singkat sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah Binatang yang punya citra buruk karena dianggap bisa menyebarkan penyakit ini bisa menjadi sangat bermanfaat. Aditya Abdilah Manager BUMDES Desa Wargakerta Kecamatan Sukarame, bercerita, sampah-sampah dari rumah warga desa Wargakerta yang telah sampai di Unit Pengolahan Sampah (UPS) awalnya dipilah berdasarkan kategorinya masing-masing. Sampah organik yang telah dipisahkan ini kemudian dijadikan makanan magot. Magot sangat rakus dalam memangsa sampah organik ini. Apapun dimakan tanpa sisa, mulai dari sampah buah sampai tulang ayam. Sampah, khususnya sampah organik jika dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai ekonomis. Namun sayangnya, masih banyak orang yang enggan melakukannya. Padahal ada cara mudah untuk melakukan hal itu. Dengan memanfaatkan magot atau belatung lalat Black Soldier Flies contohnya. Aditya Abdilah mulai melakukan budi daya magot sejak 3 tahun lalu. Namun demikian ia mengaku, usaha yang dirintisnya masih dalam skala kecil. Tetapi meski demikian, Aditya Abdilah mengaku sudah bisa merasakan keuntungan mengurai sampah dengan bantuan magot hasil budidayanya. Berikut beberapa kelebihan memanfaatkan magot dalam mengelola sampah. Pengurai sampah Magot atau larva atau belatung yang dihasilkan dari telur lalat hitam (BSF) sangat aktif memakan sampah organik. Sampah rumah tangga seperti sayur, buah dan lainnya bisa sangat cepat diurai menjadi pupuk. Tidak Berbau Sampah organik yang membusuk akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Apalagi jika sampah tersebut jumlahnya banyak. Untuk mencegahnya kita bisa meminta pertolongan magot. Setelah sampah rumah tangga kita pilah, sampah organik bisa langsung kita berikan kepada magot-magot yang rakus. Dan hebatnya, sampah organik yang langsung dimakan magot tersebut tidak sempat menimbulkan bau tidak sedap. Menghasilkan Pupuk Magot yang makan sampah organik tersebut akan mengeluarkan kotoran. Nah kotoran ini sangat baik untuk dijadikan pupuk alami. Pupuk yang dihasilkan para magot ini bisa bernilai ekonomis tinggi. Magot sebagai alternatif pakan ternak Di tengah tingginya pakan ternak, magot adalah salah satu alternatif pakan ternak yang cukup murah. Magot mengandung protein yang cukup tinggi. Magot yang berwana kuning pucat itu bisa dipakai untuk pakan ikan. Biaya Murah Dibanding dengan mengolah sampah organik dengan teknologi, mengolah sampah dengan bantuan magot sangat murah. Kita hanya menyediakan kandang lalat hitam yang berasal dari kayu dan kain hitam, juga bak-bak untuk memelihara magot sehingga mereka mampu mengolah sampah menjadi pupuk organik. Budidaya maggot juga terbilang mudah dan sederhana. Dimulai dari pengumpulan sampah dapur yang diletakkan dalam wadah. Kemudian, telur-telur maggot disimpan di atas tumpukan sampah tersebut dan setelah dua hari telur-telur itu akan menetas menjadi belatung. Setelah menetas, belatung-belatung itu kemudian dibiarkan selama 14 hari untuk memakan sampah hingga belatung tersebut siap panen (untuk pakan) Sementara untuk pembibitan, belatung-belatung itu dibiarkan memakan sampah selama satu bulan hingga menjadi pupa. Pupa kemudian dimasukkan ke dalam kandang pembibitan hingga berubah menjadi lalat dan kembali bertelur, begitu siklusnya. Pupa yang siap menetas dijual Rp150.000 per kilogram, sementara telurnya dijual Rp. 6000 per kilo. Meski baru sebatas pengembangan, ke depan seluruh masyarakat Desa Wargakerta didorong untuk membudidayakan maggot. Terlebih, maggot terbukti mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga.