Perlindungan tanaman bertujuan untuk melindungi tanaman dari serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan ( OPT) dan meningkatkan kualitas serta kuantitas tanaman. Pengetahuan mengenai pencegahan jenis hama, penyakit yang sering menyerang tanaman jeruk merupakan strategi untuk mengoptimalkan produksi bunga jeruk dalam mutu yang diharapkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman jeruk sangatlah prioritas, ini disebabkan karena harapan tanaman tumbuh prima sehingga diharapan produk dapat maksimal. Mengantisipasi hal tersebut maka upaya perlindungan tanaman dilakukan berdasarkan prinsip Pengendalian Hama terpadu (PHT). Tidakan pengendalian preventif yang dikembangkan sebagai upaya menghindari terjadinya serangan OPT dengan cara budidaya tanaman sehat dan mengoptimalkan peran pengendalian secara alami. Tindakan responsif yang merupakan tindakan pengendalian jika populasi OPT berada pada tingkat diatas ambang ekonomi. Tindakan respontif yang diambil harus mengutamakan cara-cara yang ramah lingkungan, seperti cara mekanik, menggunkan agens hayati dan penggunaan pestisida sedapat mungkin dihindarkan. Tindakan preventif dikembangkan dan direncanakan sebelum tanam dan dalam pelaksanaannya diintegrasikan dalam sistem budidaya tanaman dan tindakan ini diambil berdasarkan pengamatan dilapang. Penting dalam PHT yaitu untuk melakukan pengendalian dan mengenal Organisme Pengganggu Tanaman yang menyerang, memahami gejala serangan OPT, memahami cara penyebaran dan faktor-faktor perkembangan orgsanisme pengganggu tanaman. Tujuan pengendalian OPT ini untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal, kepastian keberhasilan panen, mutu produk yang tinggi dan aman untuk dikomsumsi, serta diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologis. Bioekologi Secara umum kutu berukuran antara 1-6 mm, tubuh lunak, berbentuk seperti buah per, pergerakan rendah dan biasanya hidup secara berkoloni (bergerombol). Perkembangan optimal terjadi pada saat tanaman bertunas. Satu generasi berlangsung selama 6-8 hari pada suhu 250C dan 3 minggu pada suhu 150C. Secara visual, bentuk dan ukuran spesies-spesies kutu daun ini serupa. Perbedaan antara Kutu Daun Coklat dan Kutu Daun Hitam, terlihat pada pembuluh sayap bagian depan. Kutu Daun Hitam berwarna hitam dan tidak bercabang sedangkan pada Kutu Daun Coklat bercabang dan tubuh berwarna coklat. Bentuk kutu kadang-kadang bersayap, kadang-kadang tidak bersayap, seksual atau aseksual, menetap atau berpindah-pindah tempat. Pada daerah tropis yang perbedaan musimnya kurang tegas, kutu ini tinggal pada inangnya selama setahun sebagai betina-betina yang vivipar partenogenesis. Kutu dewasa biasanya berpindah tempat untuk menghasilkan kutu-kutu baru yang belum dewasa dan membentuk koloni baru. GejalaKutu Daun Coklat dan Kutu Daun Hitam Kutu daun ini menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga helaian daun menggulung. Koloni kutu ini berwarna hitam, coklat atau hijau kekuningan tergantung jenisnya. Kutu menghasilkan embun madu yang melapisi permukaan daun sehingga merangsang jamur tumbuh (embun jelaga).Di samping itu, kutu juga mengeluarkan toksin melalui air ludahnya sehingga timbul gejala kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun.Di antara kutu daun yang menyerang tanaman jeruk, kutu daun coklat dan hitam merupakan yang terpenting karena menularkan virus penyebab penyakit Tristeza. Pengendalian Monitoring diutamakan pada tunas-tunas muda. Pengendalian dilakukan apabila populasi hama ini dinilai bisa menghambat atau merusak pertumbuhan tunas. Sebagai penular penyakti, ambang kendali untuk kutu ini berkisar 25-30 ekor viruliverous. Di alam kutu ini dikendalikan oleh musuh-musuh alami dari famili Syrpidae, Coccinellidae, Chrysopidae. Secara kultur teknis, penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk dapat menghambat perkembangan populasi kutu. Untuk pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimethoate, Alfametrin, Abamektin dan Sipermetrin secara penyemprotan terbatas pada tunas-tunas yang terserang dan apabila serangan parah dapat dikendalikan dengan Imidaklopind yang diaplikasikan melalui saputan batang. Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Sumber gambar : Foto: Otto dan Lainnya