Untuk meningkatkan mutu dan mencegah berlanjutnya penurunan hasil akibat hama atau penyakit jeruk, pengetahuan mengenai hama dan penyakit jeruk penting yang menyebar di wilayah Indonesia dan cara pengendaliannya perlu diketahui. Pengendalian hama dan penyakit yang direkomendasikan ini berdasarkan pada prinsip pengelolaan hama dan penyakit terpadu sehingga diharapkan produk yang dihasilkan aman bagi konsumen, produsen maupun lingkungan hidupBioekologiThrips betina mampu bertelur 200-250 butir pada kondisi yang menguntungkan. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan pada jaringan daun muda, tangkai kuncup dan buah. Telur yang menetas menjadi nimfa thrips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman. Seiring dengan stadium perkembangannya warnanya berubah menjadi kuning kehijauan dengan ukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit menjadi instar kedua. Pada stadium ini thrips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung, biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Thrips instar kedua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktivitas makannya meningkat. Pada akhir instar ini, thrips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan jerami di bawah kanopi tanaman. Pada stadium pre-pupa maupun pupa, ukuran thrips relatif lebih pendek dan mulai muncul 2 pasang sayap dan antena, warna masih tetap kuning atau kehijauan, aktivitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap tumbuh lebih panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran thrips betina berkisar 0,7-0,9 mm, thrips jantan lebih pendek. Dalam 1 tahun terdapat 8-12 generasi. Pada musim kemarau, perkembangan telur sampai dewasa berlangsung 13-15 hari dan lama hidup thrips dewasa berkisar 15-20 hari. Thrips berkembang sangat cepat bila suhu di sekitar tanaman meningkat.Pengendalian hama dan penyakit tanaman jeruk sangatlah prioritas, ini disebabkan karena harapan tanaman tumbuh prima sehingga diharapan produk dapat maksimal. Mengantisipasi hal tersebut maka upaya perlindungan tanaman dilakukan berdasarkan prinsip Pengendalian Hama terpadu (PHT). Tidakan pengendalian preventif yang dikembangkan sebagai upaya menghindari terjadinya serangan OPT dengan cara budidaya tanaman sehat dan mengoptimalkan peran pengendalian secara alami. Tindakan responsif yang merupakan tindakan pengendalian jika populasi OPT berada pada tingkat diatas ambang ekonomi. Tindakan respontif yang diambil harus mengutamakan cara-cara yang ramah lingkungan, seperti cara mekanik, menggunkan agens hayati dan penggunaan pestisida sedapat mungkin dihindarkan. Tindakan preventif dikembangkan dan direncanakan sebelum tanam dan dalam pelaksanaannya diintegrasikan dalam sistem budidaya tanaman dan tindakan ini diambil berdasarkan pengamatan dilapang. GejalaThrips menyerang bagian tangkai dan daun muda mengakibatkan helai daun menebal, kedua sisi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Serangan pada buah mulai terjadi pada fase bunga dan ketika buah masih sangat muda, yang meninggalkan bekas luka berwarna coklat keabu-abuan disertai dengan garis nekrotis di sekeliling luka, tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai atau melingkar pada sekeliling kulit buah. Kerusakan serangan hama ini dapat menurunkan kualitas sebesar 30-60%.Pengendalian Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah pada saat tanaman berbunga sampai berbuah hingga buah berumur 2-3 bulan. Pada saat tanaman bertunas, pemantauan juga dilakukan pada daun muda dan tangkai daun. Bila suhu di sekitar pertanaman meningkat, maka perkembangan populasi thrips semakin meningkat. Pengendalian dilakukan dengan menjaga lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga sinar matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk. Hindari penggunaan mulsa jerami yang dapat digunakan untuk tempat bertelur. Pengendalian serangga pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim kemarau cukup berhasil. Secara kimia thrips dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif Alfametrin/AlfasipermetrinDitulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah SubtropikaSumber gambar : Foto: Otto dkk