E R N I , SP (Penyuluh Pertanian Kota Makassar) Bahan pokok yang kerap membuat geger masyarakat saat harganya melejit salah satunya adalah cabai, pada saat naik harga komoditas ini bisa mengalahkan harga daging di pasaran. Walaupun harga beberapa komoditas sayuran ikut naik, tetapi kenaikan harga cabai terbilang sangat ekstrem. Situasi ini sangat berdampak bagi masyarakat mengingat sebagian besar rakyat negeri ini sangat terbiasa mengonsumsi cabai dalam menu sehari-hari. Tak ada cabai ibaratnya sayur tanpa garam. Secara keseluruhan, konsumsi cabai per kapita per orang di Indonesia sekitar 500 gram per tahun. Angka ini sebenarnya dapat dipenuhi secara mandiri oleh keluarga dengan cara menanam sendiri cabai di pekarangan rumah. Apabila satu tanaman cabai rawit menghasilkan paling sedikit 300 gram selama masa hidupnya artinya jika di rumah ada delapan tanaman cabai rawit, maka kebutuhan cabai bagi empat anggota keluarga dapat dipenuhi sendiri dari pekarangan atau lahan terbatas. Kementrian Pertanian menggalakkan program menanam cabai baik di lahan hamparan maupun di lahan pekarangan menggunakan polibag. Berikut keuntungan menanam cabai di pekarangan rumah : Mengurangi ketergantungan terhadap cabai di pasaran. Ketika harga cabai melonjak anda tidak perlu panic sebab kebutuhan terhadap komoditas ini sudah terpenuhi dari pekarangan rumah. Cabai memiliki rentang wilayah tumbuh yang luas, dari dataran rendah hingga dataran tinggi Teknis bertanam cabai tergolong mudah dan sederhana Model bertanam yang digunakan dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Jadi, lahan pekarangan terbatas bukan Tanaman cabai yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan sebagai penghias rumah Bertanaman cabai di pekarangan dapat menjadi sebuah terapi alami pelepas stress. Apalagi bagi mereka yang hobi berkebun. Dalam skala komersial, tanaman cabai tergolong tanaman sayuran yang pada waktu-waktu tertentu perawatannya menggunakan pestisida kimia dalam frekuensi yang tinggi. Dengan menanam sendiri di rumah, anda bisa menghasilkan cabai yang aman dari residu pestisida kimia sehingga lebih aman dikonsumsi sehari-hari, Sebenarnya cabai tergolong tanaman yang “bandel”. Buktinya, kita kadang-kadang mendapati tanaman cabai tumbuh di salah satu sudut rumah, meski kita tidak pernah menanamnya. Mungkin ada biji cabai yang jatuh tak sengaja dan akhirnya tumbuh di tempat tersebut. artinya kadang-kadang tanpa dipelihara pun cabai bisa dinikmati hasilnya, apalagi kalau dirawat dengan baik. Meskipun demikian tanaman Cabai bagaikan oase bagi hama. Akar, daun, bunga sampai buah semua punya penggemar sendiri. Serangan hama bisa fatal lantaran kerap diikuti infeksi sekunder oleh cendawan ataupun bakteri. Pada tulisan kali ini membahas khusus hama penyebab keriting daun pada tanaman cabai. Thrips termasuk hama polifag artinya bisa menyerang semua jenis tanaman. Pada cabai hama itu menyerang daun, terutama daun muda, tunas bunga, bunga, dan buah. Daun terserang menjadi keriput dan mengeriting ke atas. Di sisi dalam daun yang mengeriting muncul lapisan tipis mengkilap bekas gigitan, lapisan itu menjadi kecokletan setelah terkena udara beberapa lama. Buah muda yang terserang rusak dan tidak beraturan bentuknya. Seringkali buah rontok sebelum sempat panen lantaran terserang penyakit sekunder oleh cendawan. Tumbuk halus 5 siung bawang putih, bawang merah, lengkuas, dan jahe. Rendam semalam dalam 10 L larutan detergen. Saring lalu semprotkan ke tanaman, gunakan semprotan dengan nosel halus untuk memperkecil butiran agar menjangkau lekukan sejauh mungkin. 1. Kutu Daun Aphids Aphis kerap digembalakan semut yang memperoleh imbalan cairan manis. Saat cuaca dingin, semut itu melindungi nimpa aphis muda dengan membawanya ke sarang mereka. Setelah cuaca membaik, semut mengembalikan mereka ke tanaman dan menikmati cairan manisnya. Aphis betina mampu menghasilkan keturunan tanpa kehadiran pejantan. Kutu persik kerabat dekat aphis biasa menyerang cabai pada umur 35-80 hari setelah tanam, kutu persik juga bisa menularkan virus mosaic Gemini sampai CMV. Hama ini lebih menyukai permukaan bawah daun muda dan batang muda menyebabkan daun melintir menggulung ke dalam dan mengeriting, daun tua menguning sampai rontok. Tubuh Aphis berisi cairan yang terbungkus kulit lunak, hanya perlu bahan yang bisa memeras cairan itu keluar untuk mengakhiri hidupnya, salah satu bahan yang bisa digunakan adalah tembakau Rendam segenggam tembakau dalam 5 L air detergen semalam. Saring lalu semprotkan ke tanaman, ulangi selang 3 hari jika kutu masih tampak. 2. Kutu kebul Bemisia Jenis kutu kebul juga mengisap cairan daun, selain mengisap juga menghasilkan getah lengket yang tertinggal di permukaan daun. Getah itulah yang mengundang serbuan penjarah lain seperti cendawan jelaga Capnodium spp. Pada serangan ringan, yellow trap efektif. Lantaran menjadi tempat bercokolnya telur dan nimfa, daun tua di tajuk bawah dipangkas untuk memutus siklus, menanam jagung sebagai inang bagi pemangsa alami kutu putih di tepi hamparan bisa menjadi pilihan. Kutu kebul tidak tahan rempah-rempah bersifat panas seperti jahe, buah cabai, atau lengkuas. Buat ramuan dari 5 gram cabai atau jahe atau lengkuas, rendam semalam dalam air detergen saring dan semprotkan ke tanaman cabai yang terserang. 3. Tungau Acaridae Tidak semua tungau merusak tanaman, beberapa spesies tungau dari ordo acarina banyak yang menjadi predator. Tungau yang menyerang cabai meninggalkan jejak titik titik kuning di bawah daun. Sepintas, daun tampak melintir dan melengkung ke bawah dengan helaian menyempit. Buah yang terserang permukaan kulitnya menjadi kotak-kotak seperti styrofoarm. Tungau juga menyebarkan virus. Tungau tidak tahan nikotin dari tembakau, untuk itu rendam segenggam tembakau, tumbukan lengkuas dan kapulaga dalam 5 L air detergen. Saring dan semprotkan dari bawah daun lantaran tungau bersembunyi di bawah ketiak daun Pencegahan sejak dini sebelum tanaman terserang lebih baik Pada dasarnya apabila lingkungan pertanaman seimbang, maka secara alami terdapat serangga yang mengendalikan hama kutu. Selain itu pertahanan dari tanaman cabai sendiri dimaksimalkan sehingga tidak mudah terserang hama maupun penyakit melalui pemberian pupuk organik cair atau pupuk kimiasecara rutin, tepat waktu dan jenisnya. Dimulai dari bibit yang sehat, mendapatkan sinar matahari yang cukup serta penyiraman rutin dilakukan. Penyemprotan jenis pestisida nabati seperti dijelaskan di atas maupun jenis pestisida nabati yang dijual di toko pertanian dilakukan sejak dini saat tingkat serangan masih rendah, mulai dari pembibitan sebelum pindah tanam. Jenis –jenis pestisida yang tersedia di toko pertanian di bawah ini dapat digunakan secara bergantian. SUMBER PUSTAKA Wahyudi & M.Topan “ Panen Cabai di Pekarangan Rumah” Jakarta agromedia Pustaka, 2011 Redaksi Trubus “ My Potenstial Business Cabai” PT Trubus Swadaya,