Loading...

Mengenal Hama Tanaman Cabai Dan Cara Pengendaliannya

Mengenal Hama Tanaman Cabai Dan Cara Pengendaliannya
PENDAHULUAN Cabai merupakan komoditas penting bagi masyarakat Indonesia dan harus tersedia setiap hari sebagai bahan utama konsumsi harian. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa tanpa cabai maka makan belum terasa nikmat. Bagi generasi milenial, kenikmatan cabai melalui sensasi pedas yang tercipta sulit tergantikan oleh komoditas lain. Sehingga kebutuhan akan cabai terus meningkat setiap tahunnya dan berbanding lurus dengan jumlah penduduk Indonesia. Petani yang sudah memiliki pengalaman bercocok tanam cabai beranggapan bahwa diperlukan kesabaran dan pengetahuan agar bisa memberikan hasil yang memuaskan. Terutama berkaitan dengan pengendalian hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai, yang hingga saat ini masih menjadi tantangan utama bagi petani cabai. Jika tidak dikenali dan ditanggulangi dengan baik maka petani akan merugi karena hasil panen cabai yang tidak sesuai dengan harapan. Untuk itu menjadi penting bagi petani untuk mengenal gejala serangan berbagai jenis hama serta melakukan pengendalian dengan prinsip Pengendalian Hama Secara Terpadu. Trips/ Kemreki (Thrips parvispinus) Cara hama trips menyerang tanaman cabai : Telur diletakkan dipermukaan bawah daun atau di jaringan tanaman Nimfa dan imago menggaruk & mengisap cairan daun. Serangga aktif pada senja dan malam hari. Gejala serangan : bagian bawah daun berwarna perak, keriput, mengeriting, dan melengkung ke atas. Menyerang tanaman sepanjang tahun terutama pada musim kemarau. Pengendalian : Penggunaan perangkap likat warna biru / putih, pemanfaatan musuh alami, penggunaan mulsa plastik, penggunaan tanaman perangkap caisin, dan penyemprotan insektisida berbahan aktif Abamektin, Alfa sipermetrin, Permetrin, Piraklofos dll. Aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika serangan sudah di atas ambang ekonomi dan dilakukan sesuai dosis anjuran Kutu daun persik(Myzus persicae) Cara kutu daun persik menyerang tanaman cabai : Nimfa dan imago menusuk dan mengisap cairan daun. Serangga aktif sepanjang hari. Gejala serangan : Daun keriput, terpuntir, berwarna kuning, pertumbuhan tanaman kerdil. Tanaman inang : Cabai, tomat, kentang, tembakau dan semangka Pengendalian : Sanitasi, penggunaan perangkap likat kuning, pemanfaatan musuh alami, dan penyemprotan insektisida berbahan aktif Abamektin, Alfa sipermetrin, Amitraz, Asefat dll. Aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika serangan sudah di atas ambang ekonomi dan dilakukan sesuai dosis anjuran. Ulat grayak(Spodoptera litura) Ciri dan cara ulat grayak menyerang tanaman cabai : Sayap ngengat bagian depan berwarna coklat keperakan, sayap belakang berwarna keputihan dengan bercak hitam Larva menggigit - mengunyah. Aktif malam hari. Gejala serangan : Daun bolong, tanaman gundul. Tanaman inang : Cabai, tomat, mentimun, semangka, kacang panjang, terung, dll. Pengendalian : Sanitasi lahan dengan membersihkan gulma dan pengolahan lahan, mengumpulkan larva / pupa dan memusnahkannya, pemanfaatan musuh alami. Penyemprotan pestisida berbahan aktif Abamektin, Alfa sipermetrin, Diazinon, Dimetoat dll. Aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika serangan sudah di atas ambang ekonomi dan dilakukan sesuai dosis anjuran Lalat buah(Bactrocera dorsalis) Cara lalat buah menyerang tanaman cabai : Larva menggigit & mengunyah. Serangga aktif sepanjang hari. Gejala serangan : Adanya lubang berupa titik hitam pada buah, buah busuk dan gugur. Tanaman inang : Cabai, belimbing, mangga, jambu, semangka dll. Pengendalian : Sanitasi, mengolah tanah secara intensif, penggunaan perangkap yang diberi antraktan/insektisida berbahan aktif metil eugenol, pemanfaatan musuh alami dan pembungkusan buah. Aplikasi pestisida merupakan alternatif terakhir jika serangan sudah di atas ambang ekonomi dan dilakukan sesuai dosis anjuran Penutup Dengan pengendalian hama secara terpadu, diharapkan tanaman akan menjadi sehat. Tanaman cabai yang sehat akan menghasilkan panen yang melimpah sehingga kesejahteraan petani cabai menjadi meningkat pula. Oleh : Siprianus Meni Eni, SST Penyuluh Pertanian Muda BPP Hobal WKPP Watugolok Desa Tubuk Rajan