Jenis Wereng hama tanaman padi salah satunya adalah Wereng Coklat Nilaparvata lugens (Stal). Wereng Coklat selain merusak tanaman secara langsung, juga merupakan hama penular penyakit virus kerdil hampa, kerdil rumput tipe I, dan kerdil rumput tipe II. Oleh karena itu, hama tersebut harus mendapat pehatian yang serius, karena merupakan hama utama di pertanaman padi.Karekteristik Wereng CoklatPada saat ini Wereng Coklat tersebar dari Aceh ke Maluku hingga Papua. Akibat serangan Wereng Coklat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Beberapa sifat istimewa dari Wereng Coklat sebagai hama padi sebagai berikut:1. Wereng Coklat merupakan hama r-strategik dengan ciri:a) Serangga kecil yang cepat menemukan habitatnya;b) Berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetensi; danc) Mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi.2. Pola perkembangan hama mengikuti jam biologi (biological clock) artinya wereng coklat dapat berkembang biak dan merusak tanaman padi disebabkan lingkungan cocok baik musim hujan maupun musim kemarau.3. Wereng coklat mampu melemahkan kerja insektisida yang dianggap ampuh sebelumnya.4. Wereng coklat juga merupakan hama latent dan dapat mentransfer virus kerdil hampa (VKH = ragged stunt) dan virus kerdil rumput (VKR = Grassy Stunt).5. Wereng coklat adalah serangga yang mempunyai plastisitas genetik tinggi, sehingga akan lebih mudah dan cepat membentuk biotipe baru. 6. Wereng coklat dipandang sebagai hama padi utama, karena wereng coklat merupakan serangga dengan genetik plastisitas yang tinggi sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan pada waktu yang relatif singkat.Biologi Wereng CoklatWereng coklat berkembangbiak secara seksual, masa prapeneluran 3-4 hari untuk brakhiptera (bersayap kecil), dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan berkelompok dalam pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi, telur diletakkan di ujung pelepah daun dan tulang daun. Jumlah telur yang diletakkan beragam, dalam satu kelompok antara 3-21 butir. Telur menetas antara 7-11 hari dengan rata-rata 9 hari.Metamorfosis wereng coklat sederhana atau bertingkat disebut heterometabola. Serangga muda yang menetas dari telur disebut nimfa. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa, yaitu:a. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng coklat dewasa, baik betina maupun jantan, mempunyai sayap depan dan sayap belakang normal. b. Bentuk kedua adalah brakhiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng coklat dewasa baik betina maupun jantan mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter. Umumnya wereng brakhiptera bertubuh lebih besar, mempunyai tungkai dan peletak telur lebih panjang.Perkembangan Populasi Wereng CoklatPada pertanaman padi, populasi wereng coklat terbentuk karena adanya kopulasi acak antara bentuk sayap, tetapi wereng yang datang pertama kali ke pertanaman adalah bentuk makropetra sebagai wereng imigran. Secara alami permulaan wereng datang di pertanaman yang sudah lilir, dan biasanya serangga datang pada dua minggu pertama setelah tanam, dan serangga tertarik pada tanaman padi berumur 10 � 20 hari setelah tanam.Biotipe Wereng CoklatBiotipe didefinisikan sebagai suatu populasi atau individu yang dibedakan dari populasi atau individu lain bukan karena sifat morfologi, tetapi didasarkan pada kemampuan adaptasi, perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya tarik untuk makan, dan meletakkan telur.Terjadinya biotipe disebabkan adanya ketidak seimbangnya genetik di dalam populasi wereng coklat yang akan merubah sifat keganasan wereng coklat, diantaranya dengan introduksi varietas tahan ke lapangan cenderung mempengaruhi terjadinya penyimpangan, seolah olah ada suatu seleksi populasi wereng coklat oleh varietas. Hasil seleksi akan meningkatkan arah dan kemampuan populasi serangga dalam menginfeksi populasi tanaman tertentu. Keadaan yang demikian disebut sebagai seleksi terarah (directional ion). Populasi serangga lama pada varietas lama akan mengalami seleksi terarah pada varietas baru yang menghasilkan populasi baru. Populasi baru ini sifatnya ada yang sama dengan biotipe yang telah ditetapkan, sehingga disebut biotipe asal, atau menyimpang dari biotipe asal yang telah ditetapkan menjadi biotipe baru atau tetap populasi bedasarkan kepada ekosistem setempat. Dengan adanya varietas dengan gen tahan tunggal (monogenik = vertikal resisten) akan menyebabkan hubungan gen untuk gen (gene for gene relationship = GGR) terhadap gen hamanya. Setiap gen mayor untuk ketahanan spesies inang berhubungan erat dengan gen untuk keganasan (virulensi) pada spesies hama. Reaksi tahan tanaman inang jika mempunyai gen virulen pada locus yang sesuai, maka tanaman inang akan rentan, hubungan gene for gene tersebut dikenal sebagai matching gene theory.Oleh karena itu terbukti wereng coklat yang terus menerus dipelihara pada suatu varietas mampu mematahkan ketahanan varietas dan menghilangkan daya seleksi varietas yang ditempati. Di lapangan dengan penanaman varietas padi yang mempunyai gen tahan tunggal secara terus menerus dapat mempercepat timbulnya biotipe baru, sehingga padi yang pada awal pelepasan tahan, dengan segera akan patah ketahanannya. Sehingga dalam pengendalian wereng coklat perlu adanya pergiliran varietas untuk menunda seleksi terarah. Pergiliran varietas adalah bagian dari pergiliran tanaman, tetapi dengan tanaman sejenis yang berbeda ketahanannya. (Wellyana Sitanggang) Daftar Pustaka:Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Padi Inovasi Teknologi Produksi 2009.